Jun 7, 2010

Mantan Marinir AS Pembela Mavi Marmara: Israel Cuma Pengecut Bersenjata

“Semua yang saya lihat dari Israel hanyalah para pengecut dengan senjata.” Kata-kata ini meluncur dari mulut Kenneth (Ken) O'Keefe, mantan Marinir AS dan veteran Perang Teluk I yang baru saja dideportasi dari Israel setelah selamat dari pembantaian Mavi Marmara.

Pada 2002, O’Keefe mempelopori apa yang orang akan anggap sebagai upaya tidak realistik: sebuah upaya mencegah invasi AS atas Irak dengan menjadikan para relawan Barat sebagai perisai manusia di lokasi-lokasi strategis di Irak. Upayanya dalam Truth Justice Peace (TJP) gagal, tapi semangat O’Keefe untuk mengikuti hati nuraninya sendiri terus berlanjut.

Berikut adalah pernyataan O’Keefe tiba di Istanbul setelah mengalami pemukulan brutal dari militer Israel di Bandara sebelum dideportasi ke Turki. O’Keefe kini warga negara Irlandia-Palestina setelah pada 2001 melepaskan kewarganegaraan AS sebagai protes atas rencana agresi atas Irak.

“Selama bertahun-tahun, saya menyadari bahwa kita, orang-orang dengan hati nurani, adalah pemilik kekuatan sejati di dunia ini. Sayangnya, kita justru banyak menyia-nyiakan kekuatan itu dan gagal mencapai potensi penuh kita. Potensi kita untuk menciptakan dunia yang lebih baik, sebuah dunia yang adil. Namun saya bekerja sama dengan orang-orang lain yang berpikiran sama untuk mengungkap dan menjalankan kekuatan sejati kita itu.

Pada 2002, saya memulai Aksi Perisai Manusia TJP ke Irak karena saya tahu bahwa invasi ke Irak telah direncanakan dengan sangat baik sebelumnya, bahwa invasi itu adalah bagian dari sebuah agenda “Dominasi Spektrum Global” yang telah dirancang oleh “Project for A New American Century. Saya tahu bahwa protes itu tidak punya kesempatan untuk menghentikan invasi, dan bahwa sebagian besar protes ini hanyalah cara untuk membuat kita merasa lebih baik tentang pembunuhan massal yang akan terjadi; dengan mampu mengatakan bahwa saya telah melakukan protes menentangnya. Dengan pemahaman itu, saya berpendapat bahwa satu-satunya cara yang layak untuk menghentikan invasi ini adalah melakukan migrasi massal ke Irak. Sebuah migrasi dimana orang-orang dari seluruh dunia, terutama warga negara Barat, akan memposisikan diri di lokasi-lokasi di Irak yang seharusnya dilindungi oleh hukum internasional, tetapi yang secara rutin justru dibom ketika hanya orang-orang Irak, Palestina, dan umumnya bukan putih dan Barat yang ada akan dibunuh. Saya merasa 10.000 orang tersebut bisa menghentikan invasi, atau setidaknya, menunjukkan seperti apa invasi itu sejak awal, yakni sebuah tindakan agresi internasional, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Ketika dua bus bertingkat kami berjalan dari London menuju Baghdad melalui Turki, adalah jelas bahwa orang-orang Turki juga bisa merasakan kekuatan dari aksi ini, dan mereka adalah peserta terbesar di dalamnya. Pada akhirnya kami memang tidak mendapatkan jumlah orang yang dibutuhkan untuk menghentikan perang, yang membuat setidaknya satu juta rakyat Irak terbunuh, tapi aku tetap yakin kita sebenarnya punya kekuatan untuk mencegah invasi. Sebuah kesempatan besar telah hilang sejauh yang saya tahu.

Pada 2007, saya bergabung dengan Free Gaza Movement dengan rencananya untuk menantang blokade Gaza dengan melakukan perjalanan ke Gaza lewat laut. Sejak saya mendengar tentang rencana itu saya tahu aksi ini bisa berhasil dan akhirnya saya bertindak sebagai kapten pada upaya pertamanya. Pemerintah Israel mengatakan selama persiapan kami bahwa kami tidaklah lebih baik daripada perompak, dan mereka akan memperlakukan kami seperti itu. Mereka menegaskan bahwa kami tidak akan mencapai Gaza. Tapi aku masih yakin bahwa kami bisa berhasil. Dan kami berhasil. Dua perahu dengan 46 penumpang dari berbagai negara berhasil berlayar ke Gaza pada 23 Agustus 2008; inilah yang pertama dilakukan dalam 41 tahun terakhir.

Sebenarnya Blokade Gaza telah berlangsung lebih dari tiga tahun, namun kami, sekelompok kecil orang berhati nurani menantang mesin-mesin Israel dan merayakan bersama puluhan ribu warga Gaza ketika kami tiba pada saat itu. Kami membuktikan bahwa hal itu bisa dilakukan. Kami membuktikan bahwa sebuah rencana cerdas, dengan keterampilan menangani media, bisa membuat kedigdayaan Angkatan Laut Israel menjadi sia-sia. Dan saya sadar bahwa ini hanya puncak dari gunung es.

Jadi, berpartisipasi dalam Armada Kebebasan adalah seperti sebuah reuni keluarga bagi saya. Inilah keluarga saya yang lama hilang yang hati nurani adalah panduan mereka, yang telah menyingkirkan rasa takut, yang bertindak dengan kemanusiaan. Tapi secara khusus saya sangat bangga untuk bergabung dengan IHH dan unsur-unsur armada Turki itu. Saya sangat mengagumi kekuatan dan karakter orang Turki, meskipun Anda memiliki noda sejarah ketidakadilan, seperti halnya setiap bangsa, tapi Anda pada hari ini dari rakyat biasa hingga Perdana Menteri adalah di antara para pemimpin di jalan kemanusiaan dan keadilan.

Saya ingat ditanya selama Aksi Perisai Manusia TJP ke Irak, apakah saya seorang pasifis, saya menjawab dengan mengutip Gandhi dan mengatakan saya sama sekali bukan pasifis.

Sebaliknya, saya percaya pada tindakan, dan saya juga percaya akan pembelaan-diri, 100%, tanpa reservasi. Saya tidak akan mampu berdiam diri sementara tiran membunuhi keluarga saya, dan serangan terhadap Mavi Mamara adalah seperti serangan terhadap keluarga Palestina saya.

Saya bangga berdiri bahu-membahu dengan mereka yang menolak untuk membiarkan militer Israel yang jahat melaksanakan maksud mereka tanpa perlawanan. Dan ya, kita melawan.

Ketika saya ditanya, dalam peristiwa serangan Israel atas Mavi Mamara, akankah saya menggunakan kamera, atau mempertahankan kapal?
Maka, dengan antusias saya berkomitmen akan mempertahankan kapal. Meskipun saya pendukung non-kekerasan, sebenarnya saya percaya non-kekerasan harus selalu menjadi pilihan pertama.

Namun saya bergabung mempertahankan Mavi Mamara karena menyadari bahwa kekerasan bisa digunakan terhadap kami dan bahwa kami benar-benar dipaksa untuk menggunakan kekerasan dalam pembelaan diri.

Saya mengatakan ini langsung kepada agen Israel, mungkin dari Mossad atau Shin Bet, dan saya mengatakan ini sekali lagi sekarang, pada pagi serangan itu saya terlibat langsung dalam melucuti dua Komando Israel.

Ini adalah perampasan paksa, tanpa negosiasi, senjata dari pasukan komando yang telah membunuh dua saudara kami yang saya saksikan pada hari itu. Satu saudara kami terkena peluru tepat di dahinya, dalam apa yang tampaknya merupakan sebuah eksekusi.

Saya tahu para komando telah membunuh ketika saya merampas pistol 9mm dari salah satu mereka. Pistol itu ada di tangan saya dan sebagai mantan Marinir AS dengan pelatihan menggunakan senjata, adalah benar-benar dalam kekuasaan saya untuk menggunakan senjata itu pada Komando yang mungkin telah membunuh salah seorang saudara saya.

Tapi bukan itu yang saya lakukan, maupun para penumpang lainnya di kapal itu.

Saya mengambil senjata itu, mengeluarkan pelurunya, memisahkan peluru itu dari senjata dan menyembunyikan pistolnya.

Saya melakukan ini dengan harapan kami akan menghentikan serangan dan menyerahkan senjata sebagai bukti dalam pengadilan pidana terhadap pemerintah Israel atas pembunuhan massal yang mereka lakukan.

Saya juga membantu secara fisik untuk melumpukan satu komando dan merebut darinya sebuah senapan serbu, yang kemudian dibuang ke laut oleh penumpang lain. Saya dan ratusan penumpang mengetahui kebenaran yang benar-benar menghinakan militer Israel yang katanya berani itu. Kami sudah melumpuhkan sepenuhnya tiga komando dan melucuti mereka hingga tak berdaya. Anak-anak itu berada dalam belas kasihan kita. Mereka berada di luar jangkauan teman-teman pembunuh mereka, di dalam kapal, dan dikelilingi oleh 100 orang atau lebih. Saya melihat ke dalam mata ketiga prajurit muda itu dan saya dapat memberitahu Anda bahwa mereka memiliki rasa takut akan Tuhan di dalamnya. Mereka menatap kami seakan kami sama seperti mereka, dan saya yakin mereka tidak percaya bahwa mereka akan bisa bertahan hidup pada hari itu. Mereka tampak seperti anak-anak yang ketakutan di hadapan wajah seorang ayah yang kasar.

Tapi mereka tidaklah menghadapi musuh yang kejam seperti mereka. Sebaliknya seorang wanita memberikan bantuan pertama, dan akhirnya mereka dibebaskan, memang dipukuli dan pastinya memar, tapi mereka masih hidup. Bisa menjalani kehidupan di hari berikutnya. Bisa merasakan sinar matahari dan memeluk orang yang dicintai. Tidak seperti orang-orang yang mereka bunuh. Meskipun berkabung karena kehilangan saudara kami, dan merasa marah terhadap prajurit-prajurit muda itu, kami tetap membiarkan mereka pergi.

Para pelacur propaganda Israel dapat memuntahkan semua empedu menjijikkan yang mereka inginkan, tapi tetap komando itu adalah pembunuh, dan kami pembela-diri, dan kami melawan.

Kami melawan bukan hanya untuk hidup kami, bukan hanya untuk kargo kami, bukan hanya bagi rakyat Palestina, kami melawan atas nama keadilan dan kemanusiaan. Kami dalam kebenaran dalam melakukannya, pada segala hal.

Sementara dalam tahanan Israel, saya bersama dengan yang lain menjadi sasaran pelecehan tanpa henti dan tindakan penghinaan yang mencolok. Perempuan dan orang tua diserang secara fisik dan mental. Akses kepada makanan, air, dan toilet ditolak. Anjing digunakan untuk melawan kami, kami sendiri diperlakukan seperti anjing. Kami terkena sinar matahari langsung dalam posisi tertekan sementara tangan diborgol hingga kami kehilangan sirkulasi darah di tangan kita. Kami terus-menerus dibohongi, sebenarnya saya terpesona dengan kemampuan rutin dan kenyamanan mereka berbohong, itu benar-benar luar biasa. Kami dilecehkan dalam setiap cara yang dapat dibayangkan dan saya sendiri dipukuli dan dicekik hingga pingsan ... dan saya dipukuli lagi selama berada dalam sel.

Dari semua ini, apa yang saya lihat tidaklah lebih dari para pengecut ... tapi saya juga melihat saudara-saudara saya di dalam diri mereka. Betapa pun keji dan salahnya para agen dan pemerintah Israel, mereka masih saudara-saudara saya dan sekarang saya iba terhadap mereka. Karena mereka melepaskan hal yang paling berharga dari diri mereka sebagai manusia, yakni kemanusiaan mereka.

Sebagai penutup, saya ingin tantang setiap pendukung Gandhi, setiap orang yang berpikir mereka memahami Gandhi, yang mengakui Gandhi sebagai salah satu jiwa besar pada zaman kita, saya menantang Anda dalam sebentuk pertanyaan.

Tolong jelaskan bagaimana kami, para pembela Mavi Mamara, bukanlah contoh modern dari esensi Gandhi? Tapi pertama-tama bacalah dulu kata-kata Gandhi sendiri.

“Saya percaya bahwa, dimana hanya ada pilihan antara menjadi pengecut atau kekerasan, maka saya akan menyarankan kekerasan .... Saya lebih memilih India untuk angkat senjata dalam rangka membela kehormatannya daripada ia harus, dengan cara pengecut, menjadi saksi tak berdaya atas keterhinaannya sendiri.” ~ Mahatma Gandhi

Dan terakhir saya punya satu tantangan lain. Saya menantang setiap kritikus nilai, secara terbuka, untuk berdebat dengan saya di panggung terbuka atas tindakan kami pada hari itu. Saya terutama akan sangat senang untuk berdebat dengan para pemimpin Israel yang menuduh kami bersalah, dan akan senang luar biasa untuk menghadapi kalian.

Semua yang saya saksikan dari Israel hanyalah para pengecut dengan senjata, jadi saya siap untuk melihat Anda dalam konteks yang baru. Saya ingin berdebat dengan Anda di panggung terbuka. Anggap ini sebagai tantangan terbuka dan mari kita lihat seberapa berani pemimpin Israel.

Propaganda Israel Gagal Lagi, Penumpang Mavi Marmara justru Melindungi dan Merawat Tentara Israel

[LUAR BIASA!!! PARA AKTIVIS MALAH MELINDUNGI DAN MERAWAT PARA PEMBAJAK DAN PEMBUNUH!!!]

Para pembajak yang ditangkap dan dilucuti senjatanya tidak menghadapi "pembunuhan" seperti yang diklaim Israel.

Situs suratkabar Turki Hurriyet menerbitkan galeri foto yang menunjukkan tentara Israel yang ditangkap setelah serangan mereka ke Mavi Marmara di perairan internasional pada dini hari tanggal 31 Mei.

Tanggapan yang sudah diprediksi dari militer Israel, seperti dikutip dalam Haaretz, adalah bahwa "gambar yang dipublikasikan adalah bukti yang jelas dan tegas bahwa yang ada di kapal Mavi Marmara adalah para tentara bayaran yang dimaksudkan untuk membunuh tentara Israel." Juru bicara Israel dan media dalam beberapa hari ini juga mengklaim bahwa para prajurit mereka menghadapi "pembunuhan".

Foto-foto berikut justru tidak menunjukkan hal semacam itu, tetapi menunjukkan sebaliknya. Pertama, jelas bahwa para penumpang memiliki cukup waktu dan kesempatan untuk secara serius melukai atau membunuh para tentara Israel jika itu memang niat mereka. Sementara minimal 9 armada penumpang dibunuh oleh Israel, tidak ada satu pun tentara Israel yang terbunuh meskipun setidaknya dua hingga empat serdadu dilucuti senjatanya dan ditangkap ketika mereka melakukan sesuatu yang ilegal, sebuah serangan bersenjata tak beralasan atas sebuah kapal sipil di perairan internasional.

Dalam beberapa foto yang dirilis Hurriyet tampak bahwa para penumpang atau petugas medis tampak melindungi dan membantu para prajurit Israel. Di bawah ini kita melihat penumpang merawat penyerang Israel yang terluka dan melindunginya - bukan dari serangan kekerasan - tapi hanya dari foto.

Sebuah foto tambahan, yang tidak termasuk dalam galeri Hurriyet, tapi diposting pada halaman Facebook The Economist menunjukkan prajurit yang sama, dan orang yang melindungi dia, sementara orang ketiga melakukan perawatan medis. (Terima kasih kepada http://twitter.com/AmoonaM untuk melacak gambar ini) .
Foto lain dari galeri Hurriyet, di bawah ini, sekali lagi menunjukkan seorang prajurit yang tampaknya akan mendapatkan bantuan untuk menghentikan pendarahan di wajahnya dengan perban atau kain putih. Tentu saja, adalah mungkin untuk memberikan penjelasan, seram, sensasional dan imajinatif, untuk foto ini - seperti yang Israel coba lakukan - dan klaim bahwa seseorang sedang mencoba untuk mencekik prajurit! Tetapi mengingat kenyataan bahwa ia tidak mati lemas dan semua tentara Israel pulang hidup-hidup, maka penjelasan yang paling mungkin, yang sesuai dengan semua bukti lain, adalah bahwa dia sedang dirawat.


Foto-foto berikut muncul di situs berita Turki internethaber.com juga jelas menunjukkan tentara Israel yang dirawat, tidak terluka oleh penumpang Mavi Marmara. (Galeri yang sama menunjukkan penumpang terluka serta ini juga bisa dilihat dari sumber foto yang ditemukan pada halaman Facebook The Economist, http://twitter.com/intifadhat).

Jun 4, 2010

FOREVER YOUNG, DOGAN!!!


Angkatan laut asing menyerang kapal tak bersenjata yang mengibarkan bendera dari anggota NATO di perairan internasional dan menembak mati seorang warga negara Amerika (remaja berusia 19 tahun, Furkan Dogan) dengan empat peluru untuk kepala dan satu di dada (apakah dia masih bisa melawan saat peluru ketiga ditembakkan ke kepalanya???). Dan ini terjadi saat presiden dari negara yang melakukan pembunuhan sedang dalam perjalanan untuk suatu kunjungan kenegaraan ke Washington, DC, dan yang akan dihadiahi lebih dari US$ 200 juta bantuan dari uang pembayar pajak Amerika.

Forever young, Dogan! Rest in peace beside our beloved Rachel Corrie...

Posisi Hukum terkait Serangan Israel

Mendengar debat tentang siapa salah dan benar dalam peristiwa tanggal 31 Mei 2010, sementara keluarga serta sahabat korban penyerangan Israel berduka dan warga Gaza masih dalam kepungan amat menyakitkan.

Tapi mari kita berpikir lurus, selurus dan sepolos kata-kata hukum internasional. Berikut ini adalah beberapa pendapat ahli hukum internasional terkait serangan Israel atas kapal-kapal Armada Kebebasan di wilayah perairan internasional.

Craig Murray (mantan Dubes Inggris dan pakar hukum laut):

Kata pada posisi hukum amatlah polos. Menyerang kapal berbendera asing di perairan internasional adalah ilegal. Ini merupakan tindakan perang ilegal.

Karena kejadian itu terjadi di laut lepas tidak berarti hanya hukum internasional yang berlaku. Hukum Laut cukup jelas bahwa ketika insiden terjadi di atas kapal di laut lepas (di luar wilayah perairan siapa pun) hukum yang berlaku adalah hukum dari negara yang benderanya berkibar di kapal tempat insiden itu terjadi. Secara hukum, kapal Turki adalah wilayah Turki.

Oleh karena itu ada 2 kemungkinan hukum yang jelas.

Kemungkinan pertama adalah pasukan Israel bertindak atas nama pemerintah Israel dalam membunuh para aktivis di atas kapal. Apabila Israel berada dalam posisi perang dengan Turki, maka tindakan Israel berada di bawah yurisdiksi internasional sebagai kejahatan perang.

Kemungkinan kedua adalah apabila pembunuhan itu tidak diotorisasi oleh militer Israel, maka tindakan pembunuhan itu berada di bawah yurisdiksi Turki. Jika Israel tidak menganggap dirinya dalam posisi perang dengan Turki, maka Israel harus menyerahkan pasukan komando yang terlibat untuk diadili di Turki di bawah hukum Turki.

Singkatnya, jika Israel dan Turki tidak berperang, maka hukum Turki yang berlaku terhadap apa yang terjadi di kapal. Adalah Turki, bukan Israel, yang berwenang melakukan penyelidikan atau investigasi setiap peristiwa dan untuk melakukan setiap penuntutan. Israel wajib menyerahkan personil yang dituntut.

Francis Boyle (Profesor hukum internasional di University of Illinois College of Law)

Serangan Israel terhadap Armada Gaza melanggar Konvensi SUA [Konvensi PBB tentang Penindakan terhadap Aksi Ilegal Melawan Keselamatan Navigasi Maritim], dimana Israel , Turki, Irlandia, dan Amerika Serikat adalah pihak bagi konvensi itu. Konvensi ini didorong Amerika Serikat sebagai reaksi terhadap aksi pembajakan Kapal Achille Lauro.

Terkait dengan blokade, kapankah sebuah negara bisa menerapkan blokade? Jawabannya, ketika dalam keadaan perang atau PBB telah memberikan izin khusus. Blokade laut adalah tindakan perang di bawah hukum internasional, jadi tidak satu negara pun berhak secara hukum menerapkan blokade terhadap yang lain kecuali jika bertindak dalam membela-diri secara individual atau kolektif; sebuah persyaratan standar untuk berperang atau jika Dewan Keamanan PBB telah mengumumkan tindakan yang diperlukan untuk menjaga perdamaian internasional.

Banyak pihak menganggap blokade Israel atas Jalur Gaza berada di atas dasar hukum yang sangat meragukan. Status Israel di Tepi Barat dan Gaza adalah rezim pendudukan yang agresif. Rezim pendudukan yang agresif berbeda dari keadaan perang yang sebenarnya dan oleh sebab itu Israel tidak memiliki hak secara teknis untuk membentuk sebuah blokade. Selain itu, insiden pada hari Minggu terjadi 40 mil di lepas pantai Gaza. Ini berada di luar rentang blokade yang tradisional (12 mil). Akhirnya, tindakan Israel benar-benar ilegal.

Richard Falk (Profesor Emeritus Hukum Internasional Princenton University dan Pelapor Khusus tentang situasi hak asasi manusia di wilayah pendudukan Palestina)

Israel bersalah atas perilaku mengejutkan dengan menggunakan senjata mematikan terhadap warga sipil di atas kapal yang berada di lautan lepas, dimana kebebasan bernavigasi dijamin menurut hukum laut.

Adalah penting untuk dituntut secara kriminal pertanggungjawaban orang-orang Israel yang bertanggung jawab atas perilaku ilegal dan pembunuhan ini, termasuk pemimpin politik yang mengeluarkan perintah.

Blokade di Gaza adalah bentuk hukuman kolektif besar-besaran yang merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. Apabila tindakan cepat dan tegas tidak diambil untuk mematahkan blokade Israel atas Gaza, maka kita semua akan terlibat dalam kebijakan kriminal yang membahaykan kelangsungan hidup seluruh komunitas yang terkepung itu.

Pakar hukum internasional Frankfurter Allgemeine Zeitung

Negara-negara tidak diperbolehkan oleh hukum internasional untuk memperluas kedaulatan mereka di perairan internasional... Di wilayah yang disebut zona tambahan, yang membentang 24 mil laut (44 km) dari pantai suatu negara, negara memang memiliki hak untuk menginspeksi -- terutama untuk memastikan penerapan hukum imigrasi dan peraturan kesehatan masyarakat. Namun, hal itu mempersyaratkan adanya dugaan beralasan dari pembajakan atau perdagangan manusia -- atau adanya dugaan bahwa kapal itu tidak terdaftar di negara manapun... Jika Israel telah menggunakan kekerasan terhadap kapal-kapal tanpa alasan yang sah, maka anggota kru kapal memiliki hak untuk membela diri.

Robin Churchill, profesor hukum internasional di University of Dundee, Skotlandia, mengatakan tidak ada dasar hukum untuk menaiki kapal ketika kapal itu berada di perairan internasional. Ove Bawa, profesor hukum internasional Swedia, mengatakan bahwa Israel tidak punya hak untuk mengambil tindakan militer. Hal itu didukung oleh Mark Klamberg di Universitas Stockholm, Hugo Tiberg, profesor hukum maritim dan Geir Ulfstein , profesor hukum maritim di Universitas Oslo, sementara, Jan Egeland, Direktur Norwegian Institute of International Affairs mengatakan bahwa hanya Korea Utara yang bersikap seperti Israel di perairan internasional.

Anthony D'Amato (Profesor hukum internasional di Northwestern University School of Law)

San Remo Manual on International Law Applicable to Armed Conflicts at Sea (landasan hukum yang diklaim Israel) hanya berlaku untuk situasi dimana hukum perang berlaku di antara negara-negara. Hukum perang tidak berlaku dalam konflik antara Israel dan Hamas, yang bahkan bukan negara. Dalam konteks ini, hukum Konvensi Jenewa-lah yang berlaku.

Diana Buttu (pengacara internasional Kanada)

Perjanjian Gaza-Jericho (yang diklaim Israel sebagai dasar hukum tindakannya) tidak lagi berlaku karena Israel telah menyatakan Kesepakatan Oslo sudah mati pada tahun 2001, dan Israel pun benar-benar telah melanggar perjanjian itu, sehingga penerapan Perjanjian Gaza-Jericho tidak masuk akal.

José María Ruiz Soroa (pakar hukum laut Spanyol penulis komentar hukum “Manual de derecho de la navegación Maritima”)

Israel tidak berhak menurut hukum internasional untuk membatasi kebebasan navigasi kapal apa pun di laut lepas, kecuali dalam beberapa situasi yang tidak berlaku untuk kasus Armada Gaza. Blokade bukanlah alasan yang sah karena merupakan konsep yang hanya berlaku untuk situasi perang. Dia juga menyebutkan bahwa tindakan Israel adalah pelanggaran terhadap Konvensi Organisasi Maritim Internasional PBB untuk Penindakan terhadap Aksi Ilegal Melawan Keselamatan Navigasi Maritim (Konvensi SUA), yang ditandatangani oleh Israel pada April 2009. Menurut Pasal 6.1 SUA, yurisdiksi atas tindak pidana yang terjadi di atas kapal berada di bawah hukum negara yang benderanya berkibar di atas kapal tersebut.

Jun 3, 2010

Sumber dan Media Turki Ungkap Israel Miliki Daftar Target Pembunuhan di Armada Kebebasan

oleh kawther salam

Sumber dan media Turki menunjukkan dokumen yang memperlihatkan bahwa daftar kematian telah dipersiapkan sebelumnya oleh Israel. Daftar itu yang menunjukkan nama-nama dan foto-foto orang yang ikut dalam kapal yang harus dibunuh. Menurut sumber-sumber Turki, ratusan tentara Israel menyerbu kapal Turki "Marmara" dan mereka memiliki salinan dari daftar kematian itu. Termasuk dalam daftar itu nama-nama warga sipil pada armada yang harus dibunuh. Dokumen didapatkan setelah seorang tentara Israel menghilangkannya selama aksi pembajakan.

Para pemimpin dari geng kriminal perang Israel, yang disebut "pemerintah Israel" yang saat ini terlibat dalam upaya menghasut perang terhadap Iran, tidak bisa berbuat apa-apa dalam menanggapi kesepakatan trilateral Turki-Iran-Brasil pada 17 Mei 2010 untuk mentransfer 1,200 Kg uranium yang diperkaya rendah ke Turki dengan imbalan bahan bakar nuklir. Sebagai aksi balasan, mereka melakukan pembantaian terhadap armada kemanusiaan "Armada Kebebasan" yang membawa bantuan dan bertujuan mematahkan pengepungan genosida Israel atas Gaza yang diberlakukan sejak 2006. Perjanjian Turki-Iran-Brasil muncul menjadi hambatan terhadap ambisi Israel dalam memaksa dunia untuk masuk ke dalam sebuah spiral perang berdarah.

Pembajakan maritim dan operasi pembantaian yang dilakukan oleh Shayetet 13, sebuah unit komando angkatan laut, dimana setidaknya 19 aktivis perdamaian dibunuh dan lebih dari 50 luka-luka, adalah keputusan dari lingkaran dalam kekuasaan di Tel Aviv dan disetujui oleh Kabinet Israel dipimpin oleh Benjamin Netanyahu, Ehud Barak dan para penjahat perang lainnya. Pembantaian ini merupakan pesan Israel yang ditujukan kepada Turki dan sekutu barunya, Iran dan Suriah. Siapa yang tahu dan dapat membaca garis serta sejarah pemimpin militer Israel dapat mengerti bahwa Israel tidak pernah membedakan antara warga sipil dan militan dari kelompok-kelompok yang dianggap sebagai musuh sesuai dengan standar non-logis dari Zionis.

Israel melakukan pembantaian terhadap kapal Turki "Marmara", yang membawa bantuan kemanusiaan ke Palestina yang terkepung di kamp konsentrasi Gaza. Pembantaian ini juga direncanakan dengan baik oleh kabinet Israel, dan beberapa pemerintah sekutu Israel diinformasikan dengan rincian informasi yang lengkap tentang kejahatan yang direncanakan itu. Israel menugaskan unit khusus di Korps Marinir, mengerahkan perahu dan helikopter patroli sepanjang pantai Asdod dan Gaza dan menyatakan secara sepihak bahwa perairan di lepas pantai Gaza adalah zona militer tertutup. Mereka juga mengumumkan melalui organ-organ propaganda mereka rencana mereka untuk mentransfer kapal dan aktivis solidaritas ke pelabuhan Asdod sebelum mendeportasi mereka ke negara masing-masing sebagai imigran gelap, dan untuk menangkap mereka yang menolak untuk mengidentifikasikan diri dan menandatangani janji untuk tidak kembali. Mereka juga menyiapkan tenda-tenda sebagai unit penahanan untuk memenjarakan para aktivis dan menyelidiki mereka. Tim dari interogator Israel yang memilih untuk menginterogasi para aktivis perdamaian itu diawaki oleh orang-orang dengan pengalaman sebagai penyiksa dan yang sebelumnya "bekerja" di gulag-gulag Israel.

Kapal-kapal Israel memonitor Armada Kebebasan dari jarak sekitar 124 km jauhnya dari pantai Israel. Menurut para aktivis internasional, para penumpang bergegas untuk memakai jaket keselamatan dan mengangkat status siaga begitu kapal-kapal perang terlihat. Aktivis perdamaian di atas kapal konvoi menyatakan bahwa tiga kapal Israel berbicara kepada Kapten kapal Turki melalui radio dan memperingatkan akan konsekuensi mendekati pantai Gaza yang dinyatakan sebagai daerah militer tertutup. Mereka memerintahkan kapten kapal membawa kapal kemanusiaan ke pelabuhan Asdod, menekankan bahwa angkatan laut Israel akan mencegah penetrasi suatu wilayah yang merupakan zona militer tertutup apa pun akibat yang mungkin terjadi. Ini berarti mereka tidak akan segan-segan membunuh siapa pun.

Anggota parlemen Arab-Israel Hanan Al-Zoubi telah berbicara melalui pengeras suara dalam bahasa Ibrani dengan militer Israel dan mengatakan bahwa mereka tidak berhak menyerang kapal yang mengangkut aktivis perdamaian sipil dan bantuan kemanusiaan. Hanan menambahkan bahwa selama permohonannya itu, para prajurit Israel telah melepaskan tembakan peluru tajam ke kapal, yang menyebabkan luka warga sipil, di antaranya warga Arab-Israel Sheikh Raed Salah, yang ditembak dan kini dalam kondisi kritis. Dia menambahkan: "kapal meriam Israel yang mendekati armada kebebasan meminta kapten kapal untuk mengidentifikasikan diri dan identitas kapal. Kapal berada di perairan Internasional sekitar 100 mil dari Gaza. Pada saat itulah, helikopter-helikopter Israel menyerang kapal-kapal dari udara.

Sumber dan media Turki menunjukkan dokumen yang memperlihatkan bahwa daftar kematian telah dipersiapkan sebelumnya oleh Israel. Daftar itu yang menunjukkan nama-nama dan foto-foto orang yang ikut dalam kapal yang harus dibunuh. Menurut sumber-sumber Turki, ratusan tentara Israel menyerbu kapal Turki "Marmara" dan mereka memiliki salinan dari daftar kematian itu. Termasuk dalam daftar itu nama-nama warga sipil pada armada yang harus dibunuh. Dokumen didapatkan setelah seorang tentara Israel menghilangkannya selama aksi pembajakan.


Mengenai keterlibatan negara asing lain dalam kejahatan ini, terungkap bahwa anggota-anggota Parlemen Jerman yang ada di atas kapal, Annette Groth, Inge Höger dan Norman Paech, telah berulang kali meminta Kementerian Luar Negeri Jerman untuk mendukung dan memberi perlindungan, namun ditolak dan sebaliknya mereka diperingatkan untuk segera keluar dari armada karena akan adanya "bahaya" yang tidak dijelaskan lebih lanjut. Kemudian, indikasi lain terlihat dari sikap aneh Siprus, yang tidak mengizinkan kapal masuk ke pelabuhannya, dan mengizinkan delegasi Parlemen Siprus untuk naik ke kapal. Ini mengindikasikan adanya informasi dan pengetahuan sebelumnya akan terjadinya kejahatan itu.[redactednews | vop]

Jun 1, 2010

3 Fakta yang Harus Anda Tahu Tentang Serangan Israel terhadap Aktivis Perdamaian di Armada Gaza

Korporasi media arus utama telah begitu saja membiarkan juru bicara Israel untuk mengisi gelombang udara dengan informasi yang salah. Mari kita menegaskan kembali beberapa fakta sederhana.

Dalam 12 jam terakhir, Israel mampu menciptakan sebuah penyumbatan informasi, sama seperti yang terjadi ketika Israel menyerang Gaza 18 bulan lalu, dimana media arus utama membiarkan begitu saja juru bicara Israel melenggang tanpa tanding.

Berapa banyak warga sipil yang tewas oleh serangan fajar Israel terhadap Armada Bantuan Gaza? Kita masih belum tahu pasti. Berapa banyak yang terluka? Tebakan Anda tidak lebih baik daripada saya. Apakah para aktivis dipersenjatai? Ya, kata Israel. Apakah mereka bersekongkol dengan al-Qaeda dan Hamas? Tentu saja, kata Israel. Apakah tentara telah bertindak wajar? Tentu saja, mereka menghadapi ancaman pembunuhan, kata Israel.

Jika kita perlu bukti sejauh mana wartawan TV Barat hanya menjadi stenograf bagi otoritas Israel, maka BBC, CNN dan yang lainnya sudah cukup membuktikan hal itu. Mark Regev, kepala propagandis Israel, mendominasi udara informasi terutama hanya bagi dirinya sendiri.

Para penumpang kapal, sementara ini, telah diculik oleh Israel dan tidak dapat memberikan versi alternatif dari kejadian. Kita bisa menebak mereka akan tetap diam sampai Israel yakin telah menetapkan agenda berita-berita.

Jadi sebelum kita dibanjiri oleh propaganda Israel, mari kita menegaskan kembali beberapa fakta sederhana:

  1. Tentara Israel menyerang kapal tersebut di perairan internasional, melanggar hukum internasional, dan, dalam membunuh warga sipil, melakukan kejahatan perang. Klaim tandingan dari komandan tentara Israel bahwa mereka menghadapi serangan dari warga sipil layak dan harus ditolak keras-keras.
  2. Pemerintah Israel menyetujui pembajakan kapal ini oleh sebuah pasukan elit. Mereka dipersenjatai dengan senjata otomatis untuk ‘mengamankan’ warga sipil di atas kapal, tapi tidak dilengkapi dengan peralatan anti hura-hara jika terjadi perlawanan. Apa pun situasi konfrontasinya, Israel tetap harus bertanggung jawab karena telah mengirimkan tentara dan dengan sembrono membahayakan kehidupan semua warga sipil di atas kapal, termasuk bayi.
  3. Israel tidak memiliki hak untuk mengendalikan Gaza layaknya wilayah perairannya sendiri dan untuk menghentikan konvoi bantuan yang datang lewat jalur itu. Dengan demikian, ini membuktikan bahwa Gaza masih dalam kondisi pendudukan yang agresif. Dan jika Israel menduduki Gaza, maka di bawah hukum internasional Israel bertanggung jawab atas kesejahteraan warga Gaza. Mengingat bahwa blokade telah menjadikan warga Gaza berdiet selama empat tahun terakhir, Israel seharusnya sudah sejak lama dihadapkan ke meja hijau karena telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Israel memilih untuk membunuh warga Palestina di bawah pendudukan tetapi juga masyarakat internasional itu sendiri.

Apakah para pemimpin kita punya nyali untuk bertindak? [jonathan cook | jege]

Foto Propaganda Israel di Haaretz Tidak Masuk Akal


Ini adalah foto dan keterangan propaganda Israel yang muncul di situs suratkabar Israel Haaretz.

Ada beberapa hal yang tidak dapat dipercaya tentang hal ini:

1. Serangan Israel terjadi dalam kegelapan. Ada cahaya siang hari yang terang masuk melalui jendela.
2. Siapa yang mengambil foto ini? Pasukan Komando Israel yang katanya terancam dengan pisau? Foto yang bagus!
3. Semua orang di belakang pria dengan pisau itu terlihat cukup tenang dan seolah-olah mereka tidak sedang diserang oleh tentara Israel.
4. Orang-orang di kapal diperintahkan untuk memakai jaket penyelamat sebelum serangan Israel terjadi dan dalam gambar ini tak ada seorang pun yang mengenakannya.
5. Bagaimana mereka tahu dia aktivis “sayap kiri”? Dia tidak cocok dengan stereotipe seorang aktivis sayap kiri. Apakah mereka meluangkan waktu untuk melakukan wawancara saat dia diduga mencoba menusuk mereka?

Cek realitas: Jika foto ini berasal dari kapal itu, maka ia menunjukkan seorang pria membawa sebilah belati seremonial, mungkin dalam sebuah demonstrasi akan keberaniannya di depan kamera dan para wartawan. Yang pasti adalah foto ini tidak bisa membenarkan serangan militer Israel di laut lepas dan pembunuhan warga sipil di sebuah kapal bantuan kemanusiaan. Lagipula, andaikan saja mereka punya banyak belati di kapal, apa yang akan mereka lakukan, berlayar ke Gaza dan kemudian “menikam” Israel?

UPDATE: Belakangan Haaretz menghapus foto. Untungnya, saya selalu menyimpan salinan halaman web asli yang saya kutip.[ali abunimah | vop]