Apr 21, 2010

Pesan Ayatullah Khamenei pada Konferensi Internasional Perlucutan Senjata Nuklir 2010

Dengan Nama Allah, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Saya ingin mengucapkan selamat datang kepada tamu-tamu terhormat yang telah berkumpul di sini. Adalah suatu kehormatan bahwa Republik Islam Iran menjadi tuan rumah Konferensi Internasional tentang Perlucutan Senjata Nuklir hari ini. Mudah-mudahan, Anda akan memanfaatkan kesempatan ini dan menunjukkan kepada masyarakat manusia dengan hasil abadi dan berharga yang Anda akan peroleh melalui diskusi dan konsultasi.

Studi tentang atom dan ilmu nuklir adalah salah satu prestasi terbesar manusia yang bisa dan harus digunakan untuk melayani kesejahteraan bangsa-bangsa di seluruh dunia serta pertumbuhan dan perkembangan semua masyarakat manusia. Aplikasi ilmu nuklir mencakup berbagai kebutuhan medis dan industri serta kebutuhan energi, semuanya dipandang cukup penting. Untuk alasan ini, dapat dikatakan bahwa teknologi nuklir telah mendapatkan posisi penting dalam bidang-bidang ekonomi dari kehidupan. Dan dengan berlalunya waktu serta meningkatnya kebutuhan industri, medis, dan energi, peran penting teknologi nuklir akan terus tumbuh, dan upaya untuk mencapai dan memanfaatkan energi nuklir pun akan meningkat. Sama seperti bangsa-bangsa lain di dunia, bangsa-bangsa Timur Tengah yang haus akan perdamaian, keamanan, dan kemajuan memiliki hak untuk menjamin posisi ekonomi mereka berada pada posisi yang superior bagi generasi masa depan mereka melalui pemanfaatan teknologi ini. Mencegah negara-negara di wilayah ini untuk menaruh perhatian serius terhadap hak alamiah dan berharga ini (hak memanfaatkan nuklir damai—red) mungkin merupaskan salah satu tujuan di balik penciptaan keraguan tentang program nuklir damai Republik Islam Iran.

Hal yang menarik adalah bahwa saat ini satu-satunya kriminal nuklir di dunia justru secara keliru mengklaim hendak memerangi proliferasi senjata nuklir. Sementara itu, tidak ada keraguan bahwa mereka tidak akan mengambil langkah-langkah serius dalam hal ini, dan itu tidak akan pernah mereka lakukan. Jika klaim Amerika, bahwa mereka memerangi proliferasi senjata nuklir, tidak palsu, maka dapatkah rezim Zionis mengubah tanah Palestina yang diduduki menjadi sebuah gudang senjata dimana sejumlah besar persenjataan nuklir disimpan sementara pada saat yang sama rezim itu menolak untuk menghormati regulasi internasional dalam hal ini, terutama NPT?

Sayangnya, meskipun kata atom dikaitkan dengan kemajuan pengetahuan manusia, ia juga terkait dengan peristiwa paling mengerikan dalam sejarah dan genosida terbesar serta penyalahgunaan pencapaian ilmiah manusia. Meskipun banyak negara telah berupaya untuk memproduksi dan mengumpulkan senjata nuklir—yang dengan sendirinya dapat dianggap sebagai awal untuk melakukan kejahatan serius serta membahayakan perdamaian global—hanya ada satu pemerintah yang telah melakukan kejahatan nuklir sejauh ini. Hanya pemerintah Amerika Serikat yang telah menyerang orang-orang tertindas di Hiroshima dan Nagasaki dengan bom atom dalam perang yang tidak adil dan tidak manusiawi.

Sejak senjata nuklir yang pertama kali diledakkan oleh pemerintah AS di Hiroshima dan Nagasaki menciptakan bencana kemanusiaan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah dan mengekspos keamanan umat manusia kepada suatu ancaman besar, maka masyarakat global telah mencapai kesepakatan bulat bahwa adalah perlu untuk secara sepenuhnya menghancurkan senjata-senjata seperti itu. Penggunaan senjata nuklir tidak hanya menghasilkan pembunuhan besar-besaran dan penghancuran, tetapi juga pembantaian manusia tanpa pandang bulu—militer dan sipil, muda dan tua, pria dan wanita. Dan efek anti-manusia dari senjata ini telah melampaui batas-batas politik dan geografis, bahkan menimbulkan lukai bagi generasi mendatang. Oleh karena itu, menggunakan atau bahkan mengancam untuk menggunakan senjata seperti ini merupakan pelanggaran serius terhadap aturan paling dasar dari kebaikan dan merupakan manifestasi yang jelas dari kejahatan perang.

Dari perspektif militer dan keamanan, setelah sejumlah kekuatan tertentu dipersenjatai dengan senjata anti-manusia ini, tidak ada keraguan lagi bahwa kemenangan dalam perang nuklir adalah suatu yang mustahil dan bahwa keterlibatan dalam perang seperti itu akan menjadi sebuah tindakan yang tidak bijaksana dan anti-kemanusiaan. Namun demikian, walaupun realitas etis, intelektual, manusiawi, dan bahkan militer ini jelas terlihat, keinginan kuat yang terus diulangi oleh masyarakat global untuk menghapus senjata tersebut telah diabaikan oleh sejumlah kecil pemerintahan yang mendasarkan keamanan ilusi mereka pada ketidakamanan global.

Sikap keras kepala dari pemerintahan-pemerintahan tersebut terkait kepemilikan dan proliferasi senjata nuklir serta upaya mereka untuk meningkatkan daya rusak senjata itu—yang sama sekali tidak akan berguna kecuali untuk tujuan intimidasi dan pembantaian serta rasa aman yang palsu berdasarkan atas kekuatan pre-emptive yang dihasilkan dari pemusnahan semua orang—telah menyebabkan mimpi buruk nuklir ini abadi di dunia. Sumber daya manusia dan ekonomi yang tak terhitung jumlahnya telah dihabiskan dalam kompetisi yang tidak rasional ini untuk memberikan kekuatan kepada imajiner kepada negara-negara adidaya demi memusnahkan lebih dari seribu kali para rival mereka serta penduduk dunia lainnya, termasuk diri mereka sendiri. Dan karena alasan inilah, maka strategi ini dikenal dengan "Jaminan Kehancuran Bersama" atau MAD (Mutual Assured Destruction).

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah pemerintahan yang memiliki senjata nuklir bahkan telah melampaui strategi pre-emptive yang berdasarkan pada saling menghancurkan dalam berurusan dengan kekuatan nuklir lain. Mereka sudah sampai pada tingkat bahwa dalam kebijakan nuklir mereka, mereka bersikeras mempertahankan opsi (serangan) nuklir bahkan jika mereka hanya menghadapi ancaman konvensional dari negara-negara yang melanggar NPT. Hal ini terjadi pada saat pelanggar-pelanggar terbesar dari NPT adalah justru kekuatan-kekuatan yang mengingkari kewajiban mereka untuk menghapus senjata nuklir seperti diamanatkan dalam Pasal 6 Perjanjian Non-Proliferasi (NPT). Kekuatan-kekuatan ini bahkan telah melampaui negara-negara lain dalam kaitan mempromosikan senjata nuklir di dunia. Dengan menyediakan bagi rezim Zionis senjata nuklir dan mendukung kebijakannya, maka kekuatan-kekuatan ini telah memainkan peran langsung dalam mempromosikan senjata nuklir yang bertentangan dengan kewajiban mereka dalam Pasal 1 NPT. Negara-negara ini, yang dipimpin oleh rezim Amerika Serikat yang agresif dan bullying, telah menjadi ancaman serius bagi kawasan Timur Tengah dan dunia.

Untuk kepentingan inilah, Konferensi Internasional tentang Perlucutan Senjata Nuklir untuk menyelidiki ancaman yang ditimbulkan oleh produksi dan penimbunan senjata nuklir di dunia serta menawarkan solusi realistis untuk melawan ancaman terhadap kemanusiaan ini. Ini akan menjadi landasan untuk mengambil langkah-langkah menuju perdamaian dan stabilitas keamanan.

Kami percaya, bahwa selain senjata nuklir, jenis-jenis senjata pemusnah massal lainnya, seperti senjata kimia dan biologi juga menimbulkan ancaman serius terhadap kemanusiaan. Bangsa Iran yang merupakan korban dari senjata kimia merasakan lebih daripada bangsa lain akan bahaya yang disebabkan oleh produksi dan penimbunan senjata tersebut dan siap menggunakan semua fasilitas yang ia miliki untuk melawan ancaman tersebut.

Kami menganggap penggunaan senjata-senjata seperti itu haram dan percaya bahwa menjadi tugas setiap orang untuk melakukan upaya demi mengamankan manusia terhadap bencana yang besar ini.

Apr 16, 2010

Kyrgyzstan dan Pertarungan untuk Asia Tengah

Rick Rozoff

Presiden Kyrgyzstan Kurmanbek Bakiyev digulingkan dengan cara yang sama saat dia mengambil alih kekuasaan, dalam sebuah pemberontakan berdarah lima tahun silam.

Terpilih sebagai presiden 2 bulan setelah apa yang dinamakan “Revolusi Tulip” 2005 yang ia sendiri bantu rencanakan, Bakiyev sejak saat itu menjadi kepala negara dari negara yang menjadi transit utama bagi perang Amerika Serikat (AS) dan NATO di Afghanistan.

Pentagon berhasil mengamankan Pangkalan Udara Manas di Kyrgyzstan segera setelah penyerbuan atas Afghanistan pada Oktober 2001 dan sejak saat itu, menurut publikasi militer AS pada Juni lalu, “Lebih dari 170.000 personil pasukan koalisi menjadikan pangkalan tersebut sebagai transit dalam perjalanan mereka keluar dari atau masuk ke Afghanistan, dan Manas adalah titik transit bagi 5000 ton kargo, termasuk suku cadang dan peralatan, seragam dan berbagai item untuk mendukung kebutuhan personil dan misi militer.

“Saat ini, sekitar 1.000 tentara AS, bersama dengan beberapa ratus dari Spanyol dan Perancis, ditugaskan di pangkalan (Manas).” [1]

Perwakilan Khusus Gedung Putih untuk Afghanistan dan Pakistan, Richard Holbrooke, berkunjung pertama kali dalam posisinya saat ini ke Kyrgyzstan—dan tiga negara Asia Tengah bekas Uni Soviet yang berbatasan dengan Kyrguzstan: Kazakhstan, Tajikistan, dan Uzbekistan—pada Februari lalu dan berkata, “35.000 tentara AS setiap bulannya transit dalam perjalanan keluar-masuk Afghanistan.”[2] Rata-rata ia menyebutkan, 420.000 pasukan setiap tahun.

AS dan NATO juga mendirikan pangkalan militer di Tajikistan dan Uzbekistan untuk kepentingan perang di Asia Selatan, meski dalam skala yang lebih kecil.

Pada Februari 2009, pemerintah Bakiyev mengumumkan bahwa ia akan mengusir keluar pasukan AS dan NATO dari negaranya, tetapi mengalah pada Juni 2009 ketika Washington menawarkan kepadanya US$ 60 juta untuk membatalkan keputusannya.

Kyrgyzstan Berbatasan dengan Cina

Kyrgyzstan tidak hanya berbatasan dengan Cina, Kazakhstan, Tajikistan, dan Uzbekistan, tetapi ia juga hanya dipisahkan dari Rusia oleh satu negara, Kazakhstan. Untuk mengapresiasi keprihatinan Rusia dan Cina akan kehadiran ratusan ribu tentara AS dan NATO yang melewati Kyrgyzstan, coba Anda bayangkan jumlah yang sebanding dari pasukan Cina dan Rusia yang secara reguler melalui Meksiko dan Guatemala, konstan selama hampir 9 tahun dan terus meningkat.

Bukan hanya “hard power” militer tapi juga “soft power” yang dihadirkan oleh peran Barat di Kyrgyzstan terhadap Rusia dan Cina.

Kyrgyzstan adalah negara anggota Collective Security Treaty Organization (CSTO) bersama dengan Rusia, Armenia, Belarus, Kazakhstan, Tajikistan dan Uzbekistan, sebuah organisasi yang dipandang banyak orang sebagai mitra-tanding NATO pasca Uni Soviet. Kyrgyzstan juga anggota Shanghai Cooperation Organization (SCO) bersama Cina, Rusia, dan tiga negara Asia Tengah tersebut.

Menurut pejabat-pejabat AS, selama dan setelah “Revolusi Tulip” 2005, tidak ada satu pun penerbangan AS dan NATO ke Pangkalan Udara Manas yang dibatalkan atau bahkan ditunda. Namun, jadwal latihan enam negara CSTO selama beberapa hari setelahnya justru dibatalkan.

Pemberontakan dan penggulingan Presiden Askar Akayev pada Maret 2005 adalah “revolusi beludru” gadungan ketiga di bekas Uni Soviet dalam waktu 16 bulan, setelah “Revolusi Mawar” di Georgia pada akhir 2003 dan “Revolusi Oranye” di Ukraina pada akhir 2004 dan awal 2005.

Ketika revolusi versi Kyrgyz sedang berlangsung, media Barat bahkan sudah mengajukan pertanyaan, “Who is next?” Calon-calon lain termasuk di antaranya negara-negara bekas Soviet, seperti Armenia, Azerbaijan, Belarus, Kazakhstan, Moldova, dan Uzbekistan. Dan Rusia!!! Bersama Georgia, Ukraina, dan Kyrgyzstan, negara-negara tersebut tercatat sebagai 10 dari 12 anggota Commonwealth of Independent States (CIS), persemakmuran negara-negara merdeka pasca-Soviet.

Laporan AFP memberi penjelasan pada awal April 2005 sebagai berikut: “CIS didirikan Desember 1991 pada hari Uni Soviet menghilang ... Tapi selama satu setengah tahun terakhir, tiga sekutu setia Kremlin digulingkan dalam revolusi ....: Eduard Shevardnadze di Georgia, Leonid Kuchma di Ukraina, dan, pekan lalu, Askar Akayev di Kyrgyzstan .... Meskipun pemimpin interim baru Kyrgyzstan telah bersumpah untuk melanjutkan kebijakan pendahulu yang bersahabat kepada Moskow, kilat kejatuhan pemerintah di sana telah melahirkan spekulasi bahwa CIS akan segera runtuh.”[3]

Pemimpin prototipe revolusi “beludru” Georgia, Mikheil Saakashvili, ikut senang atas “perubahan rezim” di Kyrgyz pada 2005, dan menisbatkan aksi-aksi “berani” pihak oposisi di Ukraina dan Kyrgyzstan kepada “faktor Georgia”, seraya menambahkan, “Kami tidak akan menunggu perkembangan peristiwa, tetapi melakukan yang terbaik untuk menghancurkan imperium di CIS.”[4]

Tak lama setelah “Revolusi Tulip”, mantan diplomat India dan analis politik MK Bhadrakumar menulis tentang momentum yang tampaknya tak terhindarkan dari “revolusi beludru” di bekas Uni Soviet”

”(Semua) tiga negara tersebut [Georgia, Ukraina, Kyrgyzstan] secara strategis ditempatkan dalam ruang pasca-Soviet. Mereka meliputi apa yang diistilahkan sebagai “luar negeri dekat” Rusia.

“Washington telah memperluas pengaruhnya di republik-republik bekas Soviet—di Baltik, Kaukasus, dan Asia Tengah—dalam beberapa tahun terakhir dengan kekuatan yang mencemaskan Moskow.”

”Sejak 2003 ketika memutuskan untuk mengizinkan Rusia untuk mendirikan pangkalan militer penuh di Kant, Akayev sadar bahwa ia ada dalam “daftar pantauan” Amerika. Suhu politik di Kyrgyzstan pun mulai memanas.”

“Amerika lewat banyak cara menegaskan bahwa mereka menginginkan perubahan rezim di Bishkek…’revolusi’ di negara Asia Tengah Kyrgyzstan telah membuang unsur kejutannya...Perbandingan dengan dua ‘revolusi beludru” awal di Georgia dan Ukraina akan menjadi titik awal yang baik.”

“Pertama, persamaan yang mencolok di antara ketiga ‘revolusi’ yang harus dicatat. Ketiganya dimaksudkan untuk menandai penyebaran yang tak terbendung lagi dari api kebebasan yang dinyalakan oleh Amerika Serikat di Afghanistan dan Irak pasca 9/11.”

“Tapi di balik retorika, kebenarannya adalah bahwa AS menginginkan perubahan rezim di Georgia, Ukraina dan Kyrgyzstan karena adanya kesulitan-kesulitan dengan kepemimpinan para incumbent. Para pemimpin dari ketiga negara tersebut—Eduard Shevardnadze di Georgia, Leonid Kuchma di Ukraina, dan Askar Akayev di Kyrgyzstan—sebenarnya telah menikmati dukungan AS pada sebagian besar masa pemerintahan mereka.”

“Washington pernah menyebut mereka berulang-ulang sebagai cahaya harapan bagi demokrasi dan globalisasi di wilayah bekas Uni Soviet.”

“Masalahnya dimulai ketika mereka secara bertahap mulai menepi kepada kebangkitan Rusia di bawah Vladimir Putin.”[5]

Tujuh minggu setelah kolom Bhadrakumar muncul, analisisnya justru dikonfirmasi oleh otoritas yang tidak kurang atas hal ini, yakni dari Presiden George W. Bush.

Saat mengunjungi ibukota Georgia satu setengah tahun setelah “Revolusi Mawar”, Bush disambut oleh rekannya Mikheil Saakashvili, bekas penerima beasiswa Departemen Luar Negeri dan bekas penduduk AS, yang merebut kekuasaan dalam apa yang hanya dapat digambarkan sebagai sebuah pemberontakan namun demikian berkata:

“Georgia akan menjadi mitra utama Amerika Serikat dalam menyebarkan demokrasi dan kebebasan di ruang pasca-Soviet. Ini adalah proposal kami. Kami akan selalu bersama Anda dalam melindungi kebebasan dan demokrasi.”

Bush memantulkan estimasi menyala-nyala Saakashvili tentang dirinya dengan berkata, “Anda banyak memberikan kontribusi penting untuk menyebarkan kebebasan, namun kontribusi Anda yang paling penting adalah contoh Anda. Perubahan-perubahan penuh harapan sedang terjadi dari Baghdad hingga Beirut dan Bishkek [Kyrgyzstan]. Tapi sebelum ada ‘Revolusi Ungu’ di Irak atau ‘Revolusi Oranye’ di Ukraina atau ‘Revolusi Cedar’ di Lebanon, ada ‘Revolusi Mawar’ di Georgia.”[6]

Beberapa hari setelah kudeta Kyrgyz, Bush menyambut Presiden Ukraina hasil “Revolusi Oranye” Viktor Yushchenko—yang Januari lalu hanya menerima 5,45 persen suara saat maju kembali dalam pemilu—dan membanggakan bantuan AS bagi Yushchenko untuk berkuasa, dengan mengatakan, “Mungkin tampak ini seperti hanya bagian dari sejarah Ukraina, tetapi “Revolusi Oranye” mewakili revolusi-revolusi di tempat lain juga....Kami berbagi tujuan untuk menyebarkan kebebasan kepada bangsa-bangsa lain.”[7]

Selain ancaman pembubaran CIS dan CSTO, pada April 2005 Der Spiegel menampilkan laporan dengan judul “Revolusi-revolusi yang Mempercepat Disintegrasi Rusia.”

Dalam salah satu bagian, ia mengungkapkan siapa penggerak utama di balik peristiwa di Kyrgyzstan:

“Pada awal Februari, Roza Otunbayeva—sekarang tampaknya menjadi kepala pemerintahan sementara—menyatakan janji kesetiaan kepada sekelompok kecil mitra dan sponsor revolusi Kyrgyz, kepada ‘teman-teman Amerika kami’ di Freedom House (yang menyumbangkan sebuah percetakan di Bishkek kepada pihak oposisi), dan George Soros, spekulator yang sebelumnya membantu menggulingkan pemerintahan Eduard Shevardnadze di Georgia.”

“Mencoba untuk membantu proses demokrasi, Amerika mengalirkan US$12 juta ke Kyrgyzstan dalam bentuk beasiswa dan donasi--dan itu hanya untuk tahun lalu. Departemen Luar Negeri AS bahkan mendanai peralatan stasiun TV di kota provinsi pemberontak bagian selatan Osh.”[8]

Pada Juni, George Soros cukup membantu untuk mengkonfirmasi bahwa rasa terima kasih Otunbayeva bukanlah tanpa dasar, dengan menyatakan, “Saya menyediakan untuk pegawai negeri Georgia agar mendapatkan US$1.200 sebulan ... Dan sekarang saya siap mendukung pembentukan dana seperti itu di Kyrgyzstan…”[9]

Dua George—Bush dan Soros—tidaklah sendirian dalam mengatur transformasi geostrategis dari Balkan hingga Uni Soviet dan Timur Tengah. Mereka menerima bantuan besar dari organisasi-organisasi seperti Freedom House, National Endowment for Democracy, National Democratic Institute, International Republican Institute dan organisasi-organisasi non-pemerintah lainnya.

Seminggu setelah “kudeta Tulip”, Direktur Proyek untuk Freedom House, Mike Stone, menyimpulkan peran organisasinya dalam dua kata: “Misi berhasil.”[10]

Sebuah suratkabar Inggris yang mewawancarai dia menambahkan, “Keterlibatan Amerika di negara kecil pegunungan ini jauh lebih besar secara proporsional daripada untuk ‘Revolusi Mawar’ Georgia atau ‘Revolusi Oranye’ Ukraina.”[11]

Di belakang semua itu, Presiden terguling Kyrgyzstan (5 tahun lalu) Askar Akayev telah mengidentifikasi para arsitek sebenarnya dari pengambilalihan kekuasaan tersebut. Pada 2 April, ia menyatakan, “Ada organisasi internasional yang mendukung dan membiayai Revolusi Tulip di Kyrgyzstan.”

Dalam empat dekade Perang Dingin, perubahan politik melalui pemilu atau lainnya di setiap negara di dunia—tidak peduli seberapa kecil, miskin, terpencil, dan tidak pentingnya negara itu—diasumsikan jauh lebih penting daripada efek di dalam negeri mereka. Para analis politik dan pembuat kebijakan selalu mengajukan pertanyaan kunci: ke manakah pemerintah baru ini akan menjalin aliansi, AS atau Uni Soviet?

Namun, dalam periode pasca Perang Dingin, pertanyaannya sudah tidak lagi tentang filsafat politik atau orientasi sosial-ekonomi, tetapi berikut ini: Bagaimana pemerintahan baru akan menentang atau mendukung rencana Amerika untuk dominasi regional dan global?

Dengan Roza Otunbayeva sekarang resmi sebagai kepala dari pemerintahan baru interim Kyrgyz, ada alasan untuk percaya bahwa Washington tidak akan senang dengan penggulingan mantan mitra “tulip”-nya Bakiyev. Otunbayeva sudah mengkonfirmasi bahwa pangkalan Amerika di Manas tidak akan ditutup.

Setelah sebelumnya menjabat sebagai duta besar pertama Kyrgyz di AS dan Inggris, kurang dari dua bulan setelah kudeta 2005 Otunbayeva yang menjadi menteri luar negeri interim bertemu dengan kolega Amerika-nya Condoleezza Rice di Washington. Saat itu, Rice meyakinkannya bahwa “pemerintah AS akan terus mendukung pemerintah Kyrgyz untuk mempromosikan proses demokrasi di negeri tersebut.”[13]

Dari perspektif AS, Otunbayeva tampaknya bisa diandalkan.

Rusia telah menempatkan pangkalan udaranya di Kyrgyzstan dalam status waspada tinggi, meskipun komentar dari pejabat pemerintah terkemuka Rusia—Perdana Menteri Vladimir Putin pada khususnya—menunjukkan penerimaan atas pemberontakan yang telah menyebabkan 65 orang tewas dan ratusan luka-luka ini.

Tapi Rusia juga telah berusaha untuk menempatkan wajah terbaik terhadap pemberontakan lima tahun yang lalu.

Arah mana yang akan diambil pemerintah Kyrgyz berikutnya akan memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada apa yang mungkin ditunjukkan oleh bangsa berukuran dan berpopulasi kecil ini (sedikit di atas lima juta).

Ia bisa memengaruhi rencana AS dan NATO untuk ofensif militer terbesar di Afghanistan yang dijadwalkan akan dimulai dalam dua bulan di Provinsi Kandahar.

Ia juga bisa menentukan masa depan CSTO dan SCO, dua potensi besar yang bisa mengambat penetrasi militer Barat yang luas di Eurasia.

Catatan
[1] Stars and Stripes, June 16, 2009
[2] Agence France-Presse, March 4, 2010
[3] Agence France-Presse, April 3, 2005
[4] The Messenger, March 31, 2005
[5] The Hindu, March 28, 2005
[6] Civil Georgia, May 10, 2005
[7] Associated Press, April 4, 2005
[8] Der Spiegel, April 4, 2005
[9] Russian Information Agency Novosti, June 16, 2005
[10] The Telegraph, April 2, 2005
[11] Ibid
[12] Associated Press, April 2, 2005
[13] Interfax, June 15, 2005
[14] Civil Georgia, March 30, 2005

Apr 13, 2010

Kasus Blau-Kamm Ungkap Wajah Gelap Negara Keamanan Bernama Israel

“Kasus spionase Anat Kamm” telah mengungkap wajah gelap suatu bangsa yang selama puluhan tahun menyembah di altar negara keamanan.

Adalah Anat Kamm, staf pada Kantor Brigadir Jenderal Yair Naveh, perwira IDF yang bertanggung jawab atas operasi-operasi di Tepi Barat. Perempuan berusia 23 tahun itu akan menghadapi pengadilan atas hidupnya, atau lebih tepatnya dakwaan penjara seumur hidup negara Zionis-Israel atas dirinya karena telah menyerahkan dokumen-dokumen rahasia kepada wartawan Israel, Uri Blau, dari harian liberal Haaretz. Dia didakwa sebagai mata-mata.

Blau sendiri kini bersembunyi di London, menghadapi, jika bukan pasukan pembunuh Mossad, setidaknya upaya keras dari dinas keamanan Israel untuk membawanya kembali ke Israel.

Lalu apa kejahatan yang telah dilakukan Kamm dan Blau?

Selama wajib militer, Kamm dilaporkan telah menyalin sekitar ratusan dokumen militer yang mengungkapkan pelanggaran hukum secara sistematis yang dilakukan oleh Komando Tertinggi Israel yang beroperasi di Wilayah Pendudukan Palestina, termasuk di antaranya adanya perintah untuk mengabaikan putusan pengadilan.

Sementara itu, kejahatan Blau adalah ia menerbitkan serangkaian laporan berdasarkan atas informasi yang dibocorkan Kamm; laporan-laporan yang sangat membuat malu para perwira senior Israel karena telah menunjukkan penghinaan mereka terhadap supremasi hukum.

Laporan-laporan Blau meliputi pengungkapan bahwa komandan senior Israel telah menyetujui pembunuhan warga sipil Palestina selama operasi pembunuhan militer ekstra-yudisial di wilayah-wilayah pendudukan. Militer Israel juga telah mengeluarkan perintah untuk mengeksekusi siapa pun warga Palestina yang diinginkan, bahkan jika mereka masih bisa ditahan secara aman. Selain itu, Departemen Pertahanan Israel juga menyimpan laporan rahasia yang menunjukkan bahwa sebagian besar permukiman di Tepi Barat adalah ilegal di bawah hukum Israel (semua permukiman ilegal menurut hukum internasional).

Di negara yang benar-benar demokratis, Kamm akan memiliki argumen terhormat untuk menolak tuduhan-tuduhan dan menjadi seorang whistleblower, bukan mata-mata. Lalu, Blau akan memenangkan hadiah jurnalisme, bukan malah menghilang di pengasingan.

Tapi ini Israel. Di sana, hampir tidak ada simpati publik bagi Kamm atau bahkan Blau.

Keduanya dilukiskan, baik oleh para pejabat Zionis maupun publik, sebagai pengkhianat yang harus dipenjarakan, dihilangkan atau bahkan dieksekusi karena telah membahayakan negara.

Pengadilan Israel yang mengawasi perintah “pembungkaman” selama berbulan-bulan agar tidak ada pembahasan pers tentang kasus ini telah menjadi “benteng” bagi industri besar keamanan Israel.

Menulis di Haaretz, Blau mengatakan bahwa dia telah diperingatkan, “Jika saya kembali ke Israel, maka saya bisa dibungkam untuk selama-lamanya, dan bahwa saya akan dikenakan dakwaan untuk kejahatan yang berkaitan dengan spionase.” Dia menyimpulkan bahwa “ini bukan hanya pertarungan untuk kebebasan pribadi saya tapi untuk citra Israel”.

Blau seharusnya menyerahkan kecemasannya tentang citra Israel kepada Netanyahu. Ini bukan pertempuran untuk citra Israel, melainkan peperangan untuk apa yang tersisa dari jiwa negara ilegal ini.[source: jonathan cook]

Israel akan Usir Rakyat Palestina dari Tepi Barat

Laporan Haaretz menyebutkan sebuah keputusan baru militer Zionis Israel yang bertujuan mencegah ‘infiltrasi’ akan mulai berlaku pekan ini. Perintah ini memungkinkan pengusiran massal puluhan ribu warga Palestina dari Tepi Barat, atau mendakwa mereka dengan tuduhan yang mengakibatkan hukuman penjara hingga tujuh tahun.

Ketika keputusan ini mulai berlaku, maka puluhan ribu warga Palestina secara otomatis akan menjadi pelaku kriminal yang terancam untuk dihukum berat.

Dengan memperhatikan tindakan otoritas keamanan Israel selama dekade terakhir, maka kelompok warga Palestina yang pertama kali akan dijadikan sasaran di bawah aturan baru ini adalah mereka yang memiliki KTP dengan alamat di Jalur Gaza –orang yang lahir di Gaza beserta anak-anak mereka yang lahir di Tepi Barat—atau mereka yang lahir di Tepi Barat atau di luar negeri yang karena berbagai alasan kehilangan status tempat tinggal mereka. Yang juga mungkin menjadi target adalah pasangan Palestina yang lahir di luar negeri.

Aturan baru ini hanya akan menjadi yurisdiksi pengadilan militer Israel, bukan pengadilan sipil negara apartheid tersebut. Dan penilaian di lapangan sepenuhnya menjadi wewenang mutlak para komandan IDF.

Keputusan ini juga memungkinkan untuk memidanakan orang-orang yang diduga sebagai ‘penyusup’. Pidana ini bisa menghasilkan hukuman hingga tujuh tahun penjara.

Aturan baru ini merupakan langkah terbaru pemerintah apartheid Israel dalam beberapa tahun terakhir untuk membatasi kebebasan bergerak dan izin tinggal yang sebelumnya diperbolehkan atas dasar KTP Palestina. Peraturan baru ini akan sangat luas dan memungkinkan untuk digunakan sebagai upaya kriminal mengusir secara massal orang-orang Palestina dari rumah-rumah mereka.

Infiltrasi atau ‘penyusupan’ adalah istilah yang sengaja diciptakan rezim penjajah Zionis untuk memperlakukan warga Palestina sebagai orang-orang yang tidak memiliki hak untuk tinggal di wilayah tertentu tanpa izin khusus yang tidak mungkin diberikan oleh militer Israel. Istilah ini mengingatkan pada istilah Present Absentee (pengungsi Palestina yang masih tinggal di ‘Israel’), klasifikasi yang dibuat Israel pasca 1948, untuk memisahkan dan membuang elemen-elemen bangsa Palestina yang ingin dihapus oleh pemerintah pendudukan. Aturan baru ini jelas berfungsi sebagai alat lain bagi IDF dalam proses pembersihan etnis jangka panjang—penghilangan paksa orang-orang Palestina dari tanah mereka yang Israel lakukan sejak 1948.

Apr 6, 2010

Terorisme di Rusia, sebuah Catatan Kecil

Terduga "teroris Chechnya" telah meledakkan bom-bom lagi di Rusia, di Moskow dan Dagestan. Dengan demikian, trennya di sini jelas, bahwa "terorisme Chechnya" kembali bangkit, menyerang sasaran-sasaran strategis di Rusia (seperti kereta ekspres jurusan Moskow-Petersburg atau stasiun kereta bawah tanah Moskow). Jika dilihat dari tahun 2009, ini merupakan serangan kedua kalinya terhadap Rusia. Dan jika dihitung dari tahun 2004, empat kali sudah Rusia diserang aksi teror, yang semuanya diklaim dilakukan oleh "elemen-elemen" pemberontak Chechnya.

Anehnya semua ini terjadi pada saat di Chechnya aktivitas insurgensi justru relatif sangat sedikit. Tidak ada indikasi bahwa pemberontak Chechnya telah pulih dari kekalahan total mereka dalam Perang Chechnya Kedua. Semua laporan dari Chechnya tampaknya menunjukkan bahwa situasi keamanan di sana sebenarnya relatif kondusif dan berada dalam kendali Moskow, melalui tangan Ramzan Kadyrov. Ini adalah fakta bahwa militer Rusia saat ini tidak secara aktif terlibat di Chechnya sama sekali. Misi keamanan dilakukan secara bersama oleh FSB, MVD, dan polisi setempat.

Oleh sebab itu, tulisan ini ingin menawarkan sebuah hipotesis, sebuah "versi" peristiwa, meskipun tidak ada bukti keras yang bisa diberikan.

Meningkatnya 'terorisme Chechnya' baru-baru ini mungkin mempunyai sedikit atau bahkan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Chechnya. Pelaksana operasi ini mungkin etnis Chechnya dan mereka mungkin bertindak di bawah perintah Doku Umarov, pria yang mengklaim sebagai 'Emir dari Emirat Kaukasus. Tapi, apakah hal itu menjelaskan sesuatu?

Osama bin Laden adalah agen CIA untuk sebagian besar hidupnya dan terdapat banyak bukti bahwa pemberontakan Chechnya didukung CIA melalui apa yang sekarang dikenal sebagai al-Qaeda. Adalah juga sangat jelas bahwa dinas rahasia Inggris telah bekerja bergandengan tangan dengan taipan Rusia-Israel Boris Berezovsky, dan karena itu, tentu saja dengan kaki-tangan Chechnya, selama bertahun-tahun juga. Jadi, alih-alih mengacu pada 'terorisme Chechnya', bukankah jauh lebih masuk akal untuk menyebutnya sebagai "terorisme AS dan Inggris"? Bukankah para pemberontak Chechnya merupakan versi Kaukasus dari Jundallah - jaringan teroris lain yang dikendalikan CIA dan bukankah Doku Umarov hanyalah versi lokal dari Abdolmalek Rigi?

Jika ini benar, lantas apa yang akan menjelaskan sentakan tiba-tiba 'terorisme Chechnya' di Rusia? Berikut ini beberapa jawaban yang mungkin:

  • Membalas kekalahan AS/NATO dalam perang 08.08.08 di Georgia, dimana tentara Rusia dengan mudah menghancurkan pasukan Georgia yang didanai, dilatih, diperintahkan NATO.
  • Kebutuhan untuk menempatkan Rusia di bawah tekanan agar menyerah pada tuntutan AS dalam kaitan dengan Iran, baik itu terkait sanksi atas Iran, peran Rusia pada reaktor nuklir Bushehr, maupun penjualan sistem pertahanan udara S-300.
  • Membalas kekalahan AS di Ukraina, dimana akhir dari revolusi berkode warna (oranye, kali ini) merupakan sebuah bencana bagi kepentingan geostrategis AS.
  • Kebutuhan untuk melemahkan pengaruh Rusia di Kaukasus dan di Asia Tengah dengan menunjukkan bahwa Rusia tidaklah sekuat dari yang diperkirakan.
  • Membalas atas dukungan Rusia (senjata dan kredit) bagi Hugo Chavez di Venezuela.

Kemungkinan-kemungkinan di atas tentu saja mungkin salah. Tapi sekarang ini nyaris tidak ada penjelasan yang memadai bagi terori 'terorisme Chechnya'. Selain itu, beberapa laporan menyebutkan bahwa Moskow kini mulai melihat adanya kemungkinan kontak antara pemberontak Chechnya dengan Georgia. Jika Georgia terlibat, maka telunjuk Moskow akan mengarah lurus menuju Langley.

Demikian soal kemungkinan. Kini kita beralih kepada indikasi.

Pada 21 Maret 2010 (hanya beberapa hari sebelum bom meledak di stasiun kereta bawah tanah di Moskow), pemerintah Mikhael Saakashvili dari Georgia menjadi tuan rumah sebuah konferensi di Tbilisi yang bertajuk "Hidden Nations, Enduring Crimes: The Circassians and the Peoples of the North Caucasus Between Past and Future." Konferensi ini diorganisasikan oleh Yayasan Neokon, Jamestown Foundation yang berbasis di Washington, DC bekerja sama dengan International School of Caucasus Studies, Ilia State University, Georgia.

Jamestown Foundation sejak lama menjadi “front operation” bagi CIA. Pada 1984, Yayasan ini didirikan, antara lain, oleh Direktur CIA saat itu, William Casey. Organisasi ini digunakan sebagai tempat penampungan para pembelot tingkat tinggi blok Soviet, termasuk Wakil Sekretaris Jenderal PBB asal Soviet Arkady Shevchenko dan pejabat intelijen Rumania Ion Pacepa.

Sejak lama pula, FSB dan badan-badan intelijen asing lain seperti SVR mencurigai Jamestown terlibat dalam pemberontakan di Chechnya, Ingushetia, dan republik-republik Kaukasus Utara lainnya. Konferensi Tbilisi 21 Maret lalu kian menambahkan kecurigaan FSB dan SVR.

Pihak lain yang berhubungan erat dengan Jamestown adalah Open Society Institute (OSI) milik miliuner-filantropis AS George Soros. Kerja sama OSI-Jamestown tidak hanya di utara dan selatan Kaukasus, tetapi juga di Moldova, Belarus, Uighur, dan Uzbekistan. OSI dikenal sebagai “alat” lain bagi kepentingan intelijen AS dan perbankan global. Proyek Eurasia Soros telah mensponsori sejumlah panel dan seminar bersama Jamestown. Bukan rahasia lagi, Soros dan para aparat NGO-nya adalah peletak dasar bagi “Revolusi Mawar” yang menggulingkan Presiden Eduard Shevardnadze dan mendudukkan Saakashvili di tapuk kekuasaan.

Pada 9 Maret 2005, Jamestown, OSI, dan Moldova Foundation mensponsori sebuah seminar di Washington tentang pemilu di Moldova. Di antara anggota dewan penasehat Moldova Foundation yang hadir adalah Bari-Bar Zion, CEO A4E dan Amin di Israel dan mantan penasihat bisnis Kepala “Israel State Lottery”, serta Sam Amadi, penasihat khusus Presiden Senat Nigeria . Moldova Foundation menerima dukungan dana Open Society Institute.

Dalam wawancara dengan surat kabar Kommersant Rusia (yang juga dikutip Times of London), mantan kepala FSB Rusia, Nikolai Petrushev, menuduh agen-agen keamanan Georgia dan Presiden Mikhael Saakashvili, sebagai provokator ledakan bom bunuh diri kembar di Moskow dan aktivitas-aktivitas pemberontak di Kaukasus Utara.
Petrushev ditunjuk oleh Presiden Dmitry Medvedev untuk menjadi Ketua Dewan Keamanan Nasional Rusia pada Mei 2008. Petrushev, yang bertugas di Dewan Keamanan bersama Medvedev, Perdana Menteri Vladimir Putin, dan Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov, mengatakan bahwa aparat keamanan Rusia memiliki informasi bahwa individu-individu dari dinas keamanan Georgia memiliki hubungan dengan gerilyawan Islam yang beroperasi di Kaukasus utara.

Persoalan siapa yang mendanai serangan-serangan teroris adalah hal yang hingga kini terlihat sulit diurai. Namun, mungkinkah kita tidak perlu melihat lebih jauh selain ruang-ruang konferensi dan kantor-kantor eksekutif di Washington, DC, Tel Aviv, dan New York untuk dapat mengidentifikasi para pelaku yang sebenarnya?

Apr 1, 2010

Surat Terbuka Bapa Elias Zahlawi -- Imam Katolik Arab -- kepada Bapa Suci Paus Benediktus XVI

"Kita Semua Mitra"

13/3/2010

Bapa, Bapa Suci

Selama masa-masa sulit dan kritis ini, yang dunia pada umumnya dan khususnya Dunia Timur (Orient) kami sedang alami, saya ingin mengambil kesempatan untuk menyampaikan kepada Anda apa yang sedang berkecamuk dalam pikiran saya, apa yang menjadi beban hati saya, terutama sebagai seorang Imam Katolik Arab dari Suriah, mengenai undangan yang Anda sampaikan beberapa bulan lalu kepada mereka yang bertanggung jawab atas Gereja Katolik Timur, untuk mengadakan konvensi selama Oktober 2010 untuk membahas kondisi-kondisi Umat Kristian Arab dan non-Arab di seluruh negara-negara Timur.

Ada tiga hal yang saya ingin angkat dan diskusikan dengan Bapa Suci , layaknya dari seorang anak kepada ayahnya.

Subyek pertama sehubungan dengan konferensi ini. Saya percaya bahwa semua orang yang menerima undangan baik Anda memuji jenis inisiatif ini.

Tetapi adakah yang memberitahu Anda bahwa undangan itu datang sangat terlambat?

Saya yakin bahwa surat-surat yang sampaikan ke tangan-tangan mereka telah diterima dengan "kekaguman mereka".

Tetapi adakah yang memberitahu Anda, Bapa Suci, bahwa surat-surat itu tidak mencerminkan fakta di lapangan dari Dunia Timur kami, baik masa lalu maupun sekarang, kecuali (hanya mencerminkan) apa yang Barat lihat dan inginkan seluruh dunia untuk melihat, tak pefuli apakah orang-orang Timur suka ataukah tidak?

Saya yakin bahwa "pakar khusus" Vatikan dan juga duta-duta Anda di Dunia Timur telah mencoba untuk sejujurnya melaporkan apa yang sedang terjadi di dalamnya (Dunia Timur).

Tapi akankah salah satu dari mereka yang menghadiri konvensi, para "ahli" dan "duta", melihat sesuatu kecuali apa yang diinginkan oleh mereka yang bertanggung jawab atas Gereja Timur untuk dilihat? Atau apakah lingkup tanggung jawab mereka memungkinkan mereka untuk melihat? ...

Last but not least, saya yakin bahwa mereka yang akan hadir mengatakan bahwa konvensi telah menemukan kesenjangan-kesenjangan berbahaya di dalam surat-surat "penting" yang disampaikan kepada mereka.

Tapi apakah ada yang mengatakan kepada Bapa Suci secara pribadi atau di depan umum selama pertemuan konvensi sebelumnya, bahwa terdapat kesenjangan-kesenjangan yang mereka tidak temukan? Dan mengapa tidak, Vatikan atau para "pakar" Barat-nya begitu saja mengabaikan ketiadaan pakar-pakar Arab atau Oriental?

Poin kedua adalah tentang yang diundang ke pertemuan dewan sebelumnya dan/atau yang akan datang.

Juga diketahui bahwa mereka yang diundang adalah para patriarki, uskup agung dan/atau kepala-kepala dari beragam hierarki monastik.

Izinkan saya untuk bertanya kepada Bapa Suci: apakah Anda benar-benar yakin bahwa mereka yang diundang benar-benar mewakili Kekristenan Timur, dalam apa yang mendukung atau menentangnya, terutama pada saat kritis ini, untuk tidak mengatakan saat-saat yang menentukan ini?

Saya khawatir bahwa sebagian dari mereka berada di luar apa yang Dunia Timur secara keseluruhan -- baik Kristen maupun Muslim -- harapkan dari mereka, yang karena sikap dan deklarasi berisiko mereka, karena mereka telah belajar dari posisi dan pertimbangan pribadi mereka untuk menghindari atau mengatasi mereka, yang mengeyampingkan mereka dengan alasan-alasan yang nyata atau tidak nyata, yang terlihat jelas bagi semuanya.

Saya mengatakan bahwa konferensi ini datang terlambat ... sangat terlambat. Tapi apa yang saya takut adalah bahwa ia akan muncul ke hadapan publik dunia dengan pengantar yang palsu, resolusi kosong, dan keputusan atau keinginan yang tidak akan membawa kemajuan, tetapi bahkan mungkin sangat menghambat kemajuan, karena ia dapat menambah kegagalan-kegagalan serta kekacauan-kekacauan baru yang berat, di atas beban sejarah yang sudah berat dan melelahkan, serta di atas kebijakan Barat yang salah dan kebijakan internal yang membingungkan dan kadang-kadang memalukan.

Oleh karenanya, saya berpendapat bahwa adalah perlu, dengan izin Anda, untuk memperluas rentang undangan yang sampaikan oleh Tahta Suci, agar mencakup suara-suara berani dan efektif dari berbagai kalangan Kristen, baik Katolik maupun Ortodoks, baik ulama maupun sekuler. Selain itu, (undangan perlu diperluas) kepada berbagai kalangan Islam, terutama karena sebagian besar penduduk Timur adalah Muslim. Diharapkan dengan ini, apa yang dinyatakan di dalam konvensi ini atau apa yang akan dikeluarkan olehnya, sudah semestinya memperhatikan urusan umat Muslim sama halnya ia memperhatikan urusan umat Kristiani.

Point tiga, adalah rentang gereja-gereja Barat, khususnya Vatikan, sehubungan dengan apa yang terjadi di seluruh dunia, terutama terhadap Dunia Timur Arab dan non-Arab.

Pertanyaan pertama saya adalah: Apakah saya telah dijauhkan dari kebenaran jika saya mengatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi di seluruh dunia pada umumnya dan di Timur pada khususnya, telah dilakukan oleh Barat, maksud saya Amerika Serikat, Eropa Barat, Kanada, Australia, dan Rusia pada khususnya; negara-negara yang mengenggam semua kekayaan dunia kita, dan dengan sendirinya memiliki sebagian besar dari kekuatan-kekuatan pemukul di sekitarnya hingga kini?

Pertanyaan kedua saya adalah: Apakah saya telah dijauhkan dari kebenaran jika saya mengatakan bahwa sebagian besar apa yang sekarang terjadi, pertama di negeri-negeri Arab dan di dunia Islam dan kedua di wilayah-wilayah Islam di seluruh dunia, tidak lain adalah reaksi terhadap penderitaan-penderitaan yang dihasilkan Barat, reaksi yang dimulai dan berlanjut dalam banyak kasus demagogik, berdarah, dan spontan, lalu beberapa diantaranya berlanjut dalam dua modus gerakan bersenjata, pertama perlawanan legal di Palestina yang dijajah, yang secara tidak adil dicitrakan oleh Uni Eropa pada September 2002 sebagai telah dilakukan oleh kelompok-kelompok yang mereka cap sebagai organisasi teroris; kedua perlawanan fundamentalis, yang bermula di Afghanistan ketika melawan Rusia dan kemudian melawan agresi AS, lalu di Irak dan Pakistan, yang dalam hal ini adalah kasus gerakan Taliban dan al-Qaida.

Tapi, adakah orang yang tidak tahu bahwa kedua gerakan ini (Taliban dan al-Qaida) awalnya diciptakan oleh Amerika Serikat sendiri?

Tapi apa yang terjadi di jantung tanah Arab, pada khususnya Palestina, ya Palestina, yang Anda kini hanya menyebutnya sebagai "Tanah Kudus" di gereja-gereja Barat, tidak lain merupakan perang ilegal dan pendudukan yang membuat segala sesuatu menjadi diperbolehkan : membunuh, memenjarakan, menyiksa, mengepung, dan mengusir semua orang Arab Palestina, baik Kristen maupun Muslim, dan semua itu terjadi di hadapan mata seluruh dunia, dengan dukungan penuh dari Barat, dan semua inilah yang membuat Nyonya Clinton berkata: "Menyerang Israel sama dengan menyerang kota Amerika seperti San Diego", dan ini jugalah yang membuat Nyonya Merkel, Kanselir Jerman, mengatakan juga tanpa malu-malu: "Menyerang Tel Aviv sama seperti menyerang Jerman... ".

Tapi apa yang telah terjadi dan masih terjadi terhadap orang-orang Arab Palestina oleh pendudukan Zionis "Israel"!

Apa hubungan antara apa yang telah terjadi dan apa yang sedang terjadi terhadap orang-orang Arab Palestina, selama lebih dari enam puluh tahun, oleh tangan-tangan Zionis "Israel", jika dibandingkan dengan hak-hak asasi manusia seperti yang dinyatakan dalam "Piagam Hak Asasi Manusia", dan semua perjanjian internasional, khususnya Konvensi Jenewa, serta ratusan resolusi yang diadopsi melawan "Israel" oleh PBB dan Dewan Keamanan-nya yang menyedihkan itu? Apakah semua orang di Barat telah menjadi budak Zionisme, untuk mengikuti standar-standar ganda tidak bermoral dalam hubungan Barat dengan entitas Zionis di satu sisi dan seluruh dunia di sisi lain, yang merupakan masyarakat lemah dan dianggap lemah, di sisi lain?

Dengan semua itu, semua Gereja-gereja Eropa bungkam. Ya, yang kami maksudkan adalah semua dari mereka, mulai dengan Vatikan itu sendiri. Ia bungkam diam setelah meninggalnya Paus Yohanes Paulus II, dengan pengecualian Kardinal Boston yang pemberani, Bernard Law.

Saya telah secara teliti dan teratur selama bertahun-tahun ini membaca surat kabar harian Vatikan "corriereromano", dan menyadari bahwa saat Anda menjadi Paus, bahasanya semakin dinetralkan dalam kaitannya dengan konflik Arab/Zionis, dan hal yang sama juga terjadi berkaitan dengan tragedi-tragedi, kelaparan, penyakit, kemiskinan, eksploitasi, penipuan, dan perampasan terorganisir, yang penyebarannnya di dunia ini semakin menjengkelkan ... hari demi hari!

Hal ini semakin menjadi jelas dalam cara yang pedih ketika kunjungan pribadi Anda ke Wilayah Pendudukan Palestina. Saya mengharapkan dari mulut Anda kata-kata yang setidaknya sama berani dan benarnya dengan pendahulu Anda, Paus Yohanes Paulus II, saat ia menjejakkan kaki di tanah Suriah pada 2001, saat ia segera menuntut pelaksanaan resolusi PBB untuk solusi adil dan komprehensif bagi perjuangan Arab!

Saya juga mengharapkan dari mulut Anda kata-kata simpatik, kata-kata penguat, dan pendorong bagi orang-orang Arab Palestina, yang selama lebih dari enam puluh tahun telah dihadapkan oleh Zionisme kepada "Shoah" (holocaust) yang mengerikan secara terus menerus tanpa gangguan, dengan dukungan tanpa batas dari Barat, kata-kata yang setidaknya sama dengan simpati luas yang Anda nyatakan terhadap "orang Yahudi", misalnya seperti apa yang Anda sampaikan selama pertemuan dengan beberapa pemimpin Yahudi Amerika saat kunjungan Anda ke Amerika Serikat pada 12 Februari 2009, atau selama kunjungan rabi-rabi terkemuka "Israel" ke Vatikan pada 12 Maret 2009!

Dengan penyesalan, saya ingin menambahkan bahwa kebungkaman gereja-gereja Barat lengkap sudah lewat kata-kata buruk yang ditulis oleh beberapa uskup Katolik di Perancis, Jerman, dan Kanada setelah mereka berkunjung ke "Tanah Suci", dimana mereka menyamakan antara korban-korban Palestina dan para pembantai Zionis. Mereka juga menyatakan "sangat terusik" oleh penderitaan yang dialami kedua pihak, dan mereka selalu mengakhiri kata-kata mereka dengan menyerukan kepada rakyat mereka untuk memanjatkan doa-doa bagi "perdamaian", dan memberikan bantuan finansial kepada: "Tanah Kudus".

Kami merasa seolah-olah mereka telah kehilangan penglihatan, dan mereka tidak lagi bisa melihat, otak-otak mereka telah dihapus dan dengan demikian tidak bisa lagi mengingat sejarah Palestina, tanah air Yesus Kristus, baik yang dulu maupun sekarang, dan perubahan penting yang berlangsung di tanah air ini dalam bangunan bersejarah tersebut. Dan apa yang terjadi dengan penduduk pribuminya, baik Kristen maupun Muslim, pembantaian, pengusiran, dan genosida/pemusnahan!

Bapa, Bapa Suci,
Akhirnya, saya memiliki enam pertanyaan, yang saya anggap perlu untuk diajukan kepada Anda pada akhir surat ini:

1. Apakah anti-Semitisme yang Barat, baik Gereja, otoritas, maupun masyarakatnya, lakukan terhadap orang-orang Yahudi bisa membenarkan tindakan-tindakan hari ini, menumpahkan darah orang-orang Timur, Arab dan non-Arab, yang dimulai dengan Arab Palestina, demi orang-orang Yahudi "yang malang"? Dan apakah itu semua membenarkan tetap bungkamnya Gereja Barat melihat ketidakadilan ini, sementara mereka terus meminta pengampunan bagi dosa anti-Semitisme yang mereka sendiri lakukan, dan tidak dilakukan oleh orang-orang Arab dan Muslim?

2. Apakah tidak tampak jelas bagi Gereja-Gereja Barat, bahwa situasi ini akan berakhir dengan dua kejahatan yang luar biasa, yang saya tidak mendapati kemungkinan pengampunan untuknya: Kejahatan pertama, mengubah semua orang Yahudi yang "malang" menjadi sekelompok pembunuh? Kejahatan kedua, mengosongkan Timur dari penduduk pribumi Kristen?

3. Tidakkah Anda melihat dengan rasa takut dan malu kepada semua yang sedang dilakukan kekuatan-kekuatan Barat hari ini di seluruh dunia pada umumnya, dan di Arab serta dunia Islam pada khususnya, dan apa yang kekuatan Barat, yang menginvasi benua Amerika mulai Abad ke-15, telah lakukan? Maksud saya, pemusnahan sistematis sekitar 40-50 juta orang penduduk pribumi seperti yang diakui para peneliti Barat sendiri?

4. Dalam menghadapi semua kejahatan terhadap kemanusiaan, adalah cukup bagi seorang Paus yang baru untuk datang, setelah empat ratus tahun, meminta maaf dari bangsa-bangsa yang dibantai, seperti yang dengan berani dilakukan Yohanes Paulus II, selama kunjungannya yang luar biasa ke berbagai tempat di dunia, sehingga Gereja akan mengatakan bahwa Gereja telah melakukan apa yang harus dilakukan?

5. Bukankah perlu kiranya sekarang gereja-gereja Barat keluar dari kebisuan mereka, dan menyampaikan perkataan Injil, untuk membela mereka yang dianiaya, yang miskin, yang kelaparan, yang sakit dan para tawanan perang karena Yesus mengidentifikasi semua kasih-Nya kepada mereka?

6. Merupakan pertanyaan yang saya dengar Anda sampaikan kepada saya, seperti juga pertanyaan yang diajukan sebagian besar uskup dan imam Barat kepada saya: Tapi "adakah orang mendengar?" Pada gilirannya, saya akan memberitahu Anda dan seluruh Gereja Barat: Kalian tidaklah lebih baik daripada Yesus, "Dia datang untuk umat tertentu, tapi mereka tidak menerimanya". Tapi meskipun demikian, ia tetap berbicara, dan apa yang Yesus katakan, tidak ada yang pernah mengatakan itu, dan tak seorang pun akan mengatakan itu!

Ya, Bapa Suci, saya punya sesuatu untuk ditambahkan.

Bapa, Bapa Suci, tolonglah, saya putra Anda, Imam Katolik Arab dari Suriah, saya mohon, dengan segala kasih dan kesukaran, untuk mengambil inisiatif dan mengundang elit-elit yang benar dari orang-orang yang bertanggung jawab di Gereja Barat dan sekuler, untuk mendiskusikan dengan mereka yang bertanggung jawab dan jujur di Gereja-Gereja Timur dan seluruh dunia, berdiskusi dengan Kristen dan Muslim, selama konvensi yang akan datang, yang Anda serukan pada Oktober 2010, tentang tanggung jawab atas apa yang terjadi hari ini di Timur dan di seluruh dunia, sehingga dapat mengambil sikap yang dibutuhkan dan tulus sebelum semuanya terlambat.

Banyak waktu telah berlalu, dan hari-hari kini sedang mengandung tragedi-tragedi baru, yang tidak ada seorang pun inginkan terjadi atas orang lain.

Dunia Allah mahaluas, seluas hati Allah, maka saya berharap hati Anda akan cukup luas untuk memahami kata-kata saya,

Anda, Bapa Suci,

Saya mohon Anda untuk berdoa bagi semua saudara-saudara saya di Timur, Muslim, Kristen, dan Yahudi, tolong terima cinta dan hormat anak Anda.

Bapa Elias Zahlawi

(Sumber: palestinethinktank.com. Diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Adib S. Kawar dan direvisi oleh Mary Rizzo untuk Tlaxcala)