Jun 30, 2009

AS mensuplai perusuh untuk 'Al Qaeda' di Irak

Wayne Madsen
(jurnalis investigatif; mantan pejabat intelijen U.S. Navy; mantan analis intelijen NSA)

Wayne Madsen Report (WMR)

WMR telah mempelajari dari sumber intelijen yang bertugas pada 2007 di Pangkalan Udara Tallil di Irak, yang juga dikenal sebagai Camp Adder oleh AD AS dan Pangkalan Udara Ali oleh AU AS, bahwa elemen-elemen intelijen AS mengimpor 'pasukan bayaran' Afghan ke Irak dalam rangka menyerang warga sipil Irak dan personil militer, serta pasukan koalisi, bahkan termasuk personil militer AS. Orang-orang Afghan ini direkrut dari elemen-elemen Taliban dan dibayar dalam melakukan "tugas" tersebut di Irak.

WMR telah mengetahui bahwa sekitar tahun 2007, polisi Irak menghentikan sebuah truk yang menggandeng trailer setinggi 40 kaki di atas jembatan Kerrada di Baghdad. Ketika polisi Irak memeriksa trailer tersebut, mereka dikejutkan dengan keberadaan sekitar 30 hingga 40 orang-orang Taliban dari Afghan. Mereka mengatakan bahwa mereka dibawa ke Irak oleh Amerika Serikat dan bertugas menimbulkan kekacauan di Irak, kebanyakan dari kekacauan itu dinisbatkan oleh komandan militer AS sebagai pekerjaan "Tanzim Qaidat Al-Jihad fi Bilad al-Rafidayn (Organisasi jihad di Negeri Dua Sungai) atau lebih dikenal dengan "Al Qaeda di Mesopotamia."

Polisi Irak diperintahkan oleh para komandan militer AS pada saat itu juga untuk mengizinkan para perusuh Afghan ini meninggalkan jembatan Kerrada tanpa gangguan lebih lanjut.

Krisis Iran karya Carlos Latuff

Jun 29, 2009

Kudeta di Honduras: Kudeta pertama Obama

by Eva Golinger

GlobalReseach

[Catatan: Pada 11:15 siang (Minggu, 28 Juni 2009), waktu Caracas, Presiden Honduras Manuel Zelaya berbicara langsung di Telesur dari San Jose, Kosta Rika. Dia telah memverifikasi sejumlah tentara memasuki kediamannya di pagi hari, menembakkan senjata dan mengancam untuk membunuh dia beserta keluarganya jika ia melawan kudeta tersebut. Dia dipaksa pergi bersama beberapa prajurit yang membawa dia ke bandara udara menerbangkan dia Kosta Rika. Dia telah meminta Pemerintah AS membuat pernyataan publik yang mengecam kudeta ini, jika tidak, ini akan menunjukkan keterlibatan mereka].

...Ini merupakan pagi yang menyesakkan, terutama bagi jutaan rakyat Honduras yang tengah mempersiapkan diri mereka untuk melaksanakan hak suci memberikan suara pada hari ini (Minggu, 28 Juni 2009) untuk pertama kalinya dalam sebuah referendum konsultatif mengenai masa depan pembentukan sebuah majelis konstitusi untuk mereformasi konstitusi. Diduga objek utama kontroversi pada hari ini adalah referendum itu sendiri, yang sejatinya tidak mengikat tetapi hanya sebuah jajak pendapat untuk menentukan apakah mayoritas warga Honduras menginginkan adanya suatu proses untuk mengubah konstitusi mereka.

Inisiatif seperti itu belum pernah terjadi di negara Amerika Tengah ini. Honduras memiliki sebuah konstitusi yang sangat terbatas, yang hanya memungkinkan partisipasi minimal dari masyarakat Honduras dalam proses politik. Konstitusi yang sekarang, yang ditulis pada 1982, era perang kotor pemerintah Reagan di Amerika Tengah, dirancang untuk memastikan orang-orang yang berkuasa, baik secara ekonomi maupun politik, akan tetap berkuasa dengan sedikit peran dari rakyat. Zelaya, dipilih pada November 2005 di atas platform Partai Liberal Honduras, telah mengusulkan agar jajak pendapat dilakukan untuk menentukan apakah mayoritas warga sepakat bahwa reformasi konstitusi diperlukan. Dia didukung oleh mayoritas serikat buruh dan gerakan sosial di negeri itu....[referendum ini ditentang oleh kekuatan konservatif dan nasionalis Honduras, termasuk kekuatan angkatan bersenjata di dalamnya--red.]

....Presiden Bolivia Evo Morales dan Venezuela Hugo Chávez telah membuat pernyataan publik pada hari Minggu pagi yang mengecam kudeta di Honduras dan menyerukan kepada komunitas internasional untuk bereaksi dan memastikan demokrasi dipulihkan serta presiden konstitusional dikembalikan ke posisinya. Terakhir pada Rabu 24 Juni, sebuah pertemuan luar biasa negara-negara anggota Bolivarian Alternative for Americas (ALBA), dimana Honduras adalah anggotanya, dilangsungkan di Venezuela untuk menyambut Ekuador, Antigua & Barbados, serta St Vincent sebagai anggota-anggotanya. Selama pertemuan, yang dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Honduras, Patricia Rodas, sebuah pernyataan dibacakan mendukung Presiden Zelaya dan mengecam setiap upaya untuk mengganggu mandatnya dan proses demokrasi di Honduras....

....Honduras adalah negara yang menjadi korban kediktatoran dan intervensi besar-besaran AS selama berabad-abad, termasuk beberapa invasi militer. Intervensi terakhir pemerintah AS di Honduras terjadi selama 1980-an, ketika pemerintahan Reagain mendanai pasukan-pasukan dan milisi-milisi pembunuh untuk mengeliminasi setiap potensi "ancaman komunis di Amerika Tengah". Pada saat itu, John Negroponte menjabat sebagai dubes AS di Honduras dan bertanggung jawab atas pendanaan dan pelatihan secara langsung pasukan pembunuh Honduras yang bertanggung jawab terhadap hilangnya dan terbunuh ribuan orang di seluruh negeri....

....Asisten Menlu AS, Phillip J. Crowley, menolak untuk memperjelas posisi pemerintah AS tentang adanya potensi kudeta terhadap Presiden Zelaya, dan malah mengeluarkan pernyataan yang lebih bermakna dukungan Washington untuk pihak oposisi....Juru bicara pemerintah AS menyatakan sebagai berikut, "Kami sangat prihatin dengan kebuntuan dalam dialog politik di antara politisi Honduras berkaitan dengan jajak pendapat yang diusulkan pada 28 Juni tentang reformasi konstitusional. Kami menghimbau semua pihak untuk mencari resolusi konsensus demokratis terhadap kebuntuan politik yang sesuai dengan konstitusi dan undang-undang Honduras yang konsisten dengan prinsip-prinsip Piagam Inter-American Democratic."

...sumber utama pendanaan di Honduras adalah USAID, yang menyediakan lebih dari US$ 50 juta per tahunnya untuk program "promosi demokrasi", yang pada umumnya mendukung LSM-LSM dan parpol-parpol yang disukai AS, seperti yang terjadi di Venezuela, Bolivia, dan negara-negara lain di kawasan. Pentagon juga mengelola pangkalan militer di Honduras di Soto Cano, yang dilengkapi dengan sekitar 500 pasukan dan sejumlah pesawat tempur serta helikopter.

Menlu Rodas menyatakan bahwa dia telah berulang kali mencoba melakukan kontak dengan Dubes AS di Honduras, Hugo Llorens, yang belum merespon setiap panggilannya sampai sekarang. Modus operandinya jelas menunjukkan keterlibatan Washington. Baik militer Honduras, yang mayoritas dilatih oleh pasukan AS, maupun elit politik dan ekonomi, tidak akan bertindak menggulingkan seorang presiden yang terpilih secara demokratis tanpa dukungan dari pemerintah AS. Presiden Zelaya akhir-akhir ini terus diserang oleh kekuatan-kekuatan konservatif Honduras karena hubungan yang berkembang dengan negara-negara ALBA, dan terutama Venezuela serta Presiden Chavez. Banyak yang percaya tindakan ini telah dijalankan sebagai metode untuk memastikan bahwa Honduras tidak terus bersatu dengan negara-negara sosialis di Amerika Latin.

Arash Hejazi, sang dokter di video Neda Agha Soultan

Berikut ini adalah kutipan kisah dari The Connecticut Post Online tentang Arash Hejazi, dokter yang mencoba menolong Neda Agha-Soultani, gadis muda Iran yang tewas tertembak di Tehran. Hejazi kemudian menyebarkan video tersebut di internet, dan Neda pun menjadi "ikon protes melawan rezim Iran":

Seorang dokter Iran yang menyatakan mencoba untuk menyelamatkan Neda Agha Soltan, seorang pemrotes muda [comment: tunangannya justru mengatakan bahwa Neda tertembak di tempat dimana tidak ada bentrokan dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit] Iran yang mati bersimbah darah di jalan Teheran, mengatakan bahwa dia tampaknya ditembak oleh anggota milisi Basij pro-pemerintah Iran....

....Dr. Arash Hejazi mengatakan kepada British Broadcasting Corp bahwa ia adalah salah satu dari orang-orang yang mencoba menyelamatkan Neda.

Hejazi, yang saat ini sedang belajar di Inggris, mengatakan dia sedang mengunjungi teman-temannya di Teheran [comment: kapankah agen-agen M15-6 berlibur???] ketika ia mendengar Neda ambil bagian dalam protes dan pergi untuk melihatnya...

..."Kami mendengar suara tembakan. Neda berdiri satu meter dari saya. Saya berbalik dan Saya melihat darah memancar dari dada Neda," katanya. "Kami berlari ke arahnya dan meletakkannya di atas tanah. Saya melihat luka peluru tepat di bawah leher."

Hejazi mengatakan ia mencoba untuk menghentikan pendarahan, tetapi Neda segera meninggal.

Para pengunjuk rasa pertama berpikir bahwa tembakan datang dari bubungan atap terdekat, tetapi kemudian melihat seorang anggota milisi Basij bersenjata di atas sepeda motor [comment: ini penembak jitu atau pengendara sepeda motor, atau menembak secara jitu selagi mengendarai sepeda motor!!!], lalu menghentikannya dan mengambil senjatanya, kisah dokter itu.

Orang itu ternyata mengakui menembak Neda, dengan berteriak, "Saya tidak ingin membunuh dia," tetapi para pengunjuk rasa yang marah menyita kartu identitasnya dan mengambil foto dari orang itu (comment: where is the photograph???] sebelum membiarkannya pergi, kata Hejazi [comment: pilihan yang salah! Tangkap orang itu, ambil gambarnya, lalu sebarkan di media-media Barat dengan caption: Ahmadinejad pembunuh!!! Bagaimanapun, anggota Basij itu termasuk orang yang beruntung karena tidak dihakimi di tempat mengingat suasana massa yang sangat tidak rasional].

Hejazi, yang sekarang bekerja pada penerbitan [comment: Hejazi adalah penulis dan penerbit--profil yang menarik] yang ia dirikan, mengatakan dia tahu dia meletakkan dirinya dalam bahaya karena telah berbicara tentang apa yang terjadi dan ia mungkin tidak dapat kembali ke Iran [comment: tenang, anda akan hidup aman dan makmur di Inggris dengan perlindungan pemerintah Inggris dan buku tentang "Neda" yang akan laku keras!!! Dijamin!!!]

Jun 25, 2009

Obama: setiap nyawa adalah berharga?!

Barack Obama yang pilu dan marah kemarin mengecam tindakan pemerintah Iran dalam menangani aksi protes pendukung Mousavi. Kepedihan hatinya begitu dalam oleh setiap kematian dari orang-orang yang tewas dalam kerusuhan di Iran. Obama pun memperingatkan, "Kami ingatkan kepada pemerintah Iran, setiap nyawa adalah berharga." (saya bertaruh ini tidak termasuk 8 anggota Basij yang juga tewas!!!)

Tentu akan selalu ada pertanyaan, apa yang akan Obama katakan tentang mereka yang meregang nyawa di Irak dan Afghanistan? Atau 50 orang Pakistan (sebagian besar warga sipil) yang terbunuh baru-baru ini karena serangan pesawat tanpa awak AS (sejak 2006 rata-rata 38 orang setiap bulannya terbunuh di Pakistan akibat serangan pesawat tanpa awak AS)? Bagaimana Obama menjelaskan ini?

Obama mungkin tidak punya penjelasan, tapi George Orwell punya? Sastrawan-jurnalis yang memiliki pengaruh besar terhadap kesusastraan Inggris ini, dalam novel legendarisnya Animal Farm, mewariskan satu idiom Inggris terkenal yang bisa menjelaskan apa yang dikatakan Obama di atas: "all animals are equal, but some animals are more equal than others". Dengan idiom itu, Orwell ingin mengatakan secara satiris bahwa, kesetaraan eksis dalam teori dan retorika tapi tidak dalam praktik.

Dalam kasus Obama, kita bisa mengatakan, "all victims are equal, but some victims are more equal than others". Semua korban adalah sama (begitu kata Obama: setiap nyawa adalah berharga), tapi sebagian korban lebih memadai ketimbang yang lain.

Orwell pastinya bangga kepada Obama!

Jun 24, 2009

Israel protes Brazil gara-gara sepakbola

Sepakbola memang olahraga paling populer di kolong jagad ini. Kerap ia digunakan beberapa pihak (pemain, suporter, atau official tim) untuk mengekspresikan sebuah sikap politik. Tak jarang ekspresi itu menimbulkan kontroversi.

Tapi yang ini sedikit berbeda. Israel memprotes Brazil karena negara "superpower" sepakbola itu emoh menggelar pertandingan antara Flamengo melawan Corinthians, di Israel. Brazil justru lebih memilih Ramallah di Tepi Barat, Palestina, sebagai tempat duel persahabatan di antara dua klub ternamanya.

Yedioth Ahronoth, suratkabar Israel, melaporkan Giora Bachar, dubes Israel di Brasilia, telah menyampaikan nota protes kepada kementerian luar negeri Brazil terkait hal ini.

Dengan kedatangan mantan salah satu galacticos Real Madrid, Ronaldo, yang kini bermain sebagai penyerang Corinthians, dapat dipastikan pertandingan itu akan menyedot perhatian, bukan cuma warga Palestina tetapi juga warga Israel. Namun, dua klub itu sudah menyatakan secara jelas bahwa mereka tidak tertarik untuk bermain di Israel -- hanya di wilayah Otorita Palestina. (gracias Ronaldo!!!)

Iran jatuh ke dalam operasi psikologis AS

Paul Craig Roberts
(Mantan Asisten Menteri Keuangan AS pada masa pemerintahan Ronald Reagan)


Presiden Obama menyerukan kepada pemerintah Iran untuk membiarkan para pengunjuk rasa mengendalikan jalan-jalan di Teheran. Akankah Obama atau presiden AS mana pun membiarkan para pengunjuk rasa mengendalikan jalan-jalan di Washington, DC?

Ada bukti yang lebih objektif bahwa George W. Bush mencuri dua pemilunya daripada yang ada saat ini dari kecurangan pemilu di Iran. Tetapi tidak ada orkestrasi kampanye media untuk mendiskreditkan pemerintah AS.

Pada 16 Mei 2007, London Daily Telegraph melaporkan bahwa pejabat rezim Bush John Bolton mengatakan kepada Telegraph bahwa serangan militer AS ke Iran akan menjadi "pilihan terakhir setelah sanksi ekonomi dan upaya untuk membangkitkan sebuah revolusi populer gagal."

Kita sekarang menyaksikan di Teheran upaya AS untuk "mencoba membangkitkan sebuah revolusi populer" dalam jubah "revolusi warna" yang lagi-lagi diorkestrasikan oleh CIA.

Adalah mungkin perpecahan di antara para mullah sendiri yang diakibatkan ambisi-ambisi rival masing-masing akan membantu dan menghasut apa yang oleh Telegraph (27 Mei 2007) dilaporkan sebagai "rencana CIA untuk kamapanye propaganda dan disinformasi demi menciptakan destabilisasi, dan akhirnya merobohkan kekuasaan teokratis para mullah." Pastinya ini sebuah kenyataan bahwa pemuda-pemuda yang tersekulerisasi di Teheran telah jatuh ke dalam permainan CIA.

Protes Mousavi telah menyiapkan Iran, baik untuk pemerintah boneka AS atau serangan militer. Para mullah berada dalam situasi kalah-kalah. Bahkan jika mereka terus bersama dan menekan protes, legitimasi pemerintah Iran di mata dunia luar telah rusak. Pendekatan diplomatik Obama telah berakhir sebelum dimulai. Para Neocon dan Israel sudah menang.

...Klaim prematur Mousavi sebelum pemungutan suara selesai atau suara dihitung jelas merupakan gerakan mendahului (preemptive move), dengan tujuan mendiskreditkan hasil yang lain. Tidak ada alasan lain untuk membuat klaim seperti itu.

Dalam sistem pemilu Iran, kecurangan tidak memiliki tujuan, karena sekelompok kecil mullah memilih kandidat yang akan diletakkan di dalam surat suara. Jika mereka tidak menyukai seorang kandidat, mereka cukup tidak menempatkan kandidat itu di dalam surat suara.

Ketika pembaharu liberal seperti Khatami mencalonkan diri sebagai presiden, ia menang dengan 70% suara dan memerintah dari 1997-2005. Jika para mullah tidak mencurangi Khatami, rasanya tidak mungkin mereka akan mencurangi figur kemapanan seperti Mousavi, menteri luar negeri yang paling konservatif di pemerintahan, dan didukung oleh tokoh kemapanan lain, Rafsanjani.

Jika Mousavi dinilai sebagai "orangnya" Rafsanjani, maka kenapa "sulit dipercaya" bahwa Ahmadinejad mengungguli Mousavi dengan margin yang sama ketika ia mengalahkan Rafsanjani dalam pemilu sebelumnya?

.....Satu keajaiban mengapa para pemuda di dunia, yang tidak memprotes pemilu curang di tempat lain, justru menjadi sangat terobsesi dengan Iran.

Lemahnya Klaim Mousavi

Kaveh L. Afrasiabi
(Doktor ilmu politik di Tehran University dan Harvard University; Konsultan "Dialog Antar Peradaban" PBB)

Middle East Online

...Sayangnya, meskipun simpati alamiah (saya) untuk pendukung gerakan reformis di Iran, sebagai seseorang yang pernah bekerja sama secara dekat dengan mantan presiden Mohammad Khatami dalam "Dialog Antara Peradaban", saya cenderung menolak tuduhan Tuan Mir Hossein Mousavi tentang kecurangan dalam pemilu, karena ia tidak menghadirkan bukti yang kuat.

...berbicara tentang penyimpangan, pada 12 Juni pukul 11 malam, satu jam setelah penutupan TPS, Mousavi mengadakan konferensi pers dan menyatakan dirinya sebagai "pemenang yang pasti" seraya mengutip "informasi yang diterima dari seluruh negeri". Tentu saja, karena tidak ada satu pihak pun yang melakukan exit poll dan bahwa kubu Mousavi mengeluh soal gangguan pada komunikasi karena penghentian SMS dan sebagainya, (kubu Mousavi) mestinya memberi penjelasan mengapa kandidat mereka menyatakan dirinya sebagai pemenang secara prematur, sementara hasil dari KPU yang setiap beberapa jam bertambah di situs Kementerian Dalam Negeri malam itu, secara konsisten justru menempatkan Ahmadinejad berada di depan (seperti telah diprediksi berbagai jajak pendapat, termasuk salah satunya oleh lembaga berbasis di Washington, Terror-Free-Tomorrow)?

Apa yang tidak diragukan lagi, bagaimanapun, adalah bahwa keluhan resmi yang disampaikan Mousavi ke Dewan Garda lemah secara spesfik dan ditaburi dengan dugaan ketidakpantasan pra-pemilu, yang tidak membenarkan klaim liar Mousavi tentang pemilu yang curang. Sebuah dekonstruksi terhadap dokumen setebal dua halaman itu menunjukkan banyak kelemahan mendasar dari tuntutan Mousavi untuk mengulangi pemilu...

Item 1: Hal ini tidak berhubungan dengan proses pemungutan suara dan secara eksklusif berurusan dengan debat televisi serta pernyataan Ahmadinejad tentang kehormatan beberapa rezim (sebelumnya) sambil menuduh mereka dengan korupsi dan nepotisme;

Item 2: Sekali lagi, ini secara khusus berkaitan dengan isu-isu yang dimunculkan dalam debat, menuduh Ahmadinejad telah melecehkan Almarhum Ayatullah Khomeini dan membahayakan keamanan nasional karena mengungkapkan beberapa rahasia negara;

Item 3: keluhan bahwa beberapa saksi Mousavi dan calon-calon lainnya tidak diakreditasi oleh Departemen Dalam Negeri sehingga tidak dapat memantau pemungutan suara. Masalah ini pada dirinya sendiri tidak membuktikan adanya kecurangan, dan tidak ada di sini rujukan pada (fakta adanya) ribuan "pemantau independen" yang dipilih oleh para calon yang telah diakreditasi dan hadir di TPS-TPS di seluruh negara;

Item 4: tuduhan bahwa Departemen Dalam Negeri tidak menghitung secara manual semua suara lantas menyatakan hasilnya "sementara beberapa TPS masih menghitung suara." Hal ini tentunya menimbulkan suatu keprihatinan, tetapi kemudian kembali, sehubungan dengan fakta bahwa beberapa TPS itu berada di Teheran, dimana Mousavi mendapatkan suara mayoritas, maka kemungkinan adanya kecurangan menjadi tipis, terutama kecurangan besar yang melibatkan minimal 10 juta suara , yang memberi Ahmadinejad margin keunggulan atas Mousavi;

Item 5: klaim bahwa ratusan TPS kekurangan logistik pemilu dan dalam beberapa kasus terjadi "keterlambatan beberapa jam ." Hal ini lagi-lagi bukan merupakan bukti kecurangan dalam pemilu dengan tingkat partisipasi yang tinggi, sekitar 40 juta pemilih (85%). Counter klaimnya adalah bahwa banyak TPS memperpanjang jam buka untuk menampung antrian panjang dari para pemilih. Selain itu, ia menyatakan bahwa di beberapa tempat suara yang dihitung lebih tinggi dari pemilih terdaftar. Yang hilang dalam klaim ini adalah fakta bahwa di beberapa tempat itu, Mousavi justru menjadi pemenang -- ini tidak berarti bahwa kita sekarang harus menuduh Tuan Mousavi dengan kecurangan pemilu?

...Item 8: Di sini, keluhan Mousavi menuduh Ahmadinejad melanggar undang-undang yang melarang keterlibatan politik dari angkatan bersenjata dan basij. Ini tuduhan yang serius, tetapi tidak berhubungan dengan kecurangan pemilu. Selain itu, Mousavi sendiri melakukan kesalahan yang sama, mengingat fakta bahwa markas pemilihannya sendiri memiliki divisi untuk memobilisasi basij!

...kesimpulannya,
Mousavi harus menghormati kehendak mayoritas rakyat Iran yang kembali memilih Presiden Ahmadinejad, bukan dengan terus melanjutkan tuduhan-tuduhannya yang tidak berdasar...


Jun 23, 2009

Basij "si penjahat kejam"?

PERANG KATA-KATA

"Basij" adalah organisasi paramiliter yang didirikan oleh Ayatullah Khomeini. Basij disubordinasikan kepada "Pasdaran" (tentara Garda Revolusi Islam -- pasukan elit militer yang sangat kuat dan independen dari angkatan bersenjata Iran). Basij dulu digunakan dalam berbagai operasi militer selama perang Iran-Irak. Sekarang, Basij menjadi kekuatan pembantu dalam situasi-situasi darurat, dari mulai penanganan bencana hingga pengendalian hura-hara. Karena itu, mereka tidak diinginkan lawan-lawan rezim Iran.


Siapa pun yang kini terus mencermati berita-berita terbaru dari Iran pasti menyadari bahwa Basij hampir selalu digambarkan sebagai "Basij Thugs [si penjahat kejam]". Tetapi dari mana ide tentang Basij yang menjadi "Thugs" berasal?

Mari kita beranggapan, untuk kepentingan argumentasi, bahwa memang Basij hampir seluruhnya terdiri dari para penjahat kejam, penjahat-penjahat yang kotor, dan bahwa mereka menggunakan setiap kesempatan untuk memukul, menganiaya, dan menistakan orang-orang Iran yang tak bersalah. Kemudian, mari kita tanyakan pertanyaan-pertanyaan sederhana ini:

Jenis pengetahuan apa yang dimiliki oleh mereka di Barat yang menulis tentang "Basij Thugs" bahwa Basij memang "Thugs"? Izinkan saya mengulanginya, saya tidak sedang berargumentasi di sini bahwa Basij bukan penjahat-penjahat kejam, saya hanya bertanya dari mana orang-orang yang melemparkan kata-kata "Basij Thugs" itu mendapatkan informasi?

Pertanyaan saya adalah apakah mereka benar-benar secara serius melakukan penelitian untuk menetapkan karakter kejahatan dan kekejaman Basij sebelum mereka menggunakan kata-kata "Basij Thugs"?

Kenyataannya adalah bahwa seluruh konsep tentang "Basij Thugs" memiliki akar yang sama dengan, katakanlah, "Chetnik Serbia" atau "teroris Palestina". Walaupun niscaya ada Basij thug, Serbia Chetnik, dan Palestina teroris di luar sana, penggunaan istilah tersebut oleh orang-orang yang hanya memiliki pengetahuan kedua tentang Basij, Chetnik, atau Palestina adalah bentuk modern dari apa yang George Orwell katakan sebagai "kebencian 2 menit" -- mereka ada untuk memutus koneksi dari setiap pikiran rasional dan membuat analisis yang berdasarkan fakta dan yang didorong oleh logika menjadi mustahil.

Imperialisme selalu hati-hati dalam membingkai perdebatan dan memberi publik yang tertipu sasaran-sasaran yang teridentifikasikan demi penghinaan dan kebencian. Dalam kasus Iran, jutaan (dolar) yang diinvestasikan Abang Sam dalam kampanye operasi psikologisnya sekarang terbayarkan sudah.

PERANG FOTO

Sekarang mungkin kita semua telah melihat gambar yang dahsyat tentang seorang gadis muda tertembak di jalan-jalan Teheran. (Jika tidak, Anda dapat melihat gambar-gambar itu di sini). Video-video itu diberi judul "Shot by Basij" dan "Basij shoot to death a young woman". Berikut ini adalah teks yang disirkulasikan bersama video-video itu:


Pada 19:05 20 Juni
Tempat: Karekar Ave., Di sudut persimpangan Khosravi St dan Salehi St.
Seorang wanita muda yang sedang berdiri di samping ayahnya sambil menonton protes ditembak oleh anggota basij yang bersembunyi di sebuah bubungan atap rumah warga sipil. Dia mempunyai pandangan yang jelas ke arah gadis itu dan tidak mungkin meleset.
Namun, dia mengarahkan langsung ke jantung gadis itu. Saya seorang dokter, jadi saya bergegas mencoba menyelamatkan dia. Tetapi dampak tembakan itu sangat ganas dimana peluru meledak di dalam dada korban, dan dia meninggal dalam waktu kurang dari 2 menit. Protes sedang terjadi pada sekitar 1 km jauhnya di jalan raya dan beberapa kerumunan pemrotes berlarian menghindari gas air mata yang digunakan terhadap mereka, menuju Salehi
St.

Luar biasa, sejumlah pertanyaan sangat dasar tidak ditanyakan tentang penembakan ini:

1) "ditembak oleh" -- bukti macam apa yang didapat sehingga dikatakan tembakan berasal dari orang yang diidentifikasi sebagai penembak sementara teks yang sama mengatakan bahwa orang ini bersembunyi. Bukankah mungkin ada orang lain yang juga bersembunyi? Apakah ada bukti balistik yang mengidentifikasi orang di atap sebagai penembak?

2) "anggota Basij yang bersembunyi di bubungan atap". Bagaimana kita bisa tahu bahwa dia seorang Basij?! Entah apakah dia mengidentifikasi dirinya setelah penembakan? (tentu saja bukan sebelumnya, karena dia dikatakan "bersembunyi").

3)
"Dia tidak mungkin meleset". Menembak dari bubungan atap? Kira-kira berapa jaraknya dan senjata apa yang digunakan?


4) "Dia mengarahkan
langsung ke jantung". Wow! Wow! Bukan hanya dikabarkan kepada kita siapa yang menembak gadis itu, tapi kita bahkan tahu apa yang disasarnya. Sekarang bagaimana seseorang bisa mengetahui hal ini kecuali si penembak telah diwawancarai sebelum atau sesudah penembakan.

5) "Saya seorang dokter". Tunggu --dari semua ini timbul kesan bahwa si penulis teks ini bukan seorang dokter medis, tetapi ahli ilmu balistik.

Kita mungkin tidak akan pernah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada hari itu. Dan mungkin saja gadis itu ditembak oleh seorang anggota Basij. Tetapi kemudian, mungkin juga tidak. Bisa jadi ada penembak lain, bisa jadi peluru nyasar yang ditembakkan oleh seseorang dengan kemampuan menembak yang sangat dasar, atau bisa jadi ini insiden yang dengan hati-hati telah dirancang sedemikian rupa oleh penembak jitu untuk menciptakan citra yang membuktikan "barbarisme Basij yang dillepaskan oleh rezim mullah yang korup terhadap kebebasan yang menginspirasi anak-anak muda Iran".

Pada akhirnya, tidak ada seorang pun yang menanyakan sebuah pertanyaan kuno: Cui Bono? Siapa yang paling banyak diuntungkan (atau yang paling banyak dirugikan) oleh semua ini?

Jawaban terhadap pertanyaan itu dengan baik hati diberikan oleh Jewish Telegraphic Agency dalam artikel "Iran Turmoil likely to benefit Israel":

Seperti runtuhnya Uni Soviet hampir dua dekade lalu, kerusuhan pasca pemilu di Iran dapat menjadi kepentingan strategis utama bagi Timur Tengah dan Israel.

Analis-analis Israel melihat tiga skenario yang mungkin:

* Presiden Mahmoud Ahmadinejad dan para ayatullah berkuasa akan menggunakan kekuatan untuk mengembalikan kekuasaan rezim mereka.

* Rival utama Ahmadinejad, Mir Hossein Mousavi, akan bertahta dengan sokongan gelombang rakyat dan akan mereformasi apa yang masih tersisa dari rezim mullah.

* Kerusuhan yang sedang berlangsung akan berkembang secara dinamis dengan sendirinya, dan akan menjatuhkan para ayatullah dari kekuasaan.

Dalam setiap skenario, Israel akan mendapatkan manfaat.[VS]

Jun 22, 2009

"Revolusi Gucci" di Iran: Konspirasi AS-Israel?

Jika kita percaya bahwa unjuk rasa besar-besaran akhir-akhir ini di Tehran benar-benar murni dilakukan untuk memprotes "kecurangan pemilu", maka ada baiknya kita mencermati slogan-slogan yang digunakan para pemrotes:

Where is my vote? Tertulis dalam bahasa Inggris, para penggerak protes tampaknya sadar benar kepada siapa mereka hendak bicara: bukan pemerintah atau rakyat Iran tapi media Barat.

Death to the dictator, death to Ahmadinejad. Siapa pun rakyat Iran atau orang-orang Barat yang paham sedikit soal sistem kekuasaan di negara Persia itu tahu benar bahwa seorang presiden di Iran adalah figur publik dengan kekuasaan terbatas. Bahkan sang pemimpin tertinggi, Ayatullah Ali Khamenei, bukanlah seorang diktator: dia ditunjuk oleh sebuah lembaga negara yang juga memiliki wewenang untuk menggantinya.

Itu belum seberapa jika kita mengamati 7 tuntutan yang disebarluaskan lewat twitter: [1] singkirkan Khamenei dari posisi pemimpin tertinggi sebab dia tidak memenuhi kualifikasi keadilan; [2] singkirkan Ahmadinejad dari posisi presiden karena ia meraihnya secara ilegal; [3] angkat Ayatullah Hossein Ali Montazeri sebagai pemimpin tertinggi hingga sebuah komisi review untuk ghanooneh asasi (konstitusi) dibentuk; [4] sahkan Mir Hossein Mousavi sebagai presiden; [5] reformasi konstitusi; [6] bebaskan semua tahanan politik tanpa syarat; [7] bubarkan organisasi-organisasi rahasia seperti gasht ershad (polisi moral).

Bagaimana kita menjelaskan sebuah tuntutan yang pada mulanya berniat "mengoreksi ketidakwajaran pemilu" kemudian berubah menjadi tuntutan bagi penggantian pemimpin tertinggi serta perubahan konstitusi? Ataukah justru yang terakhir merupakan tujuan sesungguhnya dari hura-hara ini?

Sebelum memberikan jawaban atas pertanyaan di atas, ada baiknya pula kita mencermati beberapa hal fakta berikut:

Fakta pertama, ternyata apa yang dikomplainkan kubu Mousavi kepada 12 anggota Dewan Garda--seperti ditulis Kaveh L. Afrasiabi (mantan anggota tim negosiasi nuklir di bawah pemerintahan Khatami)--alih-alih akan menjelaskan kepada kita apa yang sebenarnya mereka maksudkan dengan "kecurangan pemilu, malah semata berkaitan dengan perilaku-perilaku pra-pemilu yang tidak menjurus kepada apa yang dituduhkan:
  1. klaim bahwa Ahmadinejad menggunakan fasilitas-fasilitas transportasi milik negara untuk berkampanye ke seluruh negeri bukan bukti adanya kecurangan pemilu. Hampir setiap kandidat incumbent di seluruh negara demokrasi juga melakukan hal yang sama, termasuk juga Mohammad Khatami, salah satu pendukung utama Mousavi.
  2. komplain bahwa Ahmadinejad memiliki akses yang tidak proporsional kepada media pemerintah. Ini mungkin kebiasaan buruk, bukan cuma di Iran tapi di banyak negara. Namun pada tahun inilah, pertama kali diadakan debat televisi sebanyak 6 kali dimana setiap kandidat, termasuk Mousavi, mendapatkan tempat di media pemerintah secara gratis untuk menyampaikan visi dan misinya (kesempatan istimewa yang tak akan diperoleh kandidat-kandidat minor presiden AS, seperti Ralph Nader atau Cynthia McKinney).
  3. keluhan tentang adanya sebuah bentuk kekurangan pemilu di beberapa tempat yang mengakibatkan "keterlambatan selama beberapa jam". Ini komplain yang lebih bermakna, tetapi sulit untuk menjurus kepada kecurangan, terutama ketika partisipasi pemilih mencatat rekor tertinggi sekitar 85% dari 46 juta pemilih yang memenuhi syarat.
  4. komplain bahwa di beberapa daerah jumlah suara yang dihitung lebih tinggi daripada jumlah pemilih terdaftar. Tetapi Mousavi abai untuk menyatakan bahwa di sebagian daerah itu, seperti Yazd, ia justru menerima suara yang lebih banyak daripada Ahmadinejad.
  5. komplain bahwa beberapa saksinya tidak diakreditasi oleh Departemen Dalam Negeri sehingga tidak dapat secara independen memonitor pemilu. Namun faktanya, beberapa ribu saksi yang mewakili berbagai kandidat telah diakreditasi dan di antaranya menyertakan ratusan mata dan telinga pendukung Mousavi. (well, tampaknya kubu Mousavi harus bekerja lebih keras daripada sekedar mengeluhkan "remeh-temeh" seperti untuk menuntut diulangnya pemilu).
Fakta pertama mengindikasikan kepada kita bahwa tudingan kecurangan pemilu cuma kuda troya yang ditunggangi oleh pihak-pihak tertentu untuk memaksakan agenda-agenda yang tersembunyi:

  1. menggunakan pemilu presiden untuk mempertahankan status quo elit-elit korup; apakah boneka mereka Mousavi dinyatakan sebagai pemenang, dan mereka bisa menggunakan posisinya untuk melanjutkan agenda-agenda mereka atau dia kalah dan mereka bisa berteriak tentang pemilu yang dicuri (opsi terakhir terlihat mudah karena faktanya di sebuah negara besar seperti Iran, beberapa ketidakwajaran akan selalu terjadi).
  2. menggunakan pemilu presiden, sebuah posisi dengan kekuasaan terbatas, guna memicu sebuah krisis yang memberi mereka kendali atas posisi yang lebih berkuasa, pemimpin tertinggi.
Mengingat tidak satu bukti kuat pun yang mereka miliki, maka cuma 2 cara yang mereka punya: [1] menggunakan Majelis Ahli untuk menyingkirkan Khamenei; atau [2] memicu pertumpahan darah yang akan dipersalahkan kepada pemerintahan.

Pertanyaan selanjutnya, adakah kubu Mousavi ini diinfiltrasi oleh kepentingan-kepentingan imperium AS-Israel? Fakta berikut akan menjawabnya:

Fakta kedua, jurnalis dan penulis neokonservatif Kenneth Timmerman menulis satu hari sebelum pemilu di Iran bahwa ada pembicaraan tentang "revolusi hijau" (hijau merujuk kepada warna kubu Mousavi) di Teheran. Bagaimana Timmerman tahu kecuali itu adalah sesuatu yang telah direncanakan? Mengapa harus ada "revolusi hijau" yang disiapkan sebelum pemilu, terutama jika Mousavi dan pendukungnya yakin akan kemenangan seperti yang mereka klaim? Ini pastinya terlihat seperti bukti bahwa AS terlibat dalam protes ini.

Timmerman lebih jauh menulis bahwa "The National Endowment for Democracy" telah mengeluarkan jutaan dolar untuk mempromosikan "revolusi warna" (istilah yang merujuk pada revolusi sokongan AS di berbagai negara Eropa Timur). . . Sebagian dari uang itu tampaknya jatuh ke tangan kelompok pro-Mousavi yang mempunyai hubungan dengan LSM-LSM di luar Iran yang didanai The National Endowment for Democracy (NED). LSM Timmerman sendiri, yakni Foundation for Democracy, adalah organisasi yang dibentuk pada 1995 dengan dana hibah dari NED, untuk mempromosikan demokrasi dan HAM standar internasional di Iran.

Jangan salah, meski pemerintah Obama berhaluan neoliberal tetapi arus "neokonservatisme" di pemerintahannya kini sangat jelas diwakili oleh Wapres Joe Biden dan Menlu Madam Clinton.

Lalu apa sasaran AS-Israel menunggangi kubu pro Mousavi. Mereka tidak ingin muluk-muluk. Mereka--setidaknya seperti dinyatakan Kepala Dinas Rahasia Israel (Mossad)-- tahu bahwa protes hari-hari ini tidak akan berlangsung lama; atau bahwa "revolusi" kaum Gucci tak akan mampu menjatuhkan Khamenei dan mengubah konstitusi Republik Islam.

Paul Craig Roberts, bekas asisten Menteri Keuangan AS pada era Ronald Reagan, menulis apa sejatinya tujuan AS dalam kisruh di Iran, "Sebagai orang yang telah melihat semuanya dari dalam pemerintah AS, saya percaya bahwa tujuan pemerintah AS memanipulasi (laporan-laporan) media...adalah untuk mendiskreditkan pemerintah Iran dengan menampilkan pemerintah Iran sebagai penindas rakyat Iran dan penghalang kehendak mereka. Inilah bagaimana pemerintah AS menyiapkan Iran untuk sebuah serangan militer. Dengan bantuan Moussavi, pemerintah AS menciptakan satu lagi "orang-orang tertindas", seperti rakyat Irak di bawah Saddam Hussein, yang membutuhkan Amerika untuk membebaskan mereka...."

Siapa pun yang tampil sebagai pemenang dalam pergulatan ini, AS dan Israel sudah menangguk untung: yakni citra bahwa Republik Islam Iran yang didirikan atas kehendak rakyat (melalui referendum) kini sudah tidak lagi merepresentasikan kehendak rakyat mereka.

Alhasil, di permukaan akan tampak bahwa AS-Israel lebih senang jika Ahmadinejad terpilih kembali. Namun, itu bukan karena Ahmadinejad adalah sasaran empuk untuk diserang dan didemonisasi tetapi karena mereka tahu kemenangan Ahamdinejad akan memicu krisis yang dipicu oleh "revolusi kaum Gucci" yang telah direncanakan.

Jun 18, 2009

Pergulatan Politik di Iran

Berikut ini adalah kutipan analisis dari seorang blogger yang menyebut dirinya Ya Baqiyatullah tentang situasi di Iran. Ia diklaim mempunyai akses ke lingkaran-lingkaran ulama di kota suci Qom, Iran. Terlepas dari persoalan apakah ia merupakan sumber informasi yang kredibel, apa yang dia tulis bisa dijadikan sebagai satu sisi rujukan mengenai apa yang terjadi di Iran hari-hari terakhir ini.


...Korupsi yang melingkari (Ali Akbar Hashemi) Rafsanjani sudah menjadi rahasia umum di kalangan publik Iran; baru saja pada tahun lalu seorang pejabat Kementerian Intelijen mengungkapkan kepada publik semua kasus korupsi melawan Rafsanjani. Respon dari Rafsanjani adalah penjara bagi si pejabat itu atas tuduhan tidak membayar tagihan. Tidak hanya itu, Dr. Hassan Abbasi yang dikenal sebagai analis strategis dan penasihat Pemimpin Tertinggi (Wali Faqih) memberikan pidato yang sangat keras beberapa tahun lalu mengungkapkan Rafsanjani dan imperium korupsinya dengan menyebutkan nama-nama. Pengaruh Rafsanjani menyebabkan Dr. Abbasi dipecat dari posisi dan ditahan.

Rafsanjani adalah orang yang mendanai kampanye (Mir Hossein) Mousavi dan banyak dari kebijakan yang ingin Mousavi terapkan menunjukkan keterlibatan langsung Rafsanjani di dalamnya. Misalnya, Mousavi ingin menghapus kekuasaan Basij dan Garda Revolusi dari Wilayatul Faqih dan memberikannya kepada gubernur-gubernur. Hal ini menunjukkan strategi yang jelas untuk mengasingkan Wilayatul Faqih dari kekuasaan apa pun dan memberikan landasan bagi Rafsanjani untuk menggunakan pengaruhnya di Basij dan membuat mereka setia kepadanya. Rafsanjani juga menyerukan reformasi sistem pemerintahan dari konsep seorang Pemimpin Tertinggi menjadi sebuah Dewan yang diciptakan untuk memerintah. Mengetahui dengan baik bahwa rakyat tidak akan memberikan suara untuknya agar menjadi Wilayatul Faqih berikutnya, ia mengambil kesempatan ini untuk memastikan posisinya solid.

Tanggung jawab atas terjadinya huru-hara setelah pilpres terletak pada bahu Rafsanjani. Ia memicu kejadian ini untuk mencapai salah satu dari dua hasil (yang dia harapkan) dari Wilayatul Faqih, Ali Khamenei: perhitungan ulang dilakukan dan Mousavi dinyatakan pemenang atau Ahmadinejad diperintahkan untuk menghentikan investigasi korupsi.

...Rafsanjani mengendalikan semua jaringan dan akan menggunakan setiap trik yang terdapat dalam buku untuk menyelamatkan dirinya. Putrinya telah meninggalkan Iran sebelum tuntutan atas pencucian uang, pemerasan, sejumlah dana ilegal kampanye dapat dilancarkan melawannya.

Sementara orang bertanya bagaimana Rafsanjani menjadi begitu kuat dan mengapa Khamenei tidak bertindak lebih awal? Jawabannya adalah cuma soal waktu. Menyingkirkannya dari kekuasaan lebih awal dapat benar-benar mendestabilisasi negara....karena semua posisi penting pemerintahan di bawah pengaruh dari elit-elit yang korup. Huru-hara sedang dilakukan oleh mereka yang ingin memasakkan lebih jauh agenda-agenda elit yang korup sementara kebanyakan rakyat melihat sebaliknya, dan oleh karena itu, mereka memilih presiden yang mereka tahu akan menumbangkan elit-elit yang korup.

...satu-satunya taktik yang mereka (media Barat) dapat terapkan adalah menimbulkan kebingungan dengan menyerang kubu konservatif....Pertama, laporan yang memfitnah Misbah Yazdi (ulama pendukung Ahmadinejad) telah mengeluarkan fatwa yang menghalalkan kecurangan (dalam pemilu)...(kedua) bahwa Kementerian Dalam Negeri telah memberi selamat kepada Mousavi karena memenangkan pilpres sebelum mereka kemudian berubah pikiran dan memilih untuk (menyatakan kemenangan) Ahmadinejad.

...Wilayatul Faqih Ayatullah Ali Khamenei akan berpidato di hadapan bangsa Iran pada salat Jumat di Teheran University. Banyak harapan bahwa pidato ini akan membawa perdamaian dan stabilitas...setelah huru-hara dan juga menandai akhir dari elit korup.

Kaidah Barat dalam menilai pemilu di negara-negara berkembang

Beberapa kaidah Barat dalam menilai pemilu di negara-negara berkembang:

  1. Bila calon-calon yang disukai menang, maka pemilu bebas dan adil. Dan apabila mereka kalah, maka tentunya pemilu tidak bebas dan dirampok.
  2. Protes keras terhadap pemilu, yang menghasilkan pemenang yang disukai Barat, akan sangat dikutuk dan para demonstran akan dinamakan teroris, hooligan, dan gerombolan pengacau keamanan (Bisakah anda bayangkan jika pendukung oposisi Lebanon melakukan protes terhadap hasil pemilihan di Lebanon?), sedangkan kekerasan dalam protes terhadap musuh Amerika Serikat ketika mereka memenangkan pemilu (seperti di Moldova) akan dipuja-puji (dan para demonstran dalam kasus ini disebut "aktivis demokrasi").
  3. Tidaklah bertentangan dengan prinsip pemilu yang bebas ketika Barat mengintervensi pemilu dan mendanai calon-calon melalui kelompok-kelompok Barat yang "mempromosikan demokrasi".
  4. Calon-calon (atau bahkan para diktator) yang melayani kepentingan Barat secara otomatis akan diberi label "kandidat reformis" (bahkan tiran Saudi pun disebut sebagai "berpikiran-reformis"), sementara calon yang menentang kepentingan ekonomi dan politik Barat akan berlabel "musuh reformasi".
  5. Calon-calon yang tidak menentang Israel dalam bahasa yang lugas selalu disukai.
  6. Pemantau-pemantau Barat akan selalu siap untuk menyatakan suatu pemilu tidak adil dan curang jika calon yang disukai kalah.
  7. Kandidat koruptor yang pro-AS lebih disukai daripada kandidat yang bersih (Kasus Mugabe dan Hamas).
  8. Nilai demokratis dari para diktator akan segera bertambah jika mereka mengubah kebijakan mereka terhadap AS dan jika mereka menyatakan keinginan untuk melayani kepentingan ekonomi dan politik AS.
  9. Negara-negara dimana para diktator melakukan pekerjaan yang baik dalam melayani kepentingan ekonomi dan politik AS tidak harus mengadakan pemilihan umum.
  10. Jika kandidat yang disukai tidak dapat menjamin kemenangan dalam pemilu (seperti Mahmoud "Abu Mazen" Abbas di Palestina yang mandatnya telah berakhir beberapa bulan lalu), mereka tidak perlu mengadakan pemilu dan akan diperlakukan seolah-olah mereka memenangkan pemilu.
  11. Tidaklah logis untuk mengasumsikan bahwa rakyat di negara-negara berkembang dapat bebas membuat pilihan yang tidak sesuai dengan kepentingan politik dan ekonomi AS.
  12. Pemilihan yang diadakan di wilayah jajahan Amerika dan Israel akan dianggap bebas dan adil jika calon-calon yang disukai menang.

Soal cepatnya perhitungan suara dalam pilpres Iran

Bagaimana bisa anda menghitung 40 juta suara dalam waktu secepat itu? Itulah pertanyaan yang banyak diangkat para analis internasional dalam kaitan dengan pilpres di Iran. "Ini mencurigakan," kata mereka. Hasil perhitungan suara dalam pilpres Iran sudah bisa diketahui sekitar 12 jam setelah pemilihan dilakukan di TPS-TPS.

Sebagaimana sudah pernah saya tulis sebelumnya, salah satu cara untuk meminimalisasi kecurangan dalam pemilu (electoral fraud) adalah dengan mempercepat proses perhitungan suara. Jika prosesnya memakan waktu yang lama, maka peluang-peluang kecurangan akan sangat terbuka.

Ada dua cara untuk melakukan itu: [1] memanfaatkan teknologi dalam sistem perhitungan suara; dan [2] menyederhanakan tahapan proes perhitungan suara. Di Indonesia, misalnya, kini sudah muncul wacana untuk menggunakan electronic voting dan menyerdehanakan tahapan rekapitulasi perhitungan suara dari TPS langsung ke KPUD Kota/Kabupaten dan KPU Pusat, tanpa melalui tingkat PPK di kecamatan dan KPUD Propinsi. Waktu 1 bulan yang ditempuh untuk menghitung suara dalam pileg di Indonesia dirasa sangat rawan akan praktik-praktik jual-beli suara di setiap levelnya.

Mari kita kembali ke pilpres Iran. Iran memang masih menggunakan format surat suara berbasiskan kertas. Namun pada pilpres 2009, seperti dilaporkan laman Bussiness Intelligence, pihak administrasi pemilu menyatakan telah memanfaatkan teknologi komputer untuk merekapitulasi perhitungan suara yang datang dari TPS-TPS.

Ini artinya Iran sudah memanfaatkan teknologi/metode vote-counting system bernama optical scan counting. Prosesnya, kertas surat suara dikumpulkan dan dipindai dalam sebuah mesin pemindai khusus untuk mentabulasikan total suara. Meski hanya untuk perhitungan berbasis TI, metode seperti ini telah dilakukan KPU Indonesia pada pileg 2009. Perbedaannya, variabel yang mesti dihitung dalam pilpres Iran jelas jauh lebih sederhana dibandingkan dengan pileg Indonesia (yang rumitnya minta ampuuun!!!).

Dengan metode ini, pihak administrasi pemilu Iran bisa menuntaskan rekapitulasi sekitar 40 juta suara dalam waktu 12 jam. Menurut saya setidaknya ini masuk akal. Sebab, pada pilpres 2005, tanpa metode yang dimaksud sekalipun, rekapitulasi bisa selesai dalam waktu 24 jam. Artinya, isu infrastruktur dan logistik pemilu sudah tertangani dengan baik di Iran setelah lebih daripada 30 tahun negara ini melakukan pemilu.

Sebagai perbandingan lain, KPU Brazil dengan metode direct-recording voting atau memilih dengan sebuah alat elektronik mampu menyelesaikan perhitungan lebih daripada 95 juta suara dalam waktu 12 jam. Dengan teknologi yang sedikit di bawah Brazil, bukankah masuk akal jika Iran berhasil menghitung 40 juta suara (setengah dari jumlah suara di Brasil) dalam waktu yang sama.

Lebih jauh, seperti dipaparkan laman ACE Electoral Knowledge Network, tahapan rekapitulasi perhitungan suara di Iran jauh lebih sederhana dibandingkan dengan di Indonesia. Suara dihitung pertama kali di tingkat TPS. Setelah selesai, surat suara dikembalikan ke dalam kotak suara yang kemudian disegel dan ditransfer ke komite-komite pemilu di tiap distrik untuk dilakukan rekapitulasi akhir. Sebagai catatan, komite-komite pemilu terdiri dari pemerintahan distrik, jaksa distrik, pegawai catatan sipil distrik, dan 8 orang perwakilan publik (tidak diketahui apa mereka dipilih atau diangkat).

Hasil yang diumukan Kementerian Dalam Negeri tampaknya adalah hasil rekap komite-komite pemilu di tiap-tiap distrik. Mungkin saja apa yang diterima kubu Mir Hossein Mousavi--dan yang kemudian diklaim sebagai angka kemenangan sebelum hasil resmi diumukan--adalah hasil rekap dari sebagian distrik, dimana Mousavi mengungguli Ahmadinejad.

Catatan:

1. kecurigaan telah terjadi kecurangan dengan alasan begitu cepatnya proses perhitungan suara dilakukan tampaknya justru muncul dari analis-analis dan media Barat, bukan dari kubu Mousavi sendiri. Mohsen Makhmalbaf, jurbicara kubu Mousavi di luar negeri, justru mengkritik Kementerian Dalam Negeri Iran karena lambat mengumumkan hasil perhitungan suara!!!

2. pilpres di Iran, sebagaimana pemilu di negara-negara lain, melibatkan banyak orang dan pihak. Rival-rival Ahmadinejad dalam pilpres kali ini pun bukan orang-orang sembarangan yang tidak punya akses ke pemerintahan. Mohsen Rezai adalah anggota Majelis Penasehat pemimpin tertinggi, sementara Ali Akbar Hashemi Rafsanjani, pendukung utama Mousavi, adalah Ketua Dewan Ahli yang punya wewenang untuk "memecat" pemimpin tertinggi. Artinya, sulit untuk mengatakan bahwa orang-orang penting itu tidak akan mengetahui atau mendeteksi jika adanya kecurangan yang massif.

Dalam kaitan ini, Stratfor, lembaga tangki pemikir berbasis di Texas yang kerap dihubungkan dengan CIA dalam analisisnya, yang berjudul Western Misconception Meet Iranian Reality, menyatakan:

"...tentunya (kecurangan) ini mungkin, tetapi sulit untuk melihat bagaimana dia (Ahmadinejad) bisa mencuri pemilihan dalam margin yang begitu besar. Melakukan hal tersebut akan memerlukan keterlibatan jumlah orang yang luar biasa banyaknya, dan akan memunculkan risiko suatu jumlah yang cukup jelas tidak akan bersesuaian dengan sentimen di setiap kota. Sebuah penipuan yang massif berarti bahwa Ahmadinejad di Teheran memproduksi angka-angka tanpa mempertimbangkan kaitannya dengan suara di lapangan. Tetapi ia memiliki banyak musuh kuat yang akan cepat mendeteksi hal ini dan akan menuduhnya atas hal ini. Mousavi masih bersikeras bahwa dia dirampok, dan kita harus tetap terbuka terhadap kemungkinan bahwa dia memang dirampok, walaupun sulit untuk melihat cara melakukan ini."

Jun 16, 2009

Pilpres Iran: Ahmadinejad menang, Ahmadinejad curang?

Hampir mustahil memberi penilaian apalagi menuduh telah terjadi kecurangan terhadap pemilu di suatu negara tanpa pengamatan langsung di lapangan. Soal kisruh daftar pemilih seperti terjadi dalam pemilu legislatif Indonesia yang indikasinya begitu massif saja, hingga kini nyaris tak ada satu pihak pun yang mampu membuktikan bahwa kisruh ini hasil dari upaya kecurangan yang sistematis.

Hari-hari ini media Barat begitu antusias memberitakan soal klaim salah satu kandidat presiden Mir Hossein Mousavi bahwa pilpres Iran yang memenangkan kembali Mahmoud Ahmadinejad sarat dengan penipuan dan kecurangan. Jika kita telaah laporan-laporan tersebut atau analisis para pengamat-pengamat Barat, bisa dikatakan tak ada bukti dan indikasi kuat yang mereka sajikan sebagai dalil bahwa telah terjadi kecurangan dalam pilpres ini. Apa yang mereka kemukakan hanya asumsi-asumsi ketidakwajaran (sayang, saya tak mendapatkan alasan dan indikasi kuat apa yang kubu Mousavi dapatkan sehingga berani melontarkan tuduhan kecurangan).

Sebelum beranjak lebih jauh, ada baiknya kita mengingat satu hal. Mahmoud Ahmadinejad sang incumbent mengungguli rivalnya Mir Hossein Mousavi dengan kemenangan mutlak dalam rasio 2:1 atau 63% berbanding dengan 34%. Mungkin hanya terjadi di Iran bahwa sebuah pemilu dengan hasil seperti itu bisa dikatakan curang oleh pihak yang kalah.

Jika anda masih ingat pemilu AS tahun 2000 (Bush vs Al Gore) yang memunculkan dugaan tentang kecurangan dari kubu progresif AS (meski tentu saja media arus utama bungkam seribu bahasa), maka dugaan tersebut masih bisa dipahami. Sebab, Al Gore kalah tipis dari George W. Bush dalam electoral vote meski menang dalam popular vote.

Di sini saya akan membahas secara singkat pendapat seorang ahli Timur Tengah asal Michigan University, Juan Cole. Pendapat Cole pada umumnya juga dianut oleh beberapa analis internasional lainnya. Dalam postingnya, Cole menyimpulkan bahwa pilpres Iran telah "dikadali" kubu Ahmadinejad berdasarkan 6 asumsi yang diklaimnya sebagai "Top pieces of evidence". Berikut ini, saya hanya akan membahas 3 asumsi yang menurut saya lebih berharga untuk diberi tanggapan daripada 3 asumsi lainnya.

Pertama, Cole menulis:
"Dinyatakan bahwa Ahmadinejad menang di Tabriz dengan 57%. Lawan utamanya, Mir Hossein Mousavi, adalah seorang Azeri dari propinsi Azerbaijan, dimana Tabriz adalah ibukotanya. Mousavi, menurut jajak pendapat yang ada di Iran dan yang menyebarkan bukti anekdot, tampil lebih baik di kota-kota dan sangat populer di Azerbaijan. Tentu saja, kampanyenya dihadiri sangat banyak orang. Jadi jika sebuah pusat kota Azeri memilih Ahmadinejad dalam angka yang begitu besar, ini tidak masuk akal. Dalam pemilu-pemilu lalu, orang-orang Azeri dalam jumlah besar bahkan memilih untuk kandidat-kandidat minor yang berasal dari propinsi itu."
Inikah yang dinamakan "top pieces of evidence" oleh profesor Cole? Ini cuma asumsi. Cole berasumsi bahwa karena Mousavi seorang Azeri, maka pastinya dia akan menang di Tabriz, ibukota propinsi Azerbaijan. Silogisme Cole: orang Azeri pasti memilih calon Azeri; Mousavi orang Azaeri; orang Azeri pasti memilih Mousavi (saya tidak tahu nama jenis sesat pikir ini; tapi saya yakin ini jelas logical fallacy).

Itu bantahan pertama. Bantahan kedua, orang Azeri bukan hanya Mousavi. Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei juga seorang Azeri. Artinya, jika Khamenei--seperti ditulis Cole--tidak menyukai Mousavi dan mendukung Ahmadinejad, bukankah mungkin warga Azeri lebih memilih Ahmadinejad tinimbang Mousavi.

Asumsi-asumsi di atas--bahwa Ahmadinejad menang di wilayah-wilayah dimana ia dipandang tidak populer atau bahwa hasil pemilu kali ini cenderung tidak mencerminkan hasil pemilu sebelumnya--banyak digunakan oleh beberapa analis Barat sebagai argumentasi mereka, tidak terkecuali asumsi ke-2 dari Cole berikut ini.

Kedua, Cole menulis:
"Ahmadinejad dinyatakan menang lebih daripada 50% di Tehran. Lagi, dia tidak populer di kota-kota besar, bahkan, seperti yang dia klaim, di lingkungan-lingkungan miskin, sebagian karena kebijakan-kebijakannya menciptakan inflasi dan angka pengangguran yang tinggi. Bahwa dia menang di Tehran pastinya menimbulkan pertanyaan tentang angkanya tersebut."
Bagi Cole, bukti bahwa Ahmadinejad curang adalah karena orang ini tidak mungkin bisa menang di Tehran karena dia tidak populer di Tehran. Bagaimana Cole tahu bahwa Ahmadinejad tidak populer di Tehran? Ya, karena Ahmadinejad harus berbuat curang untuk menang di Tehran karena dia tidak populer di Tehran. Bingung??? Ya, karena saya juga bingung bagaimana sesat pikir seperti bisa diklaim sebagai bukti oleh profesor sekelas Cole.

Ketiga, Cole menulis:
"Komisi pemilu seharusnya menunggu sampai tiga hari sebelum menetapkan hasil, dimana pada titik itu mereka akan menginformasikan hasilnya kepada Khamenei, dan dia pun menandatangani prosesnya. Penundaan tiga hari dimaksudkan untuk memberi ruang bagi dugaan-dugaan tentang ketidakwajaran diadili..."
Ini asumsi yang lebih menarik daripada yang sudah-sudah. Apa yang Tuan Cole abaikan adalah bahwa justru Mousavi-lah yang tidak mau menunggu dengan mengumumkan dialah pemenangnya, baru setelah itu Komisi Pemilu--yang punya akses hingga di tingkat propinsi--mengatakan bahwa tampaknya Ahmadinejad-lah yang menang. Hal ini pada gilirannya menimbulkan pertanyaan bagaimana Mousavi bisa begitu yakin tentang kemenangannya itu?

Satu lagi, jika anda menaruh curiga telah terjadi kecurangan dalam pilpres Iran hanya karena hasilnya diumumkan sekitar 12 jam setelah pemilihan, maka ada satu prinsip dalam pemilu yang mesti diingat: semakin cepat hasil pemilu diketahui, maka semakin minim pula peluang untuk melakukan kecurangan.

Kecil peluangnya bagi kubu Ahmadinejad untuk melakukan kecurangan yang demikian canggih hanya dalam waktu sesingkat itu. Mengapa saya katakan "canggih"? Nate Silver, seorang blogger Amerika yang juga ahli statistik melakukan analisis terhadap hasil resmi yang diumumkan Kementerian Dalam Negeri Iran. Hasilnya, ia menyimpulkan bahwa analisis statistik terhadap hasil resmi pilpres Iran tidak membuktikan apa pun untuk menilai bahwa telah terjadi kecurangan pemilu. Lebih canggih lagi karena Ahmadinejad harus "mencuri" puluhan juta suara dalam tampilan statistik yang tidak mencurigakan, dan dalam waktu yang singkat pula.

Bagaimanapun, benar atau tidaknya tuduhan ini harus dibuktikan melalui mekanisme pembuktian yang ada di Iran, bukan lewat asumsi-asumsi mentah atau melalui unjuk rasa anarkis yang justru mengarah kepada destabilisasi negara. Hingga kini, Dewan Wali Iran telah mengambil kebijakan untuk menghitung ulang suara di beberapa daerah yang diperselisihkan. Hasilnya dilaporkan akan diketahui dalam 10 hari.

SBY, Demokrat, dan Supremasi Hukum

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Partai Demokrat (PD) kerap mencitrakan diri mereka sebagai pihak yang santun dan selalu menghormati serta menghargai hukum. Mantra politik yang selalu dilantunkan adalah betapa pemerintahan SBY adalah pemerintahan yang bersih dan antikorupsi.

Mantra tinggal mantra; citra tinggal citra, tetapi fakta mengungkapkan dirinya apa adanya. Mungkin sudah banyak orang yang lupa tentang dugaan politik uang yang dilakukan oleh caleg DPR RI dari PD Edi Baskkoro Yudhoyono (EBY), yang juga putra bungsu Presiden SBY, di Dapil Jawa Timur VII. Kasus ini menguap begitu saja dan tidak sempat melalui proses pembuktian yang semestinya ketika Kapolda Jatim Anton Bahrul Alam (luar biasa!!! Kapolda langsung turun tangan meski sebenarnya kasus seperti ini masih bisa ditangani seorang kapolres) dengan "tergesa-gesa" menggelar jumpa pers dengan maksud membersihkan nama EBY. Tak cuma itu polisi juga menjerat para pelapor dugaan tersebut plus beberapa media massa yang memuat berita tentangnya, dengan pasal pencemaran nama baik dan penistaan presiden. Kisah "sirkus" kepolisian di atas jelas mencuatkan dugaan lain bahwa kekuasaan ikut campur tangan dalam persoalan hukum ini.

Jika kasus EBY di atas tidak sempat dibuktikan secara hukum kebenarannya, maka beberapa fakta berikut ini begitu terang-benderang.

1. Fakta bahwa Ahmad Mubarok, Wakil Ketua Umum PD, masih berstatus sebagai PNS. Fakta ini terungkap saat Sekjen PD, Marzuki Alie menyampaikan alasan mengapa Mubarok--yang terkenal karena pernyataannya bahwa Golkar hanya akan meraih 2,5% suara--dicopot dari Tim Kampanye Nasional SBY-Boediono:
"Kalau Pak Mubarok itu kan masih PNS, jadi karena takut melanggar jadi kita tidak masukan tapi hanya mendampingi dari luar saja,” ungkap Marzuki Alie pada 10 Juni 2009 (comment: lho kalau status sebagai wakil ketum gimana dong!!!).
Dengan begitu, sejatinya Mubarok dan Partai Demokrat telah melanggar dan tidak menghormati Pasal 3 ayat 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang PNS:

“Untuk menjamin netralitas Pegawai Negeri sebagaimana di maksud dalam ayat (2), Pegawai Negeri dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai politik.
Sementara pada saat yang sama, SBY, sebagai presiden (bosnya PNS) dan Ketua Dewan Pembina PD harus bertanggung jawab karena membiarkan pelanggaran undang-undang ini terjadi.

Lalu apa jawaban PD? Marzuki Alie dengan entengnya menjawab:
“Persoalan PNS menjadi pengurus parpol itu kan Undang-Undang PNS yang melarang. Kalau Undang-Undang Parpol tidak ada larangan itu. Artinya Demokrat sebagai parpol mengacu pada Undang-Undang Parpol. Kalau soal Mubarok langgar UU PNS itu urusan pribadinya.lanjut Marzuki Alie pada 10 Juni 2009.
Politisi memang harus pandai retorika. Tapi retorika tanpa logika cuma "tong kosong nyaring bunyinya". Sebuah UU bagaimanapun mengikat seluruh warga negara tanpa terkecuali. Jika parpol tidak terikat dengan UU PNS, maka itu sama artinya dengan mengatakan bahwa parpol sebagai badan hukum tidak terikat oleh aturan perundang-undangan lain di luar UU tentang parpol. Lebih jauh, seorang Marzuki Alie semestinya lebih cermat membaca UU Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik. Pasal 13 dan Pasal 40 UU Parpol menyatakan dengan tegas bahwa parpol berkewajiban melaksanakan UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan serta dilarang melakukan kegiatan (termasuk memilih wakil ketum dari seorang PNS) yang bertentangan dengan UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan:
Partai Politik berkewajiban: a. mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-Undang DasarNegara Republik Indonesia Tahun 1945, dan peraturan perundang-undangan... (Pasal 13 UU Nomor 2 Tahun 2008 tentang Parpol)
Partai Politik dilarang:
a. melakukan kegiatan yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan peraturan perundang-undangan... (Pasal 40 ayat 2 UU Nomor 2 Tahun 2008 tentang Parpol)
Menyangkut kasus ini, Achmad Mubarok menyangkal bahwa ia masih menjadi anggota PNS. Mubarok sendiri berkilah sudah pensiun dari status PNS. Ketika ditanya kapan akhir masa tugas sebagai abdi negara, ia tidak menjawab tegas. “Saya sudah pensiun,” ujarnya singkat sebelum mengakhiri percakapan melalui telepon.

Namun ini tidak cukup. Mubarok mesti menegaskan sejak kapan dia pensiun dari PNS, karena kita tahu Mubarok sudah lama menjadi pengurus PD sebagai wakil ketum, dan hingga kini pun namanya masih tercantum di jajaran fungsionaris DPP PD. Lagi pula, jika sudah pensiun, mengapa pula posisinya sebagai PNS justru menjadi alasan pencopotannya dari tim kampanye SBY-Boediono?

2. Fakta bahwa sebagian tim sukses atau tim relawan pendukung SBY-Boediono adalah para pejabat BUMN, terutama mereka yang duduk sebagai komisaris. Ini jelas melanggar Pasal 41 ayat 2 UU Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pilpres. Dan Pasal 45 UU yang sama mengategorikan pelanggaran tersebut sebagai tindak pidana.

Begitu fakta ini diungkap oleh media dan Bawaslu, ramai-ramai para komisaris itu memilih mundur dari tim kampanye atau dari BUMN yang mereka tempati. Mantan Kapolri Sutanto Komisaris Utama Pertamin yang nyambi sebagai Ketua Gerakan Pro SBY memilih mundur dari organisasi relawan itu dan tetap di Pertamina. Langkah yang sama ditempuh Umar Said yang juga komisaris Pertamina. Sementara Raden Pardede, Komisaris Utama PT. Perusahaan Pengelola Aset, memilih mundur dari BUMN tersebut tetap menjadi anggota tim sukses SBY.

Tindakan "ramai-ramai mundur" ini patut dihargai, tetapi soalnya bukankah sudah terjadi pelanggaran terhadap UU ketika nama-nama mereka tercantum dalam tim sukses SBY atau ketika mereka "tanpa tahu malu" bergiat mengampanyekan SBY lewat organisasai relawan atau apa pun namanya, padahal mereka adalah pejabat BUMN.

Alasan bahwa mereka tidak tahu ada UU seperti itu atau bahwa tim relawan bukan tim sukses lagi-lagi cuma retorika yang kali ini tanpa etika, atau fatsun berpolitik. Lebih jauh, Koordinator Nasional Komite Pemilih Indonesia Jeirry Sumampow berpendapat bahwa ada rentang waktu antara penyampaian daftar tim kampanye ke Komisi Pemilihan Umum dan waktu mundurnya pejabat itu dari tim sukses atau jabatannya. "Satu hari saja bisa digunakan untuk menyalahgunakan jabatan," katanya. (Nusantara News contibuted to this post)

Jun 15, 2009

Sosialisme ala AS: sosialisme untuk orang kaya

Pemerintah Obama memiliki jaringan pengaman korporat yang luar biasa besar, mengizinkan bank-bank untuk berjudi dengan impunitas, tetapi memberi sedikit kepada rakyat yang berjuang untuk hidup.

Artikel brilian dari Joseph Stiglitz

Koran Tempo


"...Saya kira
pemerintahan Obama telah tunduk kepada tekanan politik dan ketakutan yang dibesar-besarkan bank-bank tersebut. Akibatnya, pemerintahan Obama telah salah mencampuradukkan bailout para bankir dan para pemegang sahamnya dengan bailout bank itu sendiri...

Ada yang menamakan rezim ekonomi yang baru ini sebagai "sosialisme khas Amerika". Tapi sosialisme itu menyangkut rakyat banyak. Sebaliknya pemerintah Amerika tidak banyak membantu jutaan rakyatnya yang kehilangan rumah tempat mereka berteduh. Buruh yang kehilangan pekerjaan cuma menerima tunjangan pengangguran terbatas selama 39 minggu, dan kemudian dibiarkan mencari nafkah sendiri. Dan ketika mereka kehilangan pekerjaan, mereka juga kehilangan asuransi kesehatannya.


Amerika telah memperluas jaringan pengaman korporat dengan cara yang tak pernah dilakukannya sebelumnya
, dari bank umum sampai bank investasi, lalu industri asuransi, dan sekarang industri otomotif, tanpa tanda-tanda di mana semua ini akan berakhir. Sebenarnya ini bukan sosialisme, melainkan perpanjangan dari corporate welfarism yang sudah berlangsung lama. Mereka yang kaya dan kuat berpaling kepada pemerintah untuk membantu mereka kapan saja dapat mereka lakukan, sementara mereka yang miskin tidak memperoleh perlindungan sosial yang memadai.

Kita perlu memecah bank-terlalu-besar-untuk-jatuh-bangkrut itu; tidak ada bukti bahwa raksasa-raksasa ini membawa manfaat setara dengan ongkos yang mereka bebankan kepada masyarakat. Jika kita tidak bisa memecah mereka, kita harus membatasi ruang gerak mereka.
Mereka tidak boleh dibiarkan berbuat seperti dulu lagi--berjudi atas kerugian orang lain.

Timbul masalah lainnya dengan bank-bank yang terlalu besar untuk bangkrut dan terlalu besar untuk direstrukturisasi ini:
mereka juga terlalu kuat secara politis. Lobi yang mereka lakukan telah berhasil, pertama mementahkan regulasi, dan kemudian memaksa pembayar pajak menanggung ongkos membersihkan puing-puing yang mereka tinggalkan. Mereka berharap bakal berhasil lagi bebas berbuat semau mereka, tanpa mempedulikan risiko yang mereka timpakan kepada pembayar pajak dan perekonomian. Kita tidak boleh membiarkan ini terjadi.

Membaca (dengan benar) hasil pemilu Lebanon 2009

"Kemenangan kubu pro-Barat atas kubu pro-Iran", demikian kira-kira bunyi headline media arus utama dunia tentang hasil pemilu legislatif di Lebanon 7 Juni 2009. Bahkan kolumnis The New York Times, Thomas L. Friedman, menyebutnya sebagai “kemenangan Barack Obama atas Mahmoud Ahmadinejad.

Memang kubu pemerintah Aliansi 14 Maret meraih 71 kursi dari 128 kursi parlemen sedangkan kubu oposisi Aliansi 8 Maret (dimana Hizbullah ada di dalamnya) mendapatkan 57 kursi. Namun demikian, setidaknya ada dua hal penting yang luput dalam laporan media tersebut serta yang tampaknya sengaja diabaikan banyak analis internasional, termasuk Friedman.

Pertama, dikatakan bahwa mayoritas pemilih Lebanon—baik itu Muslim, Kristen, dan Druze—memilih untuk Aliansi 14 Maret yang dipimpin Saad Hariri, putra mantan PM Rafik Hariri yang terbunuh. Padahal, mayoritas suara pemilih (popular vote) justru jatuh ke tangan Aliansi 8 Maret. Dari lebih 1,5 juta pemilih yang menggunakan hak pilih, kubu oposisi mendapatkan 839.371 suara (55%) sementara kubu pemerintah memperoleh 693.931 suara (45%). Mayoritas pemilih Lebnon ternyata justru tidak memilih untuk Aliansi 14 Maret.

Mengapa keunggulan Aliansi 8 Maret dengan margin 10% dalam popular vote tidak berbuah keunggulan dalam perolehan jumlah kursi di parlemen?

Jawabannya, karena Lebanon menganut sistem pemilu konfesional. Kursi di parlemen dialokasikan berdasarkan garis sektarian. Perjanjian Taif, yang ditandatangani pada 1989, menetapkan bahwa Kristen dan Muslim sama-sama mendapatkan 64 kursi. Dari 64 kursi yang dimiliki Muslim, Sunni dan Syiah berbagai 27 kursi.

Akibatnya, harga satu kursi sebuah komunitas agama tertentu menjadi lebih murah dibandingkan dengan harga satu kursi komunitas lainnya. Sebagai contoh, harga kursi untuk seorang calon Kristen Maronit lebih murah daripada harga satu kursi untuk seorang calon Muslim karena populasi Kristen hanya sepertiga dari populasi Lebanon. Demikian pula, seorang calon Syiah, misalnya, membutuhkan suara lebih banyak untuk terpilih dibandingkan calon dari kelompok Sunni karena populasi Syiah mencakup 60% dari keseluruhan populasi Muslim di Lebanon.

Begitulah Lebanon. Menggugat sistem pemilihan seperti itu sama artinya dengan mempertanyakan Perjanjian Taif yang mengakhiri 15 tahun konflik sipil di negeri sedar ini.

Kedua, dikatakan bahwa mayoritas warga Kristen tidak memilih Tayyar al-Wathani al-Hurr (Gerakan Patriotik Merdeka—GPM) yang dipimpin Michel Aoun. Asumsi seperti ini disampaikan untuk mendukung kesimpulan bahwa mayoritas warga Kristen Maronit menolak pandangan Aoun bahwa Hizbullah adalah patner terbaik dalam melindungi kepentingan minoritas Maronit, bukan Amerika atau Barat.

Fakta justru menunjukkan kenyataan sebaliknya. GPM sendiri meraih 19 kursi, atau unggul dari jumlah kursi gabungan dua partai berbasis massa Maronit lainnya yang tergabung dalam Aliansi 14 Maret, yakni Partai Phalangis pimpinan Amin Gemayel (5 kursi) dan al-Quwwat al-Lubnaniyyah (Kekuatan Lebanon) pimpinan Samir Geagea (5 kursi). Artinya, mayoritas Kristen Maronit justru tidak memilih melawan Aoun. Dengan kata lain, Aoun adalah pemimpin de facto komunitas Maronit, bukan Gemayel atau Geagea.

Kesimpulannya, kubu oposisi Aliansi 8 Maret memenangkan suara mayoritas pemilih: suara mayoritas warga Syiah sebagai komunitas agama terbesar di Lebanon dan suara mayoritas warga Kristen Maronit.

Jun 12, 2009

Nyanyian dan Tarian Obama di Kairo

Dr. Elias Akleh
GlobalResearch


...Untuk memperoleh tujuan ini, pidato Obama mengikuti arah yang telah dipersiapkan dengan baik, dimulai dengan pemahamannya tentang penyebab konflik antara Barat dan Dunia Islam, niatnya untuk membongkar lingkaran konflik, upayanya untuk sebuah awal baru di antara Amerika Serikat dan Muslim di dunia, penegasannya bahwa ia adalah presiden yang berbeda dengan pemahaman tentang agama Islam, permintaannya untuk kemitraan yang seimbang dengan pemerintah Islam dalam menangani tujuh masalah utama untuk mencapai kehidupan yang lebih baik bagi semua, dan akhirnya seruannya kepada generasi muda untuk menghilangkan keraguan akan niat dan ketakutan akan kemitraan berdasarkan pengalaman sebelumnya demi membangun kembali dunia ini. Dengan kata lain, ia berkata: ada masalah, saya bisa memperbaikinya, percayalah kepada saya karena saya berbeda...

Untuk orang kebanyakan pidato itu tampak genuin, jujur, tulus, dan menunjukkan perubahan yang Obama selalu bicarakan. Dengan melihat lebih dalam pidato itu, dan meta-pesan tersembunyinya, maka orang dapat mengenali arogansinya, manipulasinya, dan kontradiksinya dengan tindakan dan kebijakan dari pemerintah Obama.

Adalah sebuah kenaifan politik untuk percaya bahwa setiap presiden AS, bahkan seorang yang berkulit hitam serta terlihat berbeda, dapat mengubah kebijakan Amerika, baik secara internal maupun ekstenal. Kebijakan AS dirumuskan oleh elit-elit berkuasa dalam pertemuan-pertemuan tertutup di luar kantor-kantor federal. Apa yang bisa dilakukan semua presiden AS hanyalah berfungsi sebagai penglihatan mereka dan untuk mengikuti arahan mereka, karena dia disewa (orang lain mungkin berpikir dipilih) untuk melakukannya.

Telah diakui bahwa kebijakan-kebijakan keras dan pendekatan brutalitas militer dalam memerangi "Islamofascism", menebarkan "perang global melawan teror", membangun "Timur Tengah Baru", dan menyebarkan "kebebasan serta demokrasi Amerika", yang Bush adopsi selama delapan tahun terakhir, telah gagal di banyak front, dan hanya berhasil dalam mengucilkan rezim-rezim Arab yang bersahabat, membangun perlawanan militer yang sengit, menguatkan sentimen anti-Amerika di Dunia Islam secara umum, dan menyebabkan krisis ekonomi. Pendekatan baru diperlukan, dan perubahan Obama (pendekatan lembut manipulatif) diperkenalkan…

Tujuan nyata pidato Obama dan arogansi hipokritnya jelas dinyatakan ketika ia menyatakan: “Semakin cepat kaum ekstrimis dikucilkan dan tidak disambut dalam masyarakat Muslim, maka semakin cepat kita (Amerika) semua akan menjadi lebih aman.” Pesan yang tersembunyi di sini adalah bahwa teroris hanya ada di masyarakat Muslim, dan Obama ingin pemerintah-pemerintah Muslim, sebagai kaki tangan, untuk mengenyahkan teroris-teroris itu, yang berupaya melawan kolonialisme Amerika…

Kaum teroris ekstrimis sejati adalah kelompok neokon, yang bekerja pada pemerintahan Bush, yang menebar perang dan teror di seluruh dunia, seperti di Haiti, Sudan, Somalia, Afghanistan, Irak, dan Timur Tengah. Mereka telah menyebabkan kehancuran di beberapa negara, dan membunuh jutaan jiwa dengan tiap jiwa sama dengan membunuh semua umat manusia (sudah berapa juta kali mereka membunuh kemanusiaan). Namun Obama menolak untuk mengadili para teroris ini di Amerika…

Adapun untuk pendudukan Israel atas Palestina, Obama memulainya dengan memberi peringatan…dengan menegaskan kembali dukungan tanpa syarat untuk teroris Israel. Dia berbicara tentang “ikatan yang tak terpatahkan antara Amerika dan Israel... berdasarkan hubungan budaya dan sejarah", seakan-akan hanya orang-orang Yahudi, minoritas kecil di Amerika, saja yang memiliki hubungan budaya dan sejarah dengan Amerika. Apakah benar-benar ada hubungan seperti itu selain hubungan mempersenjatai Israel?...

Seruan Obama bagi Palestina untuk menghentikan perlawanan mereka dan untuk belajar metode perjuangan non-kekerasan dari warga kulit hitam Amerika, dari orang-orang Afrika Selatan hingga Asia Selatan dan dari Eropa Timur hingga Indonesia, adalah kemunafikan dan sama sekali salah. Semua bangsa itu telah memenangkan kebebasan dan hak-hak mereka hanya setelah para penindas mereka menyadari bahwa mereka tidak dapat mengalahkan perlawanan bersenjata dari bangsa-bangsa itu. Obama harus belajar sejarah warga kulit hitam di Amerika dalam mewujudkan hal ini…

Obama bernyanyi dan menari dengan baik. Sekarang tiba saatnya untuk berbuat.

Sebuah konspirasi: Kesepakatan Syria dengan Saudi

Sebuah sumber mengatakan kepada saya bahwa Syria mencapai kesepakatan dengan Arab Saudi, dimana Syria akan mengatur kekalahan pihak oposisi Lebanon. Sebagai imbalannya, Saudi menawarkan mediasi dengan AS yang akan meningkatkan relasi Damaskus-Washington.

Media Saudi melaporkan bahwa Bashshar Al-Asad adalah orang pertama yang menelpon Raja Saudi untuk memberi selamat atas kemenangan boneka-boneka Saudi di Lebanon.

Sementara itu, juga dilaporkan bahwa Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah George Mitchell bersiap menuju Damaskus untuk membicarakan pemulihan hubungan AS-Syria. "Ini meningkatkan kemungkinan AS akan kembali menunjuk seorang dubes di Damaskus dalam waktu dekat," tulis analis Syria Josh Landis.

Di Tepi Barat, warga Palestina selamatkan pemukim (ilegal) Israel

Press TV

Warga desa Palestina telah menyelamatkan seorang perempuan pemukim (ilegal) Israel di Tepi Barat setelah dia terjebak dalam sebuah mobil bersama bayinya.

Peristiwa ini terjadi ketika sebuah mobil yang melaju dalam kecepatan tinggi kehilangan kendali di jalan utama kota Tiqua, sebelah tenggara Bethlehem, dan berguling terbalik. "Mobil itu menjungkir tiga kali di tengah jalan...
orang-orang di lokasi bergegas menghampiri dan mulai menyelamatkan penumpangnya," kata warga Palestina, Ahmad Allen, kepada kantor berita Ma'an.

Mereka mengeluarkan bayi berusia 4 bulan dan ibunya, yang sangat ketakutan, setelah memecahkan jendela mobil dan segera
menelpon ambulans Israel untuk membawa yang terluka ke rumah sakit.

Warga Palestina mengatakan, "
perasaan kemanusiaan kita jauh lebih besar pada saat itu daripada perasaan permusuhan dan kebencian yang pemukim Israel tampilkan," seraya menegaskan bahwa rakyat Palestina tidak akan ragu-ragu menawarkan bantuan.

Kota Tiqua di Tepi Barat adalah tempat dimana orang-orang Israel secara ilegal mengambil-alih tanah orang Palestina untuk membangun pemukiman-pemukiman Yahudi..."