Nov 24, 2011

Revolusi "Jilid II" di Mesir Buat Pusing Obama dan Erdogan


Erdogan dan Obama (asbarez)
LEDAKAN protes massal di Lapangan Tahrir, Kairo, Mesir, sudah memasuki hari ketujuh sejak 18 November. Protes yang menuntut turunnya junta militer Mesir itu telah menempatkan Amerika Serikat dan Turki di ujung tanduk dilema.

Nov 22, 2011

Yerusalem, Antara Mitos dan Fakta



Yerusalem (tripadvisor)
Mitos: Orang Israel mendirikan Yerusalem 3.000 tahun lalu (sekitar 1.000 SM)
Fakta: Kaum Yebus (Kanaan—nenek moyang bangsa Palestina) sekitar 3.000 SM (atau 2.000 tahun sebelum keberadaan orang Israel) tinggal di wilayah yang disebut “Jebus”. Kemudian Yebus menjadi “Ur-Shalem”. Ur-Shalem (Yerusalem) adalah kata Kanaan yang berarti “rumah Salem”, kepala suku Yebus. Nama Shalem adalah bahasa Aramaik, yang kemudian disesuaikan ke dalam bahasa Arab dan Ibrani untuk menunjukkan makna ‘perdamaian’. (Lihat Karen Armstrong, Jerusalem: One City Three Faith, Ballantine Book, 1997.)

Nov 21, 2011

Kritis kepada Pangeran Saudi, Jurnalis AS Diskors


Turki al-Faisal al-Saud
KLUB jurnalis Amerika Serikat (AS) terkemuka, The National Press Club, kembali menunjukkan standa ganda. Pada 15 Nopember, klub itu menskors jurnalis Sam Husseini karena bertanya kritis kepada Pangeran Turki al-Faisal al-Saudi dari Arab Saudi.

Surat penskorsan, yang ditandatangani direktur eksekutif William McCarren, menuding Husseini telah melakukan “perbuatan atau bahasa tak pantas” dalam acara konferensi pers yang menghadirkan Pangeran Turki di “First Amendment Lounge”, Washington, D.C., Senin (15/11).

Ingin tahu bagaimana National Press Club mendefinisikan “perbuatan tak pantas”? Perhatikan transkrip kutipan tanya-jawab antara Husseini dan Turki berikut, sebagaimana dikutip dari blog pribadi Husseini.


Nov 18, 2011

Condi Rice Pernah Syok dengan Sikap Israel


Memoar Condi Rice
TERNYATA banyak pemimpin Barat tak menyukai politikus Israel. Beberapa waktu lalu, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy mengaku muak kepada PM Israel Benjamin Netanyahu. Kini, giliran mantan Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice yang mengaku pernah syok setelah mendengar pernyataan koleganya, mantan Menlu Israel Tzipi Livni.

Apa yang dikatakan Livni?

Dalam memoarnya, “No Higher Honor”, halaman 282, Condi Rice mengisahkan pertemuan dia dengan Livni. Saat itu, Livni mengatakan bahwa Israel tak akan menghormati Resolusi PBB 194. Resolusi itu mengamanatkan hak pulang pengungsi Palestina. Kata Livni, Israel tak akan patuh karena resolusi itu mengancam “kemurnian” etnis Yahudi di Israel.

Condi pun menulis (terjemahan bebas):
“…meskipun memahami argumen itu secara intelektual, saya merasa itu pembelaan kasar terhadap kemurnian etnis negara Israel ketika Tzipi mengatakannya. Itulah salah satu percakapan yang mengguncang perasaan saya sebagai orang Amerika. Bagaimanapun, prinsip dasar ‘orang Amerika’ menolak batasan etnis dan agama terhadap kewarganegaraan.” (jemala)

Quo Vadis Erdogan?


Erdogan (guardian)
SAMBUTLAH sang pemimpin baru dunia Islam, Recep Tayyip Erdogan! Ya, jutaan Muslim di seluruh dunia menyambut gembira kembalinya Turki ke identitas geopolitik alamiahnya.

Turki di bawah AKP pimpinan Erdogan meningkatkan hubungan dengan Iran, Suriah, dan Irak. Dalam pertemuan World Economic Forum 2009 di Davos, Swiss, Erdogan bahkan melakukan “walk out” setelah beradu mulut dengan Presiden Israel Shimon Peres soal agresi atas Gaza. Erdogan pun disambut bak pahlawan. Dunia Muslim berharap Turki muncul sebagai kekuatan baru untuk mengembalikan keseimbangan geopolitik di kawasan.

Namun kemudian, menyusul perkembangan “Musim Semi” Arab, langkah Erdogan terjebak dalam labirin kontradiksi. Di satu sisi, dia ingin tampil sebagai pemimpin moderat dunia Muslim. Tapi di sisi lain, hasrat melayani kepentingan Amerika Serikat masih amat besar.

Nov 11, 2011

Serdadu AS Bunuh Rakyat Afghan untuk Kesenangan


Serdadu AS berpose bersama jenazah  Gul Mudin
JEJAK berdarah militer Amerika Serikat (AS) di seantero planet makin panjang saja. The Guardian melaporkan, Jumat (11/11), juri pengadilan militer memutus Sersan Staff (setingkat sersan kepala) Calvin Gibbs bersalah atas lusinan dakwaan pembunuhan terhadap warga sipil Afghanistan di Kandahar sejak 2010.

Pengadilan juga sedang memproses 11 serdadu AS lain terkait kasus ini.

Gibbs, Komandan Peleton ke-3, Kompi Bravo, Batalion ke-2, Resimen Pertama Infantri dari Brigade Stryker ke-2 itu, mengubah pasukannya menjadi skuad pembunuh. Mereka menyebut diri mereka “Kill Team”.

Namun, itu bukan pembunuhan biasa. Mereka berfoto bersama korban. Mereka mengoleksi bagian tubuh korban sebagai tropi. Mereka membunuh demi kesenangan. Bagi mereka, rakyat Afghan hanya “binatang” buruan.

Nov 9, 2011

Lelucon Itu Bernama IAEA


Yukiya Amano (guardian)
BADAN Energi Atom Internasional IAEA merilis laporan terbaru tentang program nuklir Iran, Selasa (8/11). Laporan itu, katanya, bersifat rahasia. Namun sebelum rilis, bocorannya sudah ada di mana-mana. Tak ayal sensasi dan drama pun menyesaki media. Seiring sejalan dengan kegaduhan ancaman “serang Iran” dari "duet sehati" Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Kini, setelah laporan itu rilis, media tak lelah menebar sensasi. Tak terkecuali sebagian besar media di Indonesia (lihat disini dan di sini). Maklum saja, mereka cuma menulis ulang laporan media arus utama Barat.

Selalu ada kekeliruan utama dalam memandang laporan IAEA. Kesimpulan akhir IAEA selalu saja diabaikan. Padahal, itulah pernyataan terpenting dalam laporan tersebut.