Mar 28, 2010

Perusahaan Inggris Suap Pejabat Migas Indonesia

Di hadapan Pengadilan Southwark Crown, Kerajaan Inggris, Innospec Limited, sebuah perusahaan kimia Inggris, mengaku bersalah telah menyuap pejabat Pertamina dan pejabat-pejabat pemerintahan lain di Indonesia demi mengamankan penjualan produk zat adiktif bahan bakar bertimbal, TEL.. Penyuapan itu terjadi antara 14 Februari 2002 hingga 31 Desember 2006. Atas kejahatan itu, Innospec dikenai hukuman denda sebesar US$12,7 juta, sedangkan individu-individu yang terlibat masih terus menjalani investigasi oleh badan antikorupsi Inggris, Serious Fraud Office (SFO).

Perusahaan ini, Innospec Limited, merupakan anak perusahaan Innospec., sebuah perusahaan yang terdaftar di NASDAQ dan berbasis di Amerika Serikat, dan memproduksi zat adiktif bahan bakar bertimbal yang disebut tetraethyl lead ("TEL"). TEL tidak dapat dijual di Amerika dan Eropa karena terbukti berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Karena itulah, Innospec, sebagai-sebagai satu-satunya produsen TEL yang tersisa di dunia mengalihkan penjualan produknya ke negara-negara yang masih memperbolehkan penggunaan zat ini, seperti Indonesia.

Dalam menjalankan bisnisnya di Indonesia, perusahaan ini menunjuk agen di Indonesia, PT Soegih Interjaya (PTSI), agar memenangkan dan melanjutkan kontrak untuk terus memasok TEL ke Pertamina. Antara periode Februari 2002 hingga Desember 2006, Innospec Limited telah membayar komisi US$11,7 juta untuk PTSI. Dari komisi inilah, suap dibayarkan oleh PTSI kepada pejabat-pejabat Pertamina dan pejabat-pejabat publik lainnya yang berada dalam posisi untuk mendukung kebijakan pembelian TEL.

Penyuapan dilakukan PTSI atas perintah dan pengetahuan dari Innospec. Eksekutif-eksekutif Innospec mengakui tahu bahwa sebagian dari komisi yang dibayarkan kepada PTSI digunakan untuk menyuap, baik pejabat-pejabat Pertamina maupun pejabat-pejabat di level Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Bukan cuma komisi, SFO dalam surat dakwaannya juga mengungkap adanya pos "dana-dana ad hoc", yang salah satunya bahkan diberi nama "Rachmat Sudibyo Fund". Rachmat adalah bekas Direktur Jenderal Migas dan Kepala BP Migas.

Salah satu pos dana khusus juga dibuat untuk melindungi kepentingan utama industri berbasis bahan bakar bertimbal dengan tujuan menghalangi pemberlakukan undang-undang yang melarang penggunaan TEL. Sebenarnya sejak 26 Mei 1999, telah dikeluarkan PP Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara berdasarkan UU Nomor 3 Tahun 1997. Namun menurut surat dakwaan SFO, karena suap tersebutlah, pemerintah Indonesia menunda penerapan bahan bakar bebas timbal hingga 2006.

Surat dakwaan SFO juga memuat tiga nama pejabat Pertaminan dan Kementerian ESDM, seperti Rachmat Sudibyo yang disebut menerima US$265.000 dan US$295.150; Suroso Atmo Martoyo, bekas Direktur Pengolahan Pertamina, yang disebut menerima bagian dari US$ 300.000; dan Mistiko Saleh, Wakil Presiden Direktur Pertamina, yang melakukan perjalanan ke Inggris atas biaya Innospec.

Mar 25, 2010

Presiden Brazil Tolak Ziarahi Herzl

Presiden Brasil menolak mengunjungi makam Theodore Herzl selama kunjungan resmi pertamanya ke Israel.

Presiden Luiz Ignacio Lula da Silva, yang tiba di Israel pada hari Minggu (14/3), menolak untuk menziarahi makam Herzl. Kunjungan ke makam "Bapak Zionisme" itu dijadikan Israel sebagai bagian dari agenda kunjungan setiap pejabat asing tahun ini dalam rangka menghormati ulang tahun ke-150 Herzl. Presiden Lula justru dilaporkan mengunjungi makam Yasser Arafat dalam kunjungannya ke Ramallah.

"Ini merupakan penghinaan terhadap warga Israel dan komunitas Zionis di seluruh dunia," kata kepala World Zionist Organization Hagai Merom. "Menolak meletakkan karangan bunga di makam Herzl adalah sama dengan menolak mengunjungi makam Mustafa Kemal Ataturk di Turki atau makam Mahatma Gandhi di India."

Wapres AS Joe Biden mengunjungi makam itu minggu lalu.

Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman memboikot pidato Lula di depan Knesset untuk memprotes penolakannya untuk mengunjungi makam Herzl. Kementerian Luar Negeri mengatakan bahwa Lieberman ingin menunjukkan kepada pemimpin Brasil itu bahwa Israel memandang serius penolakannya terhadap protokol diplomatik.

Lula berkata sebelum kunjungannya bahwa negara-negara lain (di luar kuartet)seharusnya dilibatkan dalam menengahi konflik Israel dan Palestina.

Peran "Aneh" Amerika di Afghanistan

Minggu lalu (16/3), dilaporkan Presiden Afghanistan Hamid Karzai marah besar dengan terjadinya penangkapan terhadap Mullah Abdul Ghani Baradar, pemimpin nomor 2 Taliban setelah Mullah Mohammed Omar, pada sekitar Februari 2010 di kota pelabuhan Karachi, Pakistan. Penangkapan ini dilakukan aparat keamanan Pakistan yang dibantu intelijen Amerika Serikat (AS). Baradar dan beberapa pemimpin senior Taliban lainnya dilaporkan telah lama menjalin komunikasi rahasia yang intens dengan Pemerintah Karzai dan Utusan Khusus PBB untuk memulai sebuah pembicaraan ke arah perundingan damai yang akan mengakhiri perang 8 tahun di Afghanistan.

Penangkapan Baradar dikhawatirkan akan menutup kembali saluran-saluran komunikasi dengan pemimpin-pemimpin militan Taliban. Kai Eide, bekas Utusan Khusus PBB untuk Afghanistan, seperti dikutip The Guardian, amat menyesalkan aksi penangkapan ini. Menurut Eide, tindakan ini berefek negatif bagi kemungkinan untuk melanjutkan proses politik yang sangat penting bagi perdamaian. Pembicaraan damai dengan Taliban, bagi Eide, adalah satu-satunya cara untuk mengakhiri perang di Afghanistan. Dan, Taliban sudah membuka diri untuk hal ini.

Hamid Gul, mantan direktur badan intelijen Pakistan yang kerap mengkritik peran AS di Afghanistan, mengatakan bahwa beberapa pemimpin senior Taliban mempunyai kehendak kuat untuk dialog. Meskipun untuk itu, mereka mengajukan tiga prasyarat kepada AS, yakni jadwal yang lebih jelas tentang penarikan mundur pasukan; berhenti melabeli mereka "teroris", dan membebaskan semua tahanan Taliban yang dipenjara, baik di Pakistan maupun Afghanistan.

Namun tampaknya, keinginan Taliban akan bertepuk sebelah tangan. Menteri Pertahanan AS Robert Gates menyatakan adalah terlalu dini untuk mengharapkan Taliban mau berdamai. Bagi Gates, cuma kekalahan secara militer yang bisa membuat kelompok militan yang dituding melindungi Osama bin Laden itu datang ke meja perundingan damai. Setali tiga uang, Menteri Luar Negeri Hillary Clinton juga sangat skeptis bahwa pemimpin Taliban akan bersedia meninggalkan "cara-cara kekerasan".

Permainan AS dengan Mullah Omar?

Pada 18 Februari 2010, sebuah sumber intelijen melaporkan bahwa Baradar diberi jaminan untuk melakukan perjalanan dalam rangka bertemu dengan diplomat Jepang dan Eropa yang menawarkan jutaan dolar bagi Taliban dengan syarat mereka mengintegrasikan kekuatan ke dalam pemerintah Afghanistan. Ketika Pentagon dan CIA mengetahui adanya pembicaraan Taliban dengan Eropa dan Jepang serta rincian rencana perjalanan Baradar dengan para utusan tersebut, CIA dan mitra Pakistan-nya menangkap Baradar.

Seperti dikutip dari AP, seorang pejabat intelijen di selatan Afghanistan yang menolak untuk menyebutkan namanya mengatakan bahwa orang yang memberi informasi kepada CIA tentang gerakan Baradar di Karachi itu tak lain adalah Mullah Omar. Rupanya, Mullah Omar cemas akan kedudukan Baradar yang semakin lebih populer ketimbang dirinya di kalangan Taliban.

Hubungan Mullah Omar dengan CIA juga dilaporkan terjadi ketika Omar dibiarkan untuk melarikan diri dari Kandahar pada November 2001 saat pasukan AS mengepung kota itu. Omar, menurut sumber-sumber intelijen, terus mempertahankan saluran komunikasi dengan CIA melalui ISI dan aset-aset intelijen di Pakistan dan Afghanistan.

Beberapa serangan terhadap pasukan AS di Afghanistan juga dilaporkan sebenarnya dilaksanakan oleh tentara-tentara bayaran yang digaji oleh seorang pengusaha berbasis di Dubai yang mengintimidasi para pejabat AS untuk memberikan kontrak menguntungkan kepada perusahaannya. Dalam sebuah kasus, sekelompok Afghanistan, yang dituding sebagai Taliban, menelepon komandan Pangkalan Udara AS di Bagram dan mengancam akan melancarkan serangan mortir kecuali kelompoknya menerima kontrak untuk mengirimkan bahan bakar ke pangkalan. Penelepon dilaporkan berangkat ke Dubai dari Afghanistan pada hari yang sama.

Krisis di Afghanistan tampaknya lebih rumit daripada yang pernah orang bayangkan.

Mar 19, 2010

Pemerintah Obama Cabut Visa Aktivis Irlandia Anti Penahanan Ekstrajudisial

Visa multiple-entry 10 tahun Amerika Serikat milik Edward Horgan, aktivis terkenal Irlandia dan mantan perwira Angkatan Darat Irlandia, telah dicabut oleh pemerintahan Barack Obama tanpa penjelasan. Horgan percaya bahwa pencabutan itu terkait dengan prinsipnya dalam melawan kebijakan penahanan ekstrajudisial yang dilakukan AS di beberapa negara, khususnya menentang penggunaan Bandar Udara Shannon di Irlandia barat sebagai persinggahan bagi penerbangan-penerbangan tahanan ekstrajudisial AS. (Note: Perubahan, Tuan Obama?]

Mar 12, 2010

Perlukah Tembak Mati Teroris?

Jumat, 12 Maret 2010 | KOMPAS

Noor Huda Ismail

Apresiasi layak diberikan kepada pihak kepolisian terhadap kesigapan mereka dalam meredam kemungkinan adanya serangan terorisme di Indonesia dengan menangkap dan bahkan menembak mati tersangka tindak pidana teroris kelas dunia, seperti Dulmatin.

Meski demikian, masyarakat percaya tim Densus 88 Antiteror sebenarnya bisa menyergap Dulmatin secara hidup-hidup sebab sebelum penyergapan, polisi telah mengintai target cukup lama dan membuat kalkulasi, serta pemburuan dan penyergapan seperti ini bukan kali pertama sejak Bom Bali I. Dua orang (kaki tangan Dulmatin) yang tewas saat hendak kabur dengan sepeda motor, polisi sebenarnya hanya perlu melumpuhkan saja, tidak harus menewaskan mereka.

Status hukum Dulmatin sendiri masih tersangka. Dan, hukum yang berlaku di negeri ini menggunakan asas hukum praduga tak bersalah. Seseorang (tersangka) tidak seharusnya dieksekusi, apalagi ditembak mati (judicial killing) tanpa melalui proses peradilan. Dalam kasus penyergapan Dulmatin, saya sulit membayangkan adanya perlawanan berarti yang dilakukan Dulmatin, yang waktu itu tengah berada di bilik warnet yang sempit, walaupun polisi beralasan bahwa Dulmatin bersenjata dan hendak menembakkan pistol ke arah polisi. Kasus ini juga terjadi pada penembakan Saefudin Juhri.

Sel terputus

Terlepas dari alasan di atas, ada faktor pragmatis yang penting bahwa Dulmatin seharusnya tetap hidup. Dulmatin adalah orang penting dalam dunia pergerakan aksi jihad bom di wilayah Indonesia. Kepandaiannya dalam merekrut orang untuk terlibat jihad konon melebihi kemampuan Noordin M Top dan kemampuannya merakit bom juga tak kalah dari Dr Azahari. Jika Dulmatin mati, banyak informasi yang akan hilang selama masa buronnya sejak 2002. Bayangkan, berapa banyak orang yang sudah tersentuh pemikiran Dulmatin ketika berada di Indonesia, tetapi tidak terdeteksi sebab jaringan ini bekerja dengan cara sel terputus. Sangat mustahil kita bisa menggali perkembangan gerakan dari orang yang mungkin berpangkat ”kopral”.

Kasus bom di dua hotel, yakni JW Marriot dan Rizt Carlton, pada 17 Juli 2009 harus menjadi catatan. Polisi memang telah mengungkap siapa pelaku di balik pengeboman itu. Ada Noordin M Top dan Saefudin Juhri bin Jaleni yang menjadi otak dalam aksi tersebut. Namun, penangkapan itu sebenarnya tidak mengungkap secara tuntas persoalan teroris di Indonesia. Dua orang yang seharusnya menjadi kunci untuk menjelaskan aksinya itu malah tewas dalam penyergapan polisi. Sementara orang-orang yang ditangkap hanyalah orang bawahan yang tidak saling kenal karena sel terputus tersebut. Mereka yang sudah ditangkap dan sedang diadili di pengadilan negeri Jakarta Selatan, seperti Amir Abdillah, Aris Susanto, Muhammad Jibriel, dan Ali (warga negara Arab Saudi), tidak saling kenal. Baru saling kenal setelah ditahanan dalam kasus yang sama. Akhirnya, pemaparan mengenai siapa orang yang membiayai untuk operasi bom tersebut menjadi misterius.

Dalam kasus kelompok Palembang, para terhukum kasus teroris mengatakan, pasokan senjata dan bahan bom yang dirakit diberikan oleh Noordin M Top. Namun, apakah hakim bisa mengonfrontir ungkapan mereka bahwa apakah senjata dan bahan itu benar-benar dari Noordin M Top? Saya melihat, untuk kasus persidangan bom Kuningan, para terdakwa bisa saja mengarahkan semua tuduhan tersebut ke Juhri dan Noordin. Jika sudah begitu, bagaimana mengonfrontirnya?

Isu konspirasi

Saya membayangkan jika Dulmatin dan Juhri ini akan membantu masyarakat untuk meyakinkan bahwa aksi terorisme oleh kelompok yang mengatasnamakan Islam adalah nyata, bukan konspirasi. Polisi sebenarnya sudah bisa melakukan langkah itu ketika menangkap aktor-aktor di balik bom Bali 1, antara lain Imam Samudra, Mukhlas, dan Amrozi. Inilah fakta riil. Akan tetapi, itu saja tidak cukup untuk meyakinkan masyarakat untuk menjawab isu konspirasi.

Dengan demikian, jika polisi mampu menangkap hidup tokoh-tokoh penting dalam jaringan teroris, hal itu akan melegitimasi operasi polisi sendiri. Publik dapat menyaksikan sendiri bahwa ancaman terorisme yang ”dinarasikan” polisi atau pemerintah adalah nyata, bukan rekaan. Dulmatin dan para tokoh lainnya dapat menjadi contoh hidup dan konkret narasi terorisme itu. Ketika tokoh-tokoh itu ditangkap mati polisi, narasi terorisme seolah terkubur bersama jasad mereka.

Penyergapan dengan cara menembak mati memang memiliki dampak shock therapy kepada masyarakat bahwa inilah akibat bila terlibat dalam jaringan teroris. Ditembak mati tanpa proses peradilan. Dalam jangka pendek, strategi ini memang cukup berhasil. Namun, perlu diingat, kelompok atau orang yang sudah dibangun pemahamannya dengan jihad kekerasan adalah orang-orang yang siap mati. Mereka selalu mengatakan bahwa kematian adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu untuk menghadap surga Tuhan dan penjara adalah hanyalah tamasya untuk bisa beribadah secara vertikal kepada Tuhan. Bagi para ”jihadis”, shock therapy seperti itu tak berpengaruh. Kelompok teroris akan terus berkembang biak dengan caranya.

Ada hal yang memang dilematis ketika Dulmatin ditangkap hidup-hidup oleh polisi. Meski sudah dipenjara, ia masih bisa merekrut orang dan tetap bisa menyebarkan ideologi kekerasannya. Imam Samudra, contohnya, ketika di penjara masih bisa memberikan spirit untuk membom Bali lagi. Bahkan, dia bisa merekrut tahanan-tahanan yang ada di penjara, termasuk para sipir.

Namun, alasan ini tidak sebanding jika harus dijadikan alasan untuk memilih opsi mati orang-orang penting dalam kasus pemboman di Indonesia sebab yang justru harus dilakukan adalah memperbaiki sistem lembaga permasyarakatan di Indonesia dengan membenahi perspektif jihad kelompok ini. Penting juga bagi para jaksa yang tergabung dengan satuan tugas anti- teroris memahami pola-pola ideologi mereka, bukan hanya sekadar mengungkap fakta hukum secara materiil.

Noor Huda Ismail Alumnus Ponpes Al-Mukmin, Ngruki; Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian yang Merehabilitasi Mantan-mantan Kombatan

Mar 5, 2010

"The Rigis", Shah Iran, dan Neokon Amerika

Lupakan Ahmad Chalabi dan "Curveball," kini ada aksi baru Neokon di kawasan - mereka adalah keluarga Rigi (the Rigis) dari Jundullah, kelompok teroris Baluchi dukungan CIA yang beroperasi di tanah Pakistan.

Iran tidak hanya berhasil meringkus Abdolmalek Rigi, kepala kelompok teroris Jundallah yang aktif di Provinsi Sistan-Baluchistan, Iran, saudaranya Abdolhamid Rigi, dan memperoleh informasi berharga tentang operasi intelijen CIA terhadap Iran, tetapi juga telah mampu menghubungkan kelompok Jundullah kepada para Neokon yang berbasis di Washington yang menjadi garda depan bagi kepentingan Israel dan restorasi kekuasaan Shah Iran. Beberapa kepentingan Neokon Washington telah dipromosikan dalam propaganda pra-Perang Irak lewat tangan Ahmad Chalabi dari Iraqi National Congress.

Menurut sejumlah sumber intelijen, dukungan jaringan bagi Jundullah di Washington sebagian besarnya dikreasikan oleh Richard Holbrooke, pemikir Neokon, beserta "mitra gelap" dari perusahaan miliknya Perseus LLC, yakni George Soros plus barisan LSM anti-Iran yang didanai Open Society Institute. Dana ekuitas Perseus terkait dengan Soros melalui Perseus-Soros BioPharmaceutical Fund, L.P.

Holbrooke juga menjabat sebagai Direktur American Himalayan Foundation yang anti-Cina. Yayasan ini dipimpin oleh konglomerat industri pertahanan yang juga suami Senator Dianne Feinstein (D-CA), Richard Blum. Strategi Holbrooke di Asia Tengah adalah mengacaukan pengembangan jaringan pipa minyak dan gas alam trans-Asia yang melalui negara-negara seperti Turkmenistan, Iran, dan Uzbekistan menuju Cina.

Holbrooke juga terlibat dalam berbagai manipulasi pemilu lewat keanggotaannya sebagai dewan bagi National Endowment for Democracy (NED) dan sebagai anggota dewan penasihat Public Strategies, Inc (PSI), yang pada 2004 menuai kontroversi karena memperkenalkan Diebold Election Systems. PSI sekarang dipimpin oleh Dan Bartlett, seorang mantan penasihat senior untuk Presiden George W. Bush.

Yang lebih problematis bagi hubungan Amerika dengan Iran adalah kelompok "United Against a Nuclear Iran" yang didirikan dan diketuai Holbrooke, dimana dewan penasihat kelompok ini meliputi para Neokon pro-Israel seperti James Woolsey dan sesama "Trojan Horse" pro-Israel dalam pemerintahan Obama, Dennis Ross.

Penasihat senior bagi Holbrooke di Departemen Luar Negeri adalah intelektual Amerika-Iran Vali Nasr, seorang mantan profesor di Naval Postgraduate School di Monterey, California. Selama pemerintahan Bush, Nasr merupakan konsultan Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice dalam hubungan AS-Iran. Nasr dekat dengan keluarga Shah Iran yang diasingkan. Ayah Nasr (Hossen Nasr) adalah kepala staf istri Shah, Ratu Farah.

Abdolhamid Rigi telah mengungkapkan bahwa jurubicara "The Rigis" dengan Washington dan CIA adalah sepupu ayahnya, Amanollah-Khan Rigi, yang, seperti juga ayah Nasr, adalah seorang anggota istana Shah. Pada tahun 2005, pemikir American Enterprise Institute (AEI)Michael Ledeen, seorang pendukung fanatik kelompok teroris anti-Iran lainnya, Mujahidin e Khalq (MEK), mengundang Amanollah-Khan Rigi pada sebuah konferensi tentang "Memfederalisasikan Iran" di Wohlstetter Conference Center, Washngton, D.C. Di samping wakil "baluchi" seperti Rigi, juga hadir dalam konferensi itu tokoh-tokoh separatis Kurdi dan Azeri. Di dalam konferensi, Rigi membual bahwa ia pemimpin dari 300.000 anggota suku Baluchi.

Amanollah-Khan Rigi juga sangat terlibat dalam operasi Neokon lainnya di Washington, termasuk keanggotaannya sebagai dewan penasehat bagi Alliance for Democracy in Iran (ADI), sebuah kelompok yang terkait dengan lembaga pemikir Neokon pro-Israel seperti Hudson Institute, Foundation for the Defense of Democracies, dan Jewish Institute for National Security Affair (JINSA).

Mungkin akan sulit untuk dipercaya, bahwa Amanollah-Khan Rigi mungkin penipu paling ulung ketimbang Ahmad Chalabi. Rigi adalah seorang agen real estate yang terdaftar di New Jersey dan terlibat dalam upaya untuk memanipulasi jasad manusia yang riil sebagai mumi. Mumi itu ia sebut sebagai mumi putri Persia. "Mumi" itu ditawarkan untuk dijual pada Oktober 2000 oleh Wali Mohammed Rigi, seorang pemimpin suku Baluchi dan pengusaha ternak unta di Pakistan dekat perbatasan Afghanistan. Rigi mengatakan ia memperoleh mumi itu dari penjual Iran setelah gempa bumi di Quetta, Pakistan, dan mumi itu akan dijual dengan harga antara $ 11 dan $ 30 juta.

Namun, belakangan ditemukan bahwa mumi itu bukanlah putri Persia kuno tetapi seorang wanita muda yang mungkin telah dibunuh pada tahun 1996. Polisi Pakistan mulai menangkapi sejumlah orang Baluchi dan yang lainnya untuk kasus pembunuhan.

Penangkapan Abdolmalek Rigi oleh operasi-gabungan intelijen Iran-pakistan dalam "operasi dua pesawat" kini telah dikonfirmasi oleh Kementerian Luar Negeri Kyrgyzstan. Pemerintah Kyrgyz sekarang menyatakan bahwa Rigi tidak ditangkap oleh Iran di atas pesawat maskapai penerbangan Kyrgystan yang dipaksa mendarat di Bandar Abbas, Iran, setelah lepas landas dari Dubai.

Meskipun otoritas penerbangan Kyrgyz melaporkan bahwa dua orang asing yang ada di dalam pesawat itu ditahan di Bandar Abbas, namun pemerintah Kirgizstan kini mengklaim bahwa tidak ada warga negara asing yang ditangkap di atas pesawat. Pemerintah Bishkek berusaha untuk memberikan penyangkalan yang mungkin bahwa Iran dan Pakistan telah melakukan "operasi umpan" dimana Rigi diambil langsung dari Pakistan ke Iran pada pesawat kecil yang lain, sementara umpannya adalah agen yang menyamar sebagai Rigi beserta ajudannya, terlihat dibawa keluar dari pesawat Kirgiz di Iran.

Sumber-sumber intelijen juga telah mempelajari bahwa Holbrooke bertemu dengan bekas mantan agen Savak era Shah yang bersuku Azeri di Tbilisi, Georgia. Rencana Holbrooke tampaknya untuk mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan anti-Iran dengan si penyelundup dari Keluarga Rigi di Pakistan, Amanollah-Khan Rigi - penipu CIA yang beroperasi dengan cara yang sama seperti Chalabi - dan Nasr, seorang pseudo-intelektual yang terkait dengan keluarga Shah di luar negeri.

Strategi Holbrooke bisa memiliki efek bumerang di Uzbekistan dan Rusia. Ternyata Abdolmalek Rigi mendorong para mantan gerilyawan Gerakan Islam Uzbekistan di Pangkalan Udara Manas untuk menuju ke lembah Fergana, Tajikistan, agar terlibat dalam kegiatan pelatihan di bawah bimbingan CIA. Intelijen Rusia dan Uzbek telah mendapatkan sinyal kewaspadaan tentang operasi CIA ini dan telah mengambil tindakan untuk menghadapinya.

Mar 3, 2010

Misteri Penangkapan Abdolmalek Rigi

Penangkapan terhadap pemimpin kelompok teroris JUNDULLAH yang didukung CIA, Abdolmalek Rigi, oleh Vevak pada 23 Februari 2010 lalu masih menyisakan sejumlah pertanyaan, terutama yang terkait dengan keterlibatan nama “Kyrgyzstan” dan “Pakistan”.

Terdapat berbagai versi tentang bagaimana Rigi diringkus. Versi pertama, misalnya, menyatakan Rigi ditangkap ketika berada dalam sebuah pesawat menuju Kyrgyzstan via Dubai. Pesawat itu diperintahkan untuk mendarat di Bandar Abbas, Iran, dan kemudian Rigi pun digelandang. Versi lainnya mengklaim bahwa Rigi ditahan saat dalam penerbangan dari Pakistan ke Dubai. Aljazeera memiliki versi yang berbeda. Menurut jaringan televisi satelit Qatar tersebut, Rigi ditangkap oleh aparat keamanan Pakistan dan kemudian diserahkan kepada Iran.

Satu persoalan terkait dengan “pesawat”. Beberapa media Barat, seperti Daily Telegraph, melaporkan bahwa penangkapan berlangsung dalam sebuah pesawat komersil milik maskapai “Kyrgyzstan Airlines” dengan nomor penerbangan “HQ454”. Kode “QH” adalah penanda penerbangan untuk maskapai “Kyrgyzstan” dengan call sign “ALTYN AVIA” bukan maskapai “Kyrgyzstan Airlines” yang memiliki call sign “KYRGYZ”, sebagaimana yang dilaporkan Daily Telegraph. Ini dua maskapai yang berbeda. Kyrgyzstan Airlines memiliki kode penerbangan “R8” bukan “QH”. Sementara itu juga, “Kyrgyzstan Airlines” hanya melayani rute Islamabad-Bishkek, tanpa melalui Dubai seperti halnya “Kyrgyzstan” yang berkode “QH”.

Lebih jauh, foto (menggambarkan 4 agen Vevak bersama Rigi turun dari pesawat) yang dirilis lebih menunjukkan semacam pesawat jet kecil, kemungkinan Lear atau Dassault Falcon, yang lebih kecil daripada sebuah pesawat komersil. Apalagi “Kyrgyzstan” hanya memiliki armada yang terdiri dari 3 Antonov AN-24s, 1 Tupolev TU-134a, dan 2 Yakovlev YAK-40s.

Jika demikian, terlihat bahwa informasi yang sejauh ini beredar lebih bertujuan sebagai kompetisi disinformasi. Mengingat penjelasan di atas, salah satu skenario yang mungkin adalah bahwa ISI Pakistan menjalin kerja sama dengan Vevak Iran untuk menyerahkan Rigi yang terbang dengan sebuah pesawat jet kecil di Bandar Abbas.

Persoalan lainnya, mungkinkah Pakistan sebagai sekutu AS dalam “perang melawan teror” bisa bekerja sama dengan Iran untuk menyerahkan salah satu aset “nomor wahid” CIA?

Tampaknya ada aksioma penting, “musuh dari musuhku adalah temanku”, yang diabaikan AS.

Besar kemungkinan Tehran tidak hanya mengetahui sejauh mana dukungan CIA untuk gerakan Baluchis anti-pemerintah Iran, tetapi juga dukungan Langley bagi gerakan separatis Baluchis di Pakistan dan bagaimana CIA telah mempersenjatai dan mensuplai dukungan logistik bagi kelompok Baluchis anti-Pakistan tersebut – sebuah fakta yang lebih lanjut akan menjauhkan Islamabad dari Washington dan membantu membentuk aliansi intelijen strategis antara Pakistan dan Iran.

Kepentingan bersama intelijen Iran dan Pakistan adalah operasi CIA di pangkalan udara Shamshi, Pakistan, yang mana kendalinya diserahkan pemerintah Pakistan kepada CIA pada Oktober 2001. Personel Blackwater/Xe juga beroperasi dari pangkalan Shamshi, sebuah transit penting yang menghubungkan antara Armada Kelima AS di Kawasan Teluk dengan pangkalan militer AS di Afghanistan.

Dukungan CIA untuk operasi Baluchis anti-Iran juga memiliki efek merestorasi kekuatan Baluchi Liberation Army (BLA) yang beroperasi di Pakistan. Laporan intelijen menyebutkan bahwa amunisi CIA yang ditujukan untuk gerilyawan JUNDULLAH justru jatuh ke tangan BLA, khususnya di kalangan klan-klan Bugti, Marri, dan Mengal yang kini mengancam akan mengganggu jaringan pipa trans-Pakistan ke pelabuhan Gwadar, Pakistan, yang sedang dikembangkan perusahaan konstruksi Cina. AS tampaknya tidak mampu atau tidak mau membedakan antara Baluchi-Iran dengan Baluchi-Pakistan serta agenda-agenda mereka masing-masing.

Pakistan juga mencurigai permainan politik energi AS. Dengan memprovokasi Baluchi di kedua sisi perbatasan, Pakistan dan Iran, CIA dicurigai hendak menggagalkan proyek jaringan pipa gas alam dari Qatar ke Pakistan yang akan melalui Iran.
Elemen-elemen intelijen Pakistan yang tidak senang dengan kebijakan “dua kaki” Amerika mengambil inisiatif untuk menginterupsi rencana perjalanan Rigi ke pangkalan udara AS di Manas, Bishkek-Kyrgyzstan.

Skenarionya, Rigi akan diterbangkan ke Dubai dari Gwadar dengan menggunakan pesawat carteran CIA-ISI setelah sebelumnya dikawal oleh tim Amerika bersama dengan tim Pakistan dari pangkalan udara Shamshi di Pakistan. Rigi dan tim Amerika percaya pesawat akan terbang ke Dubai untuk transit sebelum melanjutkan penerbangan dengan “QH454” ke Manas, Bishkek, dalam rangka menemui “orang penting” Amerika.
Tanpa sepengetahuan orang Amerika yang tidak ikut terbang, agen-agen Pakistan yang ada di pesawat kemudian memerintahkan pilot untuk mengubah arah menuju Bandar Abbas, dengan mengatakan bahwa ini misi rahasia militer Pakistan. Pesawat mendarat di Bandar Abbas dan Rigi pun ditahan.

Dalam sebuah wawancara di TV Iran setelah ditangkap, Rigi mengatakan bahwa dia terbang ke Bishkek untuk memenuhi undangan dari “orang penting” Amerika. Pertanyaan yang tersisa adalah mengapa Rigi melakukan penerbangan ke pangkalan udara AS di Manas. Siapakah “orang penting” AS yang hendak menemuinya?

Sebuah analisis intelijen meyakini bahwa dinas intelijen Iran bukan hanya berhasil menangkap salah satu teroris made-in CIA tetapi juga mampu membuat Utusan Khusus AS untuk Afghanistan dan Pakistan, Richard Holbrooke, berlama-lama menanti Abdolmalek Rigi yang tak kunjung datang di Bishkek.

Iran, dalam sebuah langkah cerdas, menangkap Rigi yang terbang dengan sebuah pesawat jet kecil dari Pakistan ke Dubai, sementara dunia percaya Rigi diambil dari sebuah pesawat Kyrgyzstan yang terbang dari Dubai ke Bishkek dan selanjutnya dipaksa mendarat jet Angkatan Udara Iran di Bandar Abbas.

Menjelang saat pertemuan yang direncanakan dengan Rigi, Holbrooke sedang dalam perjalanan di Asia Tengah dan Afghanistan “tanpa agenda yang pasti”. Holbrooke berada di Dushanbe, Tajikistan, pada 19 Februari.

Holbrooke mendarat di Manas pada 19 Februari dan berbicara dengan pasukan AS di Manas. Holbrooke kemudian berangkat ke Afghanistan tetapi kembali ke Manas pada 21 Februari, sehari sebelum pertemuan yang direncanakan dengan Rigi. Rilis resmi menyatakan Holbrooke kembali ke Kyrgyzstan untuk pertemuan resmi dengan Presiden Kyrgyzstan, Kurmanbek Bakiyev. Iran melakukan “permainan” dengan penerbangan “Kyrgyzstan” QH454 untuk membuat Holbrooke tetap menunggu (dengan harap-harap cemas) Rigi di Manas.

Saat pesawat tiba, Holbrooke diberitahu bahwa Rigi tidak berada dalam pesawat. Holbrooke malu dan marah, lalu meninggalkan Kirgizstan setelah mengetahui Iran berhasil menangkap Rigi. Holbrooke, salah satu Zionis Amerika paling berpengaruh dalam pemerintahan Obama, benar-benar dipermalukan oleh operasi intelijen yang direncanakan dengan baik oleh Iran. Holbrooke kemudian terbang ke Tbilisi, Georgia, dan mengunjungi Pusat Pelatihan Militer Krtsanisi seraya mengucapkan terima kasih kepada Presiden Georgia, Mikhael Saakashvili, atas kesediannya mengirimkan 1000 pasukan Georgia ke Afghanistan. Hanya itu yang Holbrooke bisa lakukan untuk membantu menutupi kekalahan besar operasi intelijen Amerika di kawasan.

Iran dan CIA/Kementerian Luar Negeri AS, dengan alasan-alasan mereka masing-masing, segera melakukan operasi disinformasi. Pemerintah Obama berupaya menyangkal peran AS dalam mendukung gerakan Rigi, sedangkan Iran berusaha untuk melindungi keterlibatan Pakistan dalam penangkapan pemimpin JUNDULLAH itu.

Mar 2, 2010

Dua Pukulan Telak Buat AS dan Israel di Timur Tengah

Beberapa bulan terakhir ini, dunia menyaksikan dua peristiwa aktual di Timur Tengah yang memukul secara telak aliansi strategis intelijen AS dan Israel.

Peristiwa pertama adalah keberhasilan pemerintah Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan di Turki mengungkap pelaku perencana kudeta pada tahun 2003. Ankara menahan 51 komandan AD dan AU Turki dan beberapa perwira tinggi atas tuduhan terlibat merencanakan operasi bersandi “OPERATION SLEDGEHAMMER” melawan pemerintahan AKP di bawah pimpinan Erdogan. Informasi intelijen menyebutkan keterlibatan signifikan dari Mossad dan CIA dengan rencana kudeta. Rezim Erdogan dikenal sebagai pemerintahan Turki yang paling keras terhadap Israel dan kebijakan AS di Timur Tengah. Sementara pada saat yang sama, Turki mulai membangun aliansi strategis dengan Iran dan secara terang-terangan menentang kemungkinan serangan militer AS/Israel ke Iran.

Peristiwa kedua adalah penangkapan pemimpin kelompok teroris “JUNDULLAH” Abdolmalek Rigi oleh agen-agen intelijen Iran. Rigi diringkus saat dalam penerbangan dari Pakistan menuju Dubai. Kementerian Intelijen Iran mengungkapkan bahwa Rigi memiliki paspor “aspal” Afghanistan yang dikeluarkan AS dan sebuah KTP “aspal” Pakistan.

Rigi diburu karena serangkaian aksi teroris yang menewaskan puluhan warga sipil di wilayah Baluchistan, Iran. Sebelumnya, terdapat laporan bahwa Pakistan berhasil menangkap Rigi namun kemudian dilepaskan atas tekanan CIA. Saudara laki-lakinya, Abdolhamid Rigi yang lebih dulu berada dalam tahanan Iran mengakui bahwa aksi-aksi JUNDULLAH di bawah perintah CIA. Abdolmalek Rigi juga diduga bergerak di bawah perintah Jenderal Stanley McChrystal, komandan militer AS di Afghanistan. Sehari sebelum ditangkap di udara, agen-agen intelijen Iran mendapati Rigi berada di pangkalan militer AS di Afghanistan. JUNDULLAH juga dihubungkan dengan dinas intelijen Inggris M-16.

Iran menunda pelaksanaan eksekusi terhadap Abdolhamid Rigi karena ia berguna dalam memberikan informasi tentang operasi-operasi anti-Iran CIA yang dilakukan di sekitar perbatasan dengan Pakistan dan Afghanistan. Oktober tahun lalu, bekas agen CIA Robert Baer mengkonfirmasi hubungan Rigi dengan CIA.