Oct 22, 2009

Di Nevada, AS Pasang Kuda-kuda Melawan Iran

Diplomat Iran boleh saja bertemu dalam pembicaraan tujuh pihak dengan diplomat AS, seraya berharap bagi penyelesaian diplomatik untuk mengakhiri kontroversi atas program nuklir Iran. Namun, di sini, di gurun pasir Nevada, yang disebut salah seorang pejabat senior AS sebagai “miniatur Timur Tengah”, suasananya justru berbeda.

Karena kesamaan medan antara situs pengujian milik Departemen Energi AS di Nevada itu dengan Iran, Pasukan Operasi Khusus AS mengadakan pelatihan di sebuah fasilitas di situs tersebut. Para pejabat berwenang mengatakan bahwa aktivitas pelatihan itu, “tidak benar-benar ada”.

Sumber intelijen di Washington melaporkan di mana fasilitas tersebut berada, menyembul menghadap sebuah pegunungan yang berlokasi di tengah jalan antara lokasi pengujian bom atom Frenchman Flat dan Sedan Crater, situs bawah tanah terbesar bagi pengujian termonuklir yang dilakukan Amerika Serikat. Fasilitas “yang tidak benar-benar ada” itu adalah lokasi dimana tim Pasukan Khusus melakukan pelatihan secara khusus untuk operasi “kontra-proliferasi nuklir di Iran. Situs Pengujian Nevada memiliki sejumlah fasilitas bawah tanah yang tidak lagi digunakan setelah Amerika mengadopsi moratorium percobaan nuklir pada 1992.

Secara khusus, tim Pasukan Khusus AS itu berlatih dalam apa yang disebut lingkungan realistis di lokasi pengujian tersebut, dan menggunakan sistem terowongan dari fasilitas itu untuk menguji hasil penggunaan bom pelebur bunker bawah tanah. Pelatihan ini sangat rahasia tapi tampaknya sebagian dari biaya pelatihan disuplai melalui Anggaran Biro Pengurangan Ancaman yang dimiliki Pentagon.

Sumber intelijen yang sama juga telah mempelajari bahwa Predator dan Reaper yang dikemudikan dari jarak jauh, dua alutsista yang digunakan Angkatan Udara AS, segera menjalani refitting besar-besaran. Upaya ini akan memungkinkan Predator untuk membawa dua rudal Hellfire, lebih banyak daripada yang dapat diangkut pada saat ini. Dan, Reaper akan mampu membawa senjata khusus tambahan di luar perlengkapan senjata yang ada. Senjata khusus itu sebelumnya hanya dapat diangkut oleh jet tempur berawak F-16.

Berlokasi tepat di selatan Situs Pengujian Nevada adalah Pangkalan Udara Creech, dimana program pelatihan bagi pilot-pilot jarak jauh Predator dan Reaper berlangsung. Sumber Departemen Energi AS menyatakan bahwa Situs Pengujian Nevada juga memiliki sebuah pesawat Predator yang telah diperlengkapi dengan sebuah kotak hitam”. Instrumen itu mampu mendeteksi tanda-tanda pembangunan senjata nuklir, termasuk jejak-jejak uranium yang diperkaya , plutonium, dan tritium, dan dapat diterbangkan secara rahasia ke Iran untuk mengawasi instalasi nuklir Iran.

Administrasi Keamanan Nuklir Nasional AS juga mengoperasikan sistem Sensitive Compartmented Information (SCI) yang berjuluk “Badai Merah”, komputer dengan performa tinggi yang beroperasi dengan kecepatan 280 teraflop. “Badai Merah” adalah salah satu dari dua belas komputer tercepat di dunia, dan digunakan untuk menjalankan tes simulasi terhadap instalasi nuklir Iran dan Korea Utara. Ia mampu mengevaluasi kualitas informasi intelijen yang disuplai oleh sumber-sumber intelijen tertentu, yang tampaknya tidak selalu dianggap akurat.

Predator kontra-proliferasi nuklir yang diterbangkan oleh Situs Pengujian di Nevada bukanlah satu-satunya program klandestin” yang beroperasi di gurun Nevada. Program lain, dengan kemungkinan tujuan anti-Iran, yang dipentaskan adalah Tonopah Test Range, yang juga dikenal sebagai Area 52”, yang berlokasi di sebelah utara Nellis Range Test dan Groom Dry Lake, atau fasilitas yang disebut Area 51. Setiap pertanyaan yang diajukan tentang “Area 51” selalu dipenuhi dengan jawaban, tidak tahu atau rahasia.”

“Tentara Tuhan” yang Didukung “Setan Besar”

18 Oktober 2009, pukul 8 pagi waktu Iran bagian tenggara, bom itu meledak. Targetnya, “pertemuan persatuan” antara ketua-ketua suku Sunni dan Syiah di Propinsi Sistan-Balusistan yang difasilitasi Garda Revolusi Iran di kota perbatasan Pishin, dekat Sarbaz. Sistan-Balusistan merupakan rumah bagi sebagian besar minoritas Muslim Sunni di Iran.

Tak lama setelah aksi brutal itu, sayap teror Jundullah (tentara tuhan) mengaku bertanggung jawab atas ledakan yang telah merenggut lebih daripada 30 nyawa manusia, termasuk di antaranya enam komandan Garda Revolusi, pasukan elit militer Iran. Sejak empat tahun lalu, setidaknya inilah aksi kesembilan yang dilakukan Jundullah, tak terkecuali serangan bom atas iring-iringan kendaraan Presiden Mahmoud Ahmadinejad pada Desember 2005 yang menewaskan seorang pasukan pengawal.

Meski kerap menewaskan warga sipil Sunni dalam aksi-aksinya, Jundullah yang bernama resmi “Gerakan Perlawanan Rakyat Iran” mengklaim membela kepentingan-kepentingan Muslim Sunni di Iran, negeri mayoritas Muslim Syiah. Abdulmalik Rigi, pria kelahiran 1983, kini ditengarai sebagai sang pemimpin. Jundullah melakukan aksi-aksinya dari basis-basis di wilayah pegunungan Balusistan, perbatasan Pakistan-Iran. Kelompok teror ini juga kerap dihubungkan dekat dengan Al-Qaeda.

Pada 25 Februari 2007, koran Inggris, Telegraph, mengungkapkan bahwa keberadaan Jundullah merupakan bagian dari operasi rahasia Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat CIA. Kebijakan berisiko tinggi ini ditujukan untuk menciptakan destabilisasi di Iran dengan cara mendanai kelompok-kelompok etnis minoritas di negara Persia itu. Iran dihuni etnis minoritas Kurdi di barat, Azeri di baratlaut, Ahwazi di baratdaya, dan Balusis di tenggara.

Pengungkapan ini didukung oleh Fred Burton, bekas pejabat desk anti-teror di Departemen Luar Negeri AS yang mengatakan, “Serangan di dalam wilayah Iran berhubungan dengan upaya AS untuk mendukung dan melatih minoritas-minoritas etnis di Iran untuk mendestabilisasi rezim.”

Brian Ross, reporter investigatif peraih penghargaan dari jaringan pemberitaan AS, ABC News, pada 3 April 2007, melaporkan bahwa dukungan dana Washington kepada Jundullah diambil dari “anggaran rahasia” (classified budget) CIA yang tidak mengharuskan adanya pengawasan Kongres. Dana itu kemudian disalurkan melalui pembelot-pembelot Iran yang memiliki koneksi dengan negara-negara Arab.

Selain aksi pemboman dan penculikan, menurut Alexis Debat, pakar terorisme pada Nixon Center dan konsultan ABC News, Jundullah juga terlibat dalam jaringan perdagangan ilegal narkotika. Jaringan ini diduga menjadi “kaki-tangan” aktivitas kantor CIA yang berpusat di Muscat, Oman.

Lebih jauh, seperti dingkapkan jurnalis senior peraih Pulitzer, Seymour Hersh, dalam analisisnya pada The New Yorker edisi 7 Juli 2008, upaya destabilisasi AS atas rezim di Tehran tak hanya melibatkan CIA. Komando Operasi Khusus Gabungan, sebuah detasemen khusus yang dibentuk Pentagon, juga terlibat dalam operasi ini, dan hal ini pada glirannya mengindikasikan adanya persetujuan Kongres.

Menurut Hersh, kelompok-kelompok teror itu mungkin tidak akan menimpakan kesulitan yang berarti terhadap Tehran, tetapi akan berperan lebih besar jika opsi serangan militer atas Iran benar-benar dipilih Israel atau Amerika.

Pada 9 Juni 2009, sebelum menghadapi eksekusi matinya, saudara Abdulmalik Rigi, Abdulhamid Rigi, mengkonfirmasi kepada Press TV tentang laporan bahwa AS berada di balik aksi-aksi kekerasan bersenjata dan pemboman yang dilakukan Jundullah di Iran. Abdulhamid mengatakan bahwa dari tahun 2005 dan seterusnya Malik telah melakukan beberapa pertemuan “rahasia” dengan agen FBI dan CIA di Karachi dan Islamabad.

Sejak lama pemerintah Iran telah menenggarai keterlibatan AS dengan Judullah. Tehran pun mendesak Pakistan untuk membersihkan wilayahnya dari basis-basis kelompok teror yang akan mengganggu hubungan kedua negara.

Entah bagaimana memahaminya, tapi bagi Iran para “tentara tuhan” ini tampak seperti kelompok yang di dukung si “setan besar”.

Sungut Israel di Honduras

Dalam politik luar negeri, Israel punya kebiasaan buruk. Rezim Zionis di Tel Aviv kerap dituding terlibat mendukung rezim-rezim bermasalah. Tak terkecuali di Honduras.

Tudingan kali ini tidak main-main. Adalah Presiden terkudeta Manuel Zelaya sendiri, lewat Menlu Patricia Rojas, dan sekutunya Presiden Venezuela Hugo Chavez yang menuduh Israel ikut bermain di air keruh dengan mendukung rezim ilegal junta di Honduras.

Dilaporkan bahwa para loyalis Zelaya berhasil menyita seperangkat alat pengacau sinyal telepon selular yang dipasang di atas atap sebuah bangunan yang bersebelahan dengan gedung Kedutaan Besar Brazil, tempat Zelaya terkepung tanpa listrik dan pasokan air serta makanan. Pengecekkan nomor seri menunjukkan alat tersebut diproduksi Israel. Bangunan yang digunakan adalah milik Yehuda Leitner, pengusaha peralatan komunikasi asal Israel sekaligus deputi ketua organisasi Yahudi di Tegucigalpa.

Sebuah laporan yang disusun Ketua Komite HAM Honduras Andres Pavon juga menyebutkan kehadiran Delta Security, perusahaan keamanan Israel. Tentara-tentara bayaran ini disewa junta pada bulan Juni 2009 untuk melatih aparat keamanan Honduras dalam mengatasi para pengunjuk rasa pro-Zelaya.

Tudingan ini memicu serangan balik. Dan seperti yang sudah diduga, mantra “anti-semit” masih menjadi andalan. Abel Foxman dari Anti-Defamation League, kelompok sayap kanan Amerika pro-Israel, menuding pernyataan Zelaya dan Chavez tentang keterlibatan penasehat keamanan Israel dalam kudeta sebagai telah memicu sentiment anti-semit di Honduras.

Namun, fakta berbicara. Seperti dilaporkan CNN dan AFP pada 18 Agustus 2009, junta merilis pernyataan resmi bahwa kepentingan diplomatik Honduras di Argentina akan diwakili Kedutaan Besar Israel di Argentina. Ini terjadi setelah Argentina memulangkan duta besar Honduras yang dinilai mendukung rezim Roberto Micheletti pro-kudeta. Sebagai balasan, junta memutuskan hubungan diplomatik dengan negeri tango tersebut.

Diplomasi quid pro quo antara junta dan Israel terkait Argentina menunjukkan pengakuan de facto Tel Aviv atas junta di Tegucigalpa. Artinya, hanya Israel satu-satunya negara yang menghadiahkan pengakuan bagi junta Micheletti.

Ini bukan kali pertama otoritas di Tel Aviv mendukung rezim-rezim yang tidak memiliki dukungan diplomatik internasional. Sebuah dokumen CIA bertanggal 15 Juni 1979 mengungkapkan dukungan Mossad kepada diktator Chad Hissene Habre yang naik ke tampuk kekuasaan pasca terbunuhnya Presiden Francois Tombalbaye pada 1975. Habre yang terkenal dengan julukan “Pinochet dari Afrika”, kini menjadi pesakitan di pengadilan Senegal setelah terguling pada 1990. Ia menanti vonis atas dakwaan pembantaian ribuan rakyat Chad.

Dokumen CIA lainnya menunjukkan hubungan dekat Israel dengan rezim apartheid Afrika Selatan dan pemerintahan ilegal Rhodesia (sekarang Zimbabwe) yang berhasil digulingkan Patriotic Front di bawah kepemimpinan Robert Mugabe.

Sungut-Sungut Israel lainnya di Amerika Latin:

  1. International Security and Defence Systems (ISDS). Didirikan pada 1982 oleh Leo Gleser, seorang veteran Mossad dan IDF. Spesialisasi ISDS adalah interogasi tawanan. ISDS juga menjadi penyuplai personel keamanan bagi perusahaan-perusahaan minyak Venezuela sebelum kudeta yang gagal terhadap Hugo Chavez. Unjuk rasa pekerja-pekerja minyak anti-Chavez terjadi sebelum kudeta tersebut. ISDS meraup keuntungan dari kerja samanya dengan Amerika pasca 9/11.
  2. Acensa & Shemesh Agrotech. Sebuah perusahaan agrobisnis yang dikelola Yehuda Leitner. Diduga bekerja secara rahasia untuk menyalurkan senjata kepada gerilyawan Nicaragua Contra dan Batalion 3-16, pasukan pembunuh Honduras.
  3. Interseg. Perusahaan alat komunikasi yang berlokasi di Tegucigalpa. Dihubungkan secara kuat dengan Leitner. Perusahaan ini mendapatkan rekomendasi dari Departemen Luar Negeri AS.
  4. NetLine Communication, Inc. Berpusat di Menachem Begin Street, Tel Aviv, perusahaan ini adalah produsen ternama peralatan pengacau sinyal ponsel yang digunakan polisi dan militer di dunia. C-Guard, alat yang pengacau sinyal yang ditemukan di bangunan sebelah Kedutaan Brazil di Tegucigalpa, diproduksi perusahaan ini.

Oct 12, 2009

Obama Raih Nobel Perdamaian, Please...deh!!!

Rakyat Amerika mengembalikan Demokrat kepada kekuasaan di Kongres salah satunya untuk menghentikan perang di Irak dan Afghanistan. Tapi apa yang mereka dapatkan? Tambahan pasukan. Rakyat Amerika pun memilih Barack Obama untuk menghentikan perang di Irak dan Afghanistan. Sejak itu, apa yang mereka dapatkan?

1. tak satu pun kader anti-perang Demokrat ada dalam kabinet Obama (Dennis Kucinich, contohnya).
2. penyambung lidahnya adalah seorang Zionis ekstrimis Rahm Emanuel sebagai Kepala Staf Gedung Putih.
3. eskalasi perang di Afghanistan.
4. perluasan perang ke area-area Pakistan.
5. akselerasi persiapan untuk menyerang Iran (ingat, Obama tidak pernah mencabut opsi militer terhadap Iran).
6. pengadilan terhadap tawanan Guantanamo masih terus berlangsung, UU Patriot masih aktif.
7. para penjahat perang era Bush hidup bebas tanpa investigasi.
8. Val Jones, satu-satunya orang di pemerintahan Obama yang mendukung investigasi baru atas 9/11, dipecat.
9. kesempatan untuk memberi rakyat Amerika jaminan kesehatan yang beradab diabaikan.

Dengan jejak rekam seperti di atas, Obama sudah seharusnya tampak seperti boneka lain yang dikendalikan para elit yang mengendalikan Bush. Tapi tunggu, Komite Nobel justru menghadiahinya dengan Hadiah Nobel Perdamaian 2009.

Tapi anda tidak perlu heran. Hadiah Nobel Perdamaian pernah dianugerahkan kepada figur-figur "warmonger" lainnya, seperti Theodore Roosevelt, Woodrow Wilson, Shimon Peres, Yitzhak Rabin, dan bahkan Henry Kissinger. Ironisnya, Mahatma Ghandi--yang 5 kali dinominasikan--tidak pernah mendapatkan Nobel Perdamaian.

Jadi ini bukan kali pertama Nobel Perdamaian dihadiahkan kepada para penjahat perang, teroris, atau pemimpin imperial.

Ahmadinejad Berdarah Yahudi? Tertawalah Keras-keras!

Dalam kamus kelompok sayap kanan pro-Israel, ada dua cara membunuh karakter musuh mereka. Pertama, menuduh orang itu sebagai anti-Semit (anti-Yahudi). Kedua, menebar isu bahwa orang itu berdarah Yahudi yang membenci Yahudi (self-hating Jew). Dan, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad adalah target terbaru mereka.

Pada 3 Oktober 2009, The Telegraph menurunkan tulisan yang memuat tuduhan Ahmadinejad memiliki akar Yahudi. Di tanah air, tulisan harian Inggris yang kerap merepresentasikan pandangan sayap kanan pro-Israel itu dimuat harian Kompas edisi 7 Oktober 2009.

Dengan meng-“close-up” foto KTP Ahmadinejad yang menunjukkan bahwa sang Presiden dulu bernama belakang "Sabourjian", ahli Iran yang dikutip Telegraph yakin Ahmadinejad adalah Yahudi yang berupaya menyembunyikan identitas masa lalunya lewat sikapnya yang anti-Israel.

"Sabourjian" secara tradisional berasal dari Aradan, tempat kelahiran Ahmadinejad. "Sabour" adalah nama selendang Tallit Yahudi di Persia, sementara "Sabourjian" bisa diartikan sebagai “penenun Sabour”. Nama ini ada dalam daftar nama-nama warga Yahudi di Iran yang dikumpulkan oleh Kementerian Dalam Negeri Iran. Akhiran –jian juga menunjukkan bahwa si pemilik nama berlatar belakang Yahudi.

Tapi, “Nanti dulu”, tulis Meir Javedanfar, analis Timur Tengah Israel kelahiran Iran seperti dimuat harian Inggris lainnya, The Guardian, pada 5 Oktober 2009. “Sebagai orang yang pernah menulis biografinya, saya akan sangat senang mengatakan kepada anda bahwa klaim ini tidaklah akurat. Sabourjian adalah nama yang disematkan kepada para pelukis corak karpet,” jelas Javedanfar. Sebagai catatan, orang Yahudi di Iran adalah komunitas Yahudi paling tua ketimbang Yahudi di kebanyakan negara Eropa. Sehingga, “di Iran orang Islam dan Yahudi kerap berbagi nama belakang yang sama,” lanjutnya.

Menurut Cyrus Safdari, analis Timur Tengah kelahiran Iran lainnya, isu Ahmadinejad sebagai “Yahudi yang membenci keyahudiaannya” merupakan kelanjutan dari propaganda “Ahmadinejad adalah Hitler”. Bukan rahasia lagi jika Hitler secara luas diklaim memiliki akar Yahudi, dan latar belakang inilah yang menyebabkan sang “fuhrer” sangat membenci Yahudi.

Bagian menggelikan dari klaim di Telegraph adalah bahwa –jian merupakan akhiran yang khusus untuk orang Yahudi. Mungkin seseorang harus menjelaskan hal ini kepada George Deukmajian, mantan gubernur California keturunan Armenia. Atau kepada semua orang Armenian lainnya yang selama berabad-abad hidup di Iran dengan nama belakang berakhiran –jian.

Rumor Ahmadinejad seorang Yahudi sebenarnya bukan hal baru. Pada awal 2009, Radio Liberty/Radio Free Europe pernah memuat isu yang sama dengan berlandaskan tulisan blog orang Iran yang anti-Ahmadinejad. Selain itu, semua penulis biografi Ahmadinejad telah secara rinci menulis tentang keluarganya. Alhasil, nama “Sabourjian” bukanlah rahasia lagi yang menuntut media sekelas Telegraph untuk membuktikannya dengan meng-“close-up” KTP Ahmadinejad.

Ayah Ahmadinejad pada awalnya bekerja sebagai petani di sebuah desa di Aradan. Ketika pindah ke kota metropolitan Tehran demi kesempatan ekonomi yang lebih menjanjikan, dia ingin memutus hubungan keluarganya dengan latar belakang petani. Sehingga dia mengubah nama anaknya menjadi Ahmadinejad dan mulai bekerja sebagai pandai besi. Semua biografer menulis ayah Ahmadinejad sejak awal Muslim Syiah yang taat, dan jemaah setia sebuah mesjid di distrik miskin Narmak, selatan Tehran.

Alasan perubahan nama Ahmadinejad lebih berhubungan dengan perjuangan kelas ketimbang hal-hal lainnya. Hampir semua warga pedesaan di Iran mengubah nama belakang mereka ketika pindah ke kota-kota besar. Ini dilakukan untuk menghindari diskriminasi yang dilakukan warga kota ketika itu.

Sementara itu, ibu Ahmadinejad adalah seorang seyyede, gelar bagi perempuan yang keluarganya dipercaya memiliki garis keturunan Nabi Muhammad. Dan pada kenyataannya keluarga ini amat bangga dengan latar belakang ibu mereka. Setiap orang di Aradan memanggil ibu mereka dengan gelas Islam-nya, seyyede.

Jadi untuk rumor yang satu ini, silakan anda tertawa keras-keras.

Bermain Api di Xinjiang

Jaringan televisi nasional Cina, CCTV, pada 4 Agustus 2009, menayangkan pengakuan dari sumber yang tidak biasa. Hemet, adik bungsu Rebiya Kadeer, presiden Kongres Uighur Dunia (WUC), yakin bahwa sang kakak adalah otak di balik kerusuhan 5 Juli yang menewaskan 197 orang itu. “Dia menghubungi saya dari Amerika Serikat pada 5 Juli antara pukul 10.30 dan 11.00 siang waktu Xinjiang. Dia mengatakan sesuatu yang besar akan terjadi.”

Kadeer membantah pernyataan itu dan menganggapnya murni propaganda pemerintah Cina.

“Mother of Uighurs”, julukan Rebiya Kadeer, adalah “the rising star”. Awalnya, perempuan 62 tahun itu lebih dikenal sebagai orang terkaya kelima di Cina dan anggota parlemen Cina mewakili Xinjiang. Pada Nopember 2006, dia terpilih sebagai presiden WUC, organisasi kelompok separatis Uighur yang berbasis di Washington D.C. Kadeer mengalahkan figur-figur lama “Blok Munich”, seperti Isa Dolkun dan Erkin Alptekin. Peran suaminya, Sidik Rouzi, sebagai kepala seksi Uighur pada Radio Free Europe/Radio Liberty diduga kuat ikut mengangkat Kadeer.

Radio Free Europe/Radio Liberty adalah jaringan radio yang menikmati kucuran dana Kongres AS dan The Soros Foundation milik miliuner-filantropi kenamaan George Soros.

National Endowment for Democracy (NED), lembaga lain yang dibentuk dan dibiayai Kongres AS, juga turut menggelontorkan 215 ribu dolar AS setiap tahunnya kepada WUC. Direktur NED, Morton Abramowitz, bukan figur asing bagi aspirasi separatisme di propinsi barat daya Cina tersebut. Pada 2004, bersama Graham Fuller, bekas kepala pos CIA di Ankara, Abramowitz merupakan pemain kunci “proklamasi” negara Turkestan Timur (Xinjiang). Amerika menjadi satu-satunya negara di dunia yang mengakui Turkestan Timur. Upacara proklamasinya dilangsungkan di Capitol Hill, di bawah kibaran bendera-bendera Paman Sam.

Sebuah sumber intelijen melihat hubungan antara Kadeer dengan jaringan kelompok teroris-ultranasionalis Turki, Grey Wolves. Jaringan bisnis retail milik Kadeer diduga digunakan Wolves untuk mencuci uang hasil perdagangan heroin dari Afghanistan ke Asia Tengah. Selama 1960-an hingga 1970-an, semua aktivitas Wolves dikendalikan dari pos CIA di Ankara yang dikepalai Fuller. Wolves menjadi bagian dari “Operasi Gladio”, sebuah kode operasi rahasia anti-komunis NATO yang disokong CIA.

Nama Fuller juga muncul dalam daftar nama-nama yang disebutkan whistleblower FBI, Sibel Deniz Edmond. Mantan penerjemah FBI itu dipecat gara-gara melaporkan kepada atasannya nama-nama pejabat AS yang menjual informasi sensitif kepada intelijen-intelijen Turki dan Israel. Sayang, Edmonds dibungkam jurisprudensi kerahasian negara sehingga gagal bersaksi di pengadilan.

Sumber intelijen yang sama meyakini terjadinya kontak antara Grey Wolves dengan unit-unit Al-Qaeda di tiga perang: Chechnya, Bosnia, dan Kosovo. Munculnya sebuah jaringan baru bernama ETIM (East Turkestan Islamic Movement) dan adanya 22 tawanan Uighur di Kamp Guantanamo ditengarai merupakan buah hasil perkawinan silang Wolves-Al-Qaeda.
Rezim komunis kini memberlakukan hukum milter di Xinjiang. Lebih daripada 30 ribu pasukan dikirim ke Urumqi, ibukota Xinjiang. Sebuah periode baru dari drama konflik di wilayah penting jalur minyak Cina-Asia Tengah itu baru saja dimulai.

Dari Jersey untuk Yerusalem

Nama-nama itu, berikut gelar dan jabatan mereka, mirip sebuah daftar peserta musyawarah dewan kota. Namun sayang, para pemiliknya tidak sedang berada di sebuah ruang rapat, tapi di kantor Biro Penyeledik Federal (FBI) cabang Newark, New Jersey, Amerika Serikat.

Pagi itu, 23 Juli 2009, FBI menggelandang 44 orang, termasuk di antaranya 5 rabbi Yahudi, 3 walikota, dan 2 anggota majelis kota dari negara bagian New Jersey. Mereka dikenai tuduhan praktik pencucian uang, penyuapan, dan penjualan organ manusia.

Beragam aktivitas ilegal dijalankan secara mulus berkat uang “tutup mulut” yang disumpalkan kepada para pejabat kota. Hasilnya lantas “dicuci” bersih melalui lembaga-lembaga keagamaan dan amal Yahudi. Lembaga-lembaga tersebut memang mendapatkan pengecualian pajak. Alhasil, praktik ilegal tersebut nyaris luput dari pantauan radar pemerintah federal.

Namun, tak ada kejahatan sempurna. Adalah Salomon Dwek, salah satu pemain kunci dalam jaringan ini, yang mau bekerja sama dengan FBI sebagai informan. Dwek ditangkap pada 2006 atas tuduhan pemalsuan cek senilai 25 juta dolar. Dwek adalah anggota klan Yahudi berpengaruh di wilayah New York-New Jersey. Ayahnya, Isaac Dwek, merupakan rabbi pada sinagog dan yeshiva (sekolah agama) di kawasan Deal, New Jersey. Deal terkenal karena dukungan komunitas Yahudi setempat kepada partai-partai sayap kanan radikal Israel. Partai Shas, salah satu anggota koalisi pemerintahan Benjamin Netanyahu, diketahui mengais banyak dolar dari kota kecil itu.

Dwek dan kelima rabbi berikut para pejabat lokal itu hanyalah “teri-teri” di lautan para “kakap”. Sejumlah sumber di FBI meyakini bahwa jika mereka yang ditangkap mau “membuka mulut”, maka skandal terbesar di New Jersey ini akan melibatkan lebih banyak lagi para politisi dan pebisnis berpengaruh di New York dan New Jersey.

Satu contoh adalah seseorang berinisial I.M. Dalam dakwaan resmi yang disiapkan bagi salah seorang rabbi, Eliahu Ben Haim asal jemaat Ohel Yaacob di Deal, I.M. dianggap ikut terlibat. I.M. ditengarai sebagai sumber utama dana bagi Rabbi Ben Haim. Berbeda dengan nama-nama lainnya yang disebutkan secara eskplisit di dalam berkas itu, I.M. hanya tampil dalam bentuk inisial.

Dalam pernyataannya, Ben Haim mengatakan bahwa I.M. selama 4 tahun terakhir memerintahkannya untuk mengirimkan telegram kepada sejumlah nama berbeda dari sejumlah lokasi negara yang berbeda. “Ini tidak bisa dipercaya. Aku tidak pernah melihat sesuatu seperti ini sebelumnya,” aku Ben Haim kepada seseorang yang disadap FBI.

Ada kemungkinan para agen federal amat berhati-hati terhadap orang berinisial I.M. Teramat luasnya kontak yang dilakukan orang ini menjadi indikasi bahwa dia figur berpengaruh yang “mencuci” uang dalam jumlah besar, mungkin dari operasi perjudian melalui sejumlah sinagog dan lembaga amal.

Sumber lain mengatakan jika inisial I.M. diungkap, hal itu akan menjadi pukulan berat bagi pemerintahan koalisi Israel yang berkuasa saat ini. Sumber yang sama juga percaya I.M. adalah orang di balik pendanaan kampanye pembangunan pemukiman ilegal Yahudi di Yerusalem Timur dan Tepi Barat yang digalakkan pemerintah Netanyahu.

Meski belum bisa dipastikan, inisial tersebut diduga kuat merujuk kepada Irving Moskowitz, taipan judi Yahudi-Amerika. Moskowitz dikenal luas sebagai pendukung utama lembaga-lembaga tangki pemikir neokonservatif, seperti the Hudson Institute, Jewish Institute for National Security Affairs (JINSA), American Enterprise Institute, dan the Center for Security Policy. Moskowitz juga sejak lama terlibat dalam praktik-praktik pembelian ilegal tanah-tanah bangsa Palestina di Yerusalem Timur. Uangnya yang tak berseri juga mengalir kepada “Ateret Cohanim”, sebuah gerakan ultraortodok yang punya ambisi mendirikan kuil ketiga Yahudi di atas reruntuhan Masjidil Aqsa.

Oct 3, 2009

Kudeta "Si Putih"

Dalam politik, warna sepertinya menjadi amat penting. Tak terkecuali beberapa bulan terakhir ini. Saat bendera-bendera dan kaos-kaos hijau dikenakan para demonstran anti-pemerintah di Tehran, bendera-bendera dan kaos-kaos putih juga tampak di jalan-jalan Tegucigalpa, dimana para pendukung pemerintah Honduras hasil kudeta militer berkumpul.

Namun di Honduras, warna ‘putih’ mungkin punya makna yang lebih jujur. Kudeta militer yang menyeret Presiden Manuel Zelaya dari tempat tidurnya pada Minggu pagi, 28 Juni 2009, lalu didukung oleh kelompok elite kapitalis kulit putih keturunan Eropa. Mantra ‘putih’ pun makin kuat lewat rapalan lidah Enrique Ortez Colindres. Menteri Luar Negeri pertama dari pemerintahan kudeta itu menyebut Presiden Barack Obama, “Anak negro yang tidak tahu apa-apa…”

Tapi putih bukan cuma perkara warna kulit. Kudeta di Honduras memunculkan tiga elemen penyokong yang saling berbagi kepentingan. Ada elite militer hasil tempaan Westen Hemisphere Institute for Securty Cooperation di Fort Benning, Georgia, (d.h. School of the Americas) atau yang kerap disebut “Sekolah para Pembunuh”. Ada kepentingan-kepentingan korporasi pertambangan multinasional di Honduras. Lalu, ada pejabat-pejabat neokonservatif AS yang masih malang-melintang di jagad kebijakan luar negeri pemerintahan Obama.

Panglima militer, sekaligus pemimpin kudeta, Jenderal Romeo Orlando Vasquez Velasquez, geram dengan rencana Zelaya yang akan memindahkan bandara internasional Tegucigalpa dari Toncontin ke Palmerola. Toncontin dipandang bukan lokasi ideal bagi sebuah bandara internasional. Rencana ini akan mengusik keberadaan pangkalan militer Soto Cano/Palmerola milik para mentor Vasquez di Pentagon. Begitu pentingnya Soto Cano bagi Pentagon hingga membuat pangkalan itu dijuliki “kapal induk AS di Amerika Tengah”.

Kebijakan populis Zelaya untuk mereformasi UU pertambangan disertai peninjauan semua konsesi pertambangan dinilai mengancam kepentingan korporasi-korporasi pertambangan multinasional. Sebagian besar korporasi pertambangan yang beroperasi di Honduras berbasis di Kanada. Dalam pertemuan Organisasi Negara-negara Amerika (OAS), Menlu Kanada untuk Kawasan Amerika, Peter Kent, pernah menyarankan agar Zelaya tidak kembali ke Honduras. Kent yang mewakili konstituen Yahudi Toronto adalah pendukung utama CJPAC (Canadian Jewish Political Affairs Committee), sebuah versi AIPAC di Kanada. Banyak perusahaan pertambangan Kanada di Honduras dimiliki oleh para investor asal Israel.

Kemesraan Zelaya dengan blok Amerika Latin anti-kapitalis (ALBA) bentukan Hugo Chavez menghadirkan satu lagi mimpi buruk bagi Washington. Sedikit demi sedikit, teman pergi dari halaman belakang mereka. John Negroponte datang sebagai juru selamat. Hawkish tua peninggalan George W. Bush itu masih dipandang bermanfaat sebagai penasehat Menlu Hillary Clinton.

Negroponte menanam para diplomat neokonservatif dengan tugas utama menetralisasi ekspansi ALBA di kawasan. Duta Besar AS di Honduras, Hugo Llorens, adalah orang kepercayaan Negroponte. Berkat nasehat mantan duta besar AS di Irak ini, Menlu Clinton dilaporkan menolak mengistilahkan apa yang terjadi di Honduras sebagai “kudeta”. Clinton juga menyebut Roberto Micheletti, presiden hasil kudeta, sebagai “pejabat sementara presiden”.
Lantas, apakah Obama tidak ‘berdosa’? Obama memang mengecam kudeta tersebut dan meminta demokrasi dihormati. Namun, Obama tidak mengambil langkah konkret apa pun, termasuk membekukan bantuan ekonomi dan militer. Ini mungkin penjelasan paling kuat tentang di pihak manakah Obama berdiri. Kudeta ‘si putih’ yang didukung ‘si hitam’?