Mar 25, 2011

Susahnya Warga AS Bikin Passport

Departemen Luar Negeri AS berencana merevisi daftar pertanyaan yang harus diisi warga AS yang mengajukan permohonan passport. Draf formulir DS-5531 mengajukan bermacam pertanyaan, termasuk di antaranya adalah semua alamat pemohon sejak lahir; nama, alamat, dan nomor telepon dari para atasan dan supervisor di tempat kerja pemohon sejak pertama kali pemohon bekerja; alamat ibu kandung satu tahun sebelum pemohon dilahirkan; dan upacara-upacara keagamaan yang dilakukan saat pemohon dilahirkan.

Kalau semua pertanyaan itu tidak dijawab, maka permohonan aplikasi passportnya akan ditolak.

Deplu AS yakin bahwa setiap pemohon akan dapat melengkapi formulir itu dalam waktu 45 menit. "Absurd! Ini membutuhkan riset untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu," gerutu seorang blogger warga AS.

Apakah AS selangkah menuju "negara polisi"? "Hope and Change!", Tuan Obama???

Mar 24, 2011

Israel Culik Bos "PLN" Gaza di Ukraina

Anak-anak Abu Sisi di Gaza memprotes penculikan ayah mereka oleh Israel
SETELAH  lebih daripada  satu bulan menghilang tanpa jejak sejak melakukan perjalanan pada 18 Februari ke Kiev, Ukraina, dengan kereta api, akhirnya Dirar Abu Sisi, manajer pembangkit listrik satu-satunya di Jalur Gaza dilaporkan berada di penjara Shikma, dekat Ashkelon. Pejabat Zionis-Israel mengakui aksi penculikan dan penahanan rahasia ilegal itu.

Meskipun Majelis Hakim di Petah Tikva telah menolak sebagian perintah pembukaman (gag order) atas Abu Sisi atas permintaan Association for Civil Rights (ACR) di “Israel”. Alasan penangkapan dan informasi proses investigasi hingga kini tidak pernah disampaikan oleh para pejabat Israel.

Sekilas Riwayat Penculikan

Kepada seorang pengacara dari Palestinian Center for Human Rights, Abusisi dapat menyampaikan riwayat kejadian yang menimpanya. Dia diculik oleh tiga orang, dimana dua di antara berseragam militer Ukraina, di kamarnya di atas kereta api dari Kharlov menuju Kiev. Mereka kemudian membawanya turun di Stasiun Poltava.

Abu Sisi mengatakan bahwa ia diborgol, ditutup kepalanya, dan diangkut ke dalam mobil menuju Kiev. Setelah di Kiev, ia ditahan di sebuah apartemen, dimana terdapat enam orang lain yang memperkenalkan dirinya sebagai anggota Mossad. Abu Sisi mengatakan bahwa sejak itu, para anggota Mossad terus menginterogasinya.

Insinyur Palestina ini mengatakan ia kemudian dibawa menaiki pesawat yang terbang antara empat hingga lima jam sebelum mendarat di sebuah tempat yang asing baginya. Sekitar tiga puluh menit kemudian, mereka terbang lagi selama sekitar satu jam. Setelah mendarat, Abu Sisi menemukan dirinya berada di “Israel”.

Abu Sisi mengatakan bahwa ia tidak diizinkan meghubungi pengacara selama 14 hari. Penolakan ini diperpanjang selama 11 hari selanjutnya. Dia mengalami interogasi yang intensif dan hak-hak hukumnya banyak yang diabaikan.

Dugaan Alasan Penculikan

Beberapa hari setelah Abu Sisi menghilang, istrinya yang berkebangsaan Ukraina, Veronica, sudah lebih dulu menuding agen rahasia Israel Mossad sebagai pelaku penculikan atas suaminya. Menurut Veronica, “Israel”ingin memperoleh informasi yang bisa digunakan untuk melumpukan stasiun pembangkit listrik di Gaza sebagai bagian dari upaya untuk kembali melancarkan agresi atas wilayah tersebut.

Abu Sisi baru-baru ini berhasil mengembangkan sebuah  metode untuk mengurangi ketergantungan stasiun pembangkit Gaza terhadap bahan bakar diesel yang suplainya dikendalikan oleh Otoritas Pendudukan “Israel”.

Keluarga Abu Sisi membantah tuduhan pihak Zionis bahwa Abu Sisi adalah anggota senior kelompok Hamas. Posisi sebagai manajer stasiun pembangkit diperoleh Abu Sisi murni berdasarkan kemampuan dan keahliannya. Dia pun sudah berada di posisi itu saat Otoritas Palestina di bawah Mahmoud Abbas masih memegang kendali atas Gaza.

Keterlibatan Pihak Ukraina

Sejauh ini, pemerintah Ukraina secara resmi membantah informasi bahwa pihaknya mengetahui rencana dan aksi penculikan tersebut. PM Mykola Azarov, saat berkunjung ke Israel, minggu lalu, secara diplomatis berkata, “Saya tidak ingin membayangkan bahwa hal-hal seperti itu dilakukan di atas tanah dari sebuah negara yang bersahabat.”

Jurnalis independen AS Richard Silverstein meragukan bantahan Kiev. Dalam sebuah artikel, Silverstein menulis, “Apakah mereka (pihak Ukraina) bisa menjelaskan bagaimana bisa dua orang berseragam militer Ukraina menaiki kereta api, menculik Abu Sisi, membawanya ke sebuah apartemen di Kiev, lalu ke bandara, menaiki pesawat, dan terbang dari tanah Ukraina? Apakah Israel melakukan semua ini tanpa sedikit pun bisikan informasi atau kecurigaan di pihak Ukraina?”

Pelanggaran Hukum

Mossad punya catatan buruk melakukan aksi-aksi pelanggaran hukum di negeri orang. Salah satunya adalah pembunuhan terhadap pemimpin Hamas Mahmoud Al-Mabhouh, di sebuah hotel di Dubai, tahun lalu. Pada 1960, secara sepihak Mossad juga menculik penjahat perang Nazi Adolf Eichmann dari Argentina. Lalu, pada 1986, agen-agen Zionis menculik Modechai Vanunu, pembocor rahasia nuklir “Israel”, dari Italia.

Menurut Victor Kattan, pakar hukum internasional dari School of Oriental and African Studies, London University, “Israel” telah melanggar sejumlah hukum hak asasi manusia, karena melakukan semua itu tanpa adanya perjanjian ekstradisi dengan negara-negara dimaksud.

Dalam sebuah akun Facebook, “Free Dirar”, Veronica menulis sebuah pesan yang mencemaskan keselamatan dan kesehatan sang suami di penjara Israel:

"Mikhal Dansiger (mantan pengacara Dirar Abu Sisi) mengatakan kepada saya dalam percakapan telepon hari ini, bahwa Dirar menemui dokter dan kondisi kesehatannya lebih baik. Dirar tidak pernah pergi ke dokter sendiri untuk meyakinkan dirinya bahwa ia dalam kondisi baik. Sebelum penculikan, suami saya tidak pernah mengeluh tentang apa pun, semua tesnya normal. Dia selalu cermat akan kesehatannya. Tapi sekarang setelah ‘petualangan’ dan percakapan ‘hangat’ dan ‘santun’ dengan interogator agen rahasia ‘Israel’, suami saya kini memiliki masalah jantung, tekanan arteri jantungnya meningkat, masalah perut dan empedu, serta masalah batu ginjal.

Cinta saya bagi tanah air anak-anak saya (Gaza), suami saya, adalah tanpa syarat
." (sumber: znet, tikun olam)

Mar 23, 2011

Presiden-presiden AS: Perang...Perang! Di mana pun. Bagaimanapun.

Ini menjadi semacam adendum tidak tertulis dalam deskripsi kerja Presiden AS: Nyatakan perang! Di mana pun. Bagaimanapun.
Bagi Presiden Ronald Reagan pada 1986, ini adalah serangan familiar terhadap musuh yang familiar pula--Muammar khadafi. Reagan mengumumkan bahwa AS akan mengambil tindakan pada 14 April 1986.

“Meskipun kami sudah memperingatkannya berulangkali, Khadafi tetap melanjutkan kebijakan intimidasinya, upaya-upaya terornya tanpa henti,” kata Reagan dalam pidatonya kepada publik AS. “Dia (Khadafi) menganggap Amerika akan pasif. Anggapannya itu salah.”

Rupanya, begitu juga yang terjadi terhadap Saddam Hussein. Menurut Presiden George HW Bush dalam pidatonya di televisi pada 16 Januari 1991, perang terhadap Saddam dilakukan tanggapan atas konflik yang telah dimulai pada Agustus 1990, “ketika diktator Irak itu menginvasi tetangganya yang kecil dan tak berdaya.”

“Dua jam lalu, angkatan udara sekutu mulai menyerang sasaran-sasaran militer di Irak dan Kuwait,” demikian kata Bush Senior dalam pidatonya.

Bagi penggantinya Presiden Bill Clinton, target itu Slobodan Milosevic, Presiden Serbia dan Yugoslavia.

“Rakyat Amerika, saat ini angkatan bersenjata kita bergabung dengan sekutu-sekutu NATO kita dalam serangan udara terhadap pasukan Serbia bertanggung jawab atas kebrutalan di Kosovo,” kata Clinton pada 24 Maret 1999.

Presiden George W Bush mengatakan pada Maret 2003 bahwa perang atas Irak dilakukan karena ada senjata pemusnah massal yang mengancam dunia, dan serangan akan dilakukan dalam waktu singkat dan terbatas.

“Atas perintah saya, pasukan koalisi telah mulai menyerang sasaran-sasaran militer terpilih dan penting untuk melemahkan kemampuan Saddam Hussein dalam berperang,” kata Bush.

Banyak rakyat Amerika berpikir bahwa semua ini akan berakhir di sana, terutama setelah sikap anti-perang yang ditunjukkan Presiden Barack Obama dalam kampanyenya.

Tapi sekarang…

Obama berbicara sehari setelah Dewan Keamanan PBB meloloskan resolusi untuk memberlakukan zona larangan terbang di atas Libya. Dia mengatakan resolusi itu seruan untuk mengakhiri kekerasan di Libya.

Dia mengatakan bahwa resolusi itu telah “memberikan kewenangan bagi penggunaan kekuatan dengan komitmen eksplisit untuk melakukan semua tindakan yang diperlukan dalam menghentikan pembunuhan, dan menegakkan zona larangan terbang di atas Libya.”

Setidaknya ada dua kesamaan mencolok berkaitan dengan penggunaan kekuatan oleh para presiden AS:

  1. tidak pernah dalam rangka merespon serangan militer, atau bahkan ancaman serangan, terhadap AS sendiri;
  2. tidak pernah perang yang dinyatakan secara resmi.

Mar 22, 2011

Di Balik Bencana Nuklir Jepang Pasca Gempa-Tsunami Sendai (2)

Stuxnet Menginfeksi Fukushima?

Per 22 Maret 2011, Badan Energi Atom International (IAEA) mengumumkan bahwa level radiasi dalam radius 20 km dari PLTN No. 1 Fukushima (Fukushima Daiichi) telah mencapai 1.600 kali dari level normal. Data yang dikumpulkan IAEA menunjukan bahwa level radiasi 161 microsievert per jam telah terdeteksi di kota Namie, Fukushima Prefektur.

Sebab utama kesulitan para operator PLTN Fukushima Daiichi mengendalikan reaktor-reaktornya hingga kini masih gelap. Problem pertama menyusul terjadinya gempa dilaporkan adalah berupa kegagalan sistem “automatic shutdown” pada beberapa reaktor, sejak pompa-pompa air pendingin reaktor tidak berfungsi dan katup-katup tidak terbuka meski baterai masih berfungsi.

Uniknya, pola kegagalan sistemik itu mirip dengan yang ditimbulkan oleh Stuxnet pada Reaktor Nuklir Busher di Iran.

Stuxnet? Makhluk apakah dia?

Berikut ini kira-kira Wikipedia menjelaskan.

Stuxnet adalah worm komputer Windows yang ditemukan pada Juli 2010. Ia menargetkan perangkat-perangkat lunak dan peralatan industri. Ia adalah malware pertama yang pernah ditemukan mampu memata-matai dan menyabotase sistem industry, dan yang pertama menyertakan programmable logic controller (PLC).

Worm ini awalnya menyebar tanpa pandang bulu, dan juga meliputi muatan malware yang dirancang sangat khusus untuk menargetkan secara khusus sistem Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) milik perusahaan Jerman Siemens yang dikonfigurasi untuk mengendalikan dan memantau proses industri yang spesifik.

Stuxnet dilaporkan menargetkan lima lembaga di Iran, dengan kemungkinan target adalah infrastruktur pengayaan uranium di Iran. Symantec mencatat pada Agustus 2010 bahwa 60% dari komputer yang terinfeksi Stuxnet di seluruh dunia adalah di Iran. Worm ini menyebabkan kerusakan pada program nuklir Iran, yang menggunakan peralatan Siemens yang diperoleh secara klandestin. Kaspersky Labs menyimpulkan bahwa serangan canggih ini hanya bisa dilakukan “dengan dukungan negara”, dan berspekulasi bahwa Israel mungkin terlibat di dalamnya.

Di bawah ini adalah penjelasan dari New Scientist tentang Stuxnet:

...ini adalah bentuk pertama dari malware yang sejauh ini mampu memasuki jenis komputer yang mengendalikan mesin di jantung industri, memungkinkan hacker untuk mengambil kendali ... Dalam skenario terburuk, sistem keselamatan bisa dimatikan pada pembangkit listrik tenaga nuklir...

...peralatan yang digunakan dalam proses industri dikendalikan oleh sistem, yang terpisah dan total yang disebut programmable logic controller (PLC) yang menjalankan perangkat lunak supervisory control and data acquisition (SCADA).

Stuxnet mengeksploitasi empat kerentanan di dalam Microsoft Windows untuk memberikan hacker kemampuan jarak jauh dalam menyuntikkan kode berbahaya ke PLC yang dibuat oleh konglomerasi elektronika Jerman Siemens.

Seorang blogger Mike Rivero pada WhatReallyHappened mengajukan perkiraan skenario terburuk sebagai berikut.

  1. Israel dan AS membuat Stuxnet.
  2. Stuxnet ini digunakan untuk menghancurkan stasiun tenaga nuklir Iran.
  3. Tapi Stuxnet lari dari target yang diinginkan dan menyebar ke seluruh Asia!
  4. Stuxnet ditemukan di Jepang Oktober 2010, mungkin masih menyebar dan telah menyabotase pembangkit listrik tenaga nuklir Jepang.
  5. Stuxnet menagetkan perangkat lunak pengendali buatan Siemens.
  6. Kepala IAEA baru bulan lalu memperingatkan bahwa Stuxnet bisa menjadi ancaman bagi semua stasiun tenaga nuklir di seluruh dunia!
  7. Fukushima menggunakan perangkat pengendali Seimens yang menjadi sasaran Stuxnet!

Jika ini benar, maka pertanyaannya adalah: apakah kita semua akan di-hacked sampai mati oleh Israel?

Mar 21, 2011

Di Balik Bencana Nuklir Jepang Pasca Gempa-Tsunami Sendai (1)

“The Good News Guys”

Oleh Yoichi Shimatsu
Mantan Editor Japan Times Weekly

SETELAH pertemuan tingkat tinggi yang diadakan oleh Perdana Menteri, lembaga-lembaga berwenang Jepang tidak lagi merilis laporan independen tanpa persetujuan terlebih dahulu dari pejabat tingkat atas. Sensor terus dilakukan menyusul penerapan Pasal 15 UU Darurat. Pembungkaman resmi terhadap berita-berita buruk adalah cara yang sopan untuk meyakinkan publik. Menurut Menteri Sekretaris Kabinet, Yukio Edano, panas reaktor sedang diturunkan dan tingkat radiasi turun. Kontainer reaktor Unit 1 tidak retak meskipun ledakan telah menghancurkan bangunannya. Ledakan tidak terjadi dari reaktor.

Jadi apa yang menyebabkan ledakan yang menghancurkan atap dan dinding dari beton bertulang? Tidak ada penjelasan.

Ya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika warga hanya tinggal di dalam rumah, matikan pendingin udara mereka dan jangan bernapas dalam-dalam. Semua orang kembalilah tidur!

Kebocoran radiasi di PLTN Fukushima No.1 kini resmi ditetapkan telah mencapai skala “4” pada skala 7 internasional.

Cukup untuk Berita Baik

WALIKOTA Tsuruga, tempat reaktor Monju penghasil plutonium yang pernah bermasalah di Prefektur Fukui, tidak menerima begitu saja penjelasan Tokyo yang lemah mengenai ledakan di PLTN No. 1 Fukushima dan menuntut Badan Keselamatan Industri Nuklir untuk melakukan investigasi menyeluruh sesegera mungkin.

Sebuah tim dokter spesialis dari Institut Kesehatan Radiologi Nasional, yang diterbangkan dengan helikopter dari Chiba ke pusat kejadian, sekitar 5 km dari PLTN No.1, menemukan penyakit radiasi pada tiga penduduk dari 90 warga yang dijadikan sampel. Dalam semalam jumlah “hibakusha” (istilah Jepang untuk menyebut korban radiasi nuklir) sipil melonjak menjadi 19 orang, tetapi dalam jumlah lain disebutkan 160 orang. Zona evakuasi telah melebar jauh dari 10 km hingga 20 km.

Reaktor ketiga, yakni Unit 6, telah kehilangan sistem pendinginannya dan mengalami pemanasan berlebih (overheating) bersama dengan Reaktor 1 dan 2.

PLTN No. 2 Fukushima, lebih jauh ke selatan, masih dikelilingi oleh dinding keheningan meski pada saat yang sama evakuasi dilaporkan terus dilakukan.

Tim Pemadam Kebakaran memompakan air laut ke dalam tiga reaktor PLTN No. 1 Fukushima yang mengalami overheating. Pasokan air tawar yang wajib hilang, mungkin akibat sapuan gelombang tsunami. Seorang pakar nuklir Amerika telah menyebut tindakan keputusasaan ini setara dengan “Hail Mary Pass” ... (istilah American Football yang berkaitan dengan lemparan panjang sia-sia yang dilakukan menjelang pertandingan berakhir).

Jadi, Perdana Menteri Naoto Kan harus berharap bahwa komunitas kecil dari Kristen Jepang untuk berdoa. Karena sekarang, Jepang dan sebagian besar dunia menjalani hidup dengan berdoa.

Para Pemain, bukan Pendoa

AMERIKA SERIKAT: Gedung Putih mengirimkan sebuah tim untuk berkonsultasi dengan sekutu ramahnya dari pemerintahan Naoto Kan. Alih-alih mengirim ahli dari Departemen Energi, Badan Keselamatan Nuklir, dan Departemen Kesehatan, Presiden Obama malah mengirimkan perwakilan dari USAID, yang merupakan samaran bagi CIA.

Kehadiran para paranoid gagap ini justu semakin memastikan kecurigaan adanya upaya menutup-nutupi di tingkat atas. Mengapa CIA khawatir akan bencana ini?

Ada beberapa pertimbangan keamanan, seperti “musuh-musuh” regional Pyongyang, Beijing, dan Moskow yang mungkin mengambil keuntungan dari krisis ini. Namun sebaliknya, China dan Rusia malah menawarkan bantuan sipil.

Kedua, untuk mengoordinasikan kampanye publik pro-Amerika yang disinkronisasikan dengan upaya bantuan AS dari USS Ronald Reagan berbahan bakar nuklir. Banyak orang Jepang mungkin sebenarnya khawatir dengan keberadaan kapal itu di lepas pantai. Ini mengingatkan mereka akan kampanye pemboman dalam sebuah perang besar, dan helikopter-helikopter AS yang bergemuruh di udara seolah Sendai adalah Da Nang Vietnam pada 1968.

Seluruh latihan “bantuan” ini berbau pekerjaan yang bertujuan untuk menjaga eksistensi pangkalan militer AS di Okinawa dan diam-diam di sebuah lapangan tembak Pasukan Bela Diri Jepang di kaki Gunung Fuji.

Ketiga, untuk memastikan keamanan Misawa Air Force Base di Prefektur Aomori yang dilanda gempa. Misawa merupakan pusat peperangan elektronik dan spionase berteknologi tinggi AS di Asia Timur dengan armada P-3 Orion (pesawat anti kapal selam dan pengintai) serta antena mata-mata ECHELON.

China: Berbeda dengan motif tersembunyi Washington, China dalam sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya telah mengirimkan sebuah tim darurat ke Jepang. Tanpa diketahui dunia, China memiliki keahlian terkemuka di dunia dalam hal mengatasi kebocoran nuklir dan memblokir kebocoran radiasi di tambang uranium dan pabrik nuklir militer mereka. Pada 2003 diketahui di Pusat Penelitian Geologi di wilayah pegunungan yang kaya uranium, Altai, Xinjiang, seorang ilmuwan mengungkapkan secara “off the record” bahwa China mengembangkan campuran mineral yang dapat menghalangi radiasi “lebih dari 90 persen, nyaris secara total” . Ketika ditanya mengapa lembaganya tidak mengomersialkan formula mereka, ia menjawab: “Kami tidak pernah memikirkan hal itu.”

Rusia: Moskow juga menawarkan bantuan tanpa syarat, meskipun tengah terjadi konflik teritorial berkelanjutan dengan Jepang di empat pulau sebelah utara. Angkatan Udara Rusia, dari pangkalan di Kamchatka dan Kuriles, dapat memainkan peran kunci dalam menyemai awan untuk mencegah partikel radioaktif melayang di udara ke Amerika Serikat.

Amerika harus belajar bagaimana bertindak sebagai pemain tim di sebuah komunitas internasional, apalagi sekarang kehidupan anak-anak mereka sendiri akan dipertaruhkan jika terjadi kehancuran total di Fukushima.

Mar 1, 2011

Soros Salah. Republik Islam akan Bertahan dan Mendapatkan Manfaat dari Kebangkitan Arab

Analisis Menarik dari Duo Leverett!!!

Oleh Flynt Leverett dan Hillary Mann Leverett

Kami akan mengambil taruhan yang disodorkan oleh kapitalis-miliarder George Soros kepada Fareed Zakaria dari CNN minggu ini, bahwa “rezim Iran tidak akan bertahan dalam waktu setahun”. Sebenarnya, kami ingin meningkatkan taruhan bahwa tidak hanya Republik Islam akan tetap bertahan sebagai pemerintah Iran dalam waktu satu tahun, tetapi satu tahun dari sekarang, keseimbangan pengaruh dan kekuatan di Timur Tengah akan condong secara lebih jelas kepada Iran daripada yang sudah-sudah.

Persis satu dekade silam, menjelang serangan 9/11, Amerika Serikat telah membudidayakan apa yang kerap disebut oleh para pembuat kebijakan Amerika sebagai “kamp moderat” yang kuat di kawasan tersebut, meliputi negara-negara yang relatif berhasil dijerumuskan ke dalam “perundingan damai” dengan Israel dan kerjasama strategis dengan Washington, yaitu Mesir, Yordania, Arab Saudi, dan negara-negara Teluk Persia lainnya, serta Maroko, Tunisia, dan Turki. Di sisi lain, Republik Islam (Iran) memiliki aliansi pada tataran tertentu dengan Suriah, serta hubungan dengan kelompok-kelompok militan yang relatif kecil seperti Hamas dan Hizbullah. Sementara negara-negara “radikal” lainnya seperti Irak di bawah Saddam Hussein dan Libya di bawah Muammar al-Qaddafi bahkan jauh lebih terisolasi.

Sebagai akibat dari perang Irak, runtuhnya proses perdamaian Arab-Israel, dan beberapa manuver diplomasi yang cukup cerdik oleh Iran serta sekutu-sekutu regionalnya, keseimbangan pengaruh dan kekuatan di Timur Tengah telah bergeser secara signifikan melawan Amerika Serikat. Skenario untuk “menyapih” Suriah dari Iran semakin menjadi fantasi karena hubungan Damaskus dan Teheran justru menjadi semakin strategis secara kualitas. Turki, di bawah Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), telah mencatat kebijakan luar negeri yang benar-benar independen, termasuk kemitraan strategis konsekuensial dengan Iran dan Suriah. Hamas dan Hizbullah, yang disahkan oleh keberhasilan mereka dalam pemilu, telah muncul sebagai aktor politik yang penting di Palestina dan Lebanon. Maka, semakin kecillah kemungkinan bahwa Irak pasca-Saddam akan menjadi aset strategis yang berarti bagi Washington dan semakin besar kemungkinan bahwa hubungan Baghdad paling penting adalah dengan Iran, Suriah, dan Turki. Dan, semakin tampak pula bahwa sekutu-sekutu AS seperti Oman dan Qatar berupaya menyelaraskan diri mereka dengan Republik Islam dan anggota-anggota lainnya dari “blok perlawanan” di Timur Tengah pada isu-isu high-profile di arena Arab-Israel—seperti ketika emir Qatar terbang ke Beirut seminggu setelah perang Lebanon 2006 untuk menjanjikan bantuan rekonstruksi besar-besaran bagi basis Hizbullah di bagian selatan dan secara terbuka membela perlawanan Hizbullah serta memuji kemampuan militernya.

Bahkan pada masa pemerintahan Obama, keseimbangan pengaruh dan kekuatan regional telah bergeser lebih jauh lagi dari Amerika Serikat dan condong kepada Iran serta sekutunya. Republik Islam terus memperdalam aliansinya dengan Suriah dan Turki serta memperluas pengaruhnya di Irak, Lebanon, dan Palestina. Jajak pendapat publik, misalnya, terus menunjukkan bahwa para pemimpin kunci dalam “blok perlawanan” Timur Tengah—Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Suriah Bashar Assad, Hassan Nasrallah dari Hizbullah, Khaled Mishaal dari Hamas, dan Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan—sangat populer di seluruh kawasan daripada rekan-rekan mereka dalam kubu “rezim aliansi AS” di Yordania, Otorita Palestina, dan Arab Saudi.

Dan, sekarang, pemerintahan Obama berdiri tanpa daya ketika kesempatan-kesempatan baru bagi Teheran untuk mengatur ulang keseimbangan regional muncul di Bahrain, Mesir, Tunisia, Yaman, dan mungkin di tempat-tempat lain. Jika rezim-rezim politik Arab “pro-Amerika” yang saat ini sedang menghadapi tentangan dan dijatuhkan oleh gerakan-gerakan protes yang signifikan menjadi lebih mencerminkan suara populasi mereka, maka mereka tidak akan ragu untuk mengurangi—atau setidaknya menjadi kurang antusias—kerjasama strategis dengan Amerika Serikat. Dan, jika rezim-rezim “pro-Amerika” ini tidak digantikan oleh rezim Islam yang didominasi kelompok Salafi, maka pemerintahan-pemerintahan Arab yang muncul dari kekacauan ini mungkin setidaknya akan menerima pesan Iran tentang “perlawanan” dan kemandirian dari Israel serta Barat.

Tentu saja, setiap pemerintahan di Kairo yang sedikit lebih representatif daripada rezim Hosni Mubarak tidak akan bersedia untuk tetap berkolaborasi dengan Israel dalam melanjutkan blokade Gaza atau untuk terus berpartisipasi dalam program penahanan rahasia CIA yang membawa kembali orang Mesir ke Mesir hanya untuk disiksa. Demikian juga, setiap tatanan politik di Bahrain yang menghormati realitas mayoritas penduduk Syiah di negara itu akan tegas menentang penggunaan wilayahnya sebagai basis bagi aksi militer AS terhadap kepentingan Iran.

Dalam beberapa tahun ke depan, semua perkembangan ini bahkan akan lebih menggeser keseimbangan regional untuk menjauh dari Amerika Serikat dan condong kepada Iran. Jika Yordania—sebuah negara klien AS yang setia—juga ikut bermain selama periode ini, maka ia akan condong lebih jauh ke arah Iran.

Terhadap hal ini, Soros, elit Amerika lainnya, media, dan pemerintahan Obama, berkeyakinan bahwa gelombang kebangkitan massa yang menurunkan satu demi satu sekutu AS di Timur Tengah sekarang akan juga menjatuhkan pemerintahan Republik Islam—dan juga mungkin pemerintahan Assad di Suriah. Keyakinan ini lebih terlihat sebagai kemenangan angan-angan daripada sebuah analisis yang mendalam.

Banyak dari para pelaku yang sama, tentu saja, bekerja keras untuk cukup terlibat dalam hiruk-pikuk setelah Pemilu Presiden Juni 2009 di Republik Islam Iran. Selama berbulan-bulan, kita mengalami klaim-klaim yang benar-benar tak beralasan bahwa pemilu telah “dicuri” dan bahwa Gerakan Hijau akan menyingkirkan rezim Iran. Seperti juga Soros pada hari ini, banyak pakar memprediksi kematian Republik Islam pada 2009 atau 2010 seraya membuat kerangka-kerangka waktu dalam berbagai prediksi mereka—yang semuanya, menurut pengetahuan terbaik kami, telah berlalu tanpa terjadinya ledakan dalam sistem Iran. (Tapi jangan khawatir tentang dampak buruk dari malpraktek mengerikan tersebut terhadap karir mereka yang membuktikan diri tidak kompeten dalam analisis Iran. Pada hari ini, dalam Amerika yang bebas dari akuntabilitas, para “pakar” Iran yang begitu salah dalam analisis tentang Gerakan hijau pada 2009 dan 2010 itu telah kembali lagi.)

Sejak hari-hari pertama setelah pemilihan presiden Iran 2009, kami menunjukkan bahwa Gerakan Hijau tidak bisa berhasil dalam menjatuhkan Republik Islam, karena dua alasan dasar: gerakan ini tidak mewakili mayoritas masyarakat Iran dan mayoritas Iran masih mendukung gagasan tentang Republik Islam. Dua faktor tambahan bermain pada hari ini, yang membuat semakin tidak mungkin bagi mereka yang mengorganisasi demonstrasi sporadis di Iran selama seminggu terakhir akan dapat mengatalisasi “perubahan rezim” di sana.

Pertama, apa yang tersisa dari Gerakan Hijau hanyalah bagian yang lebih kecil daripada masyarakat Iran dibandingkan dengan gerakan itu pada musim panas dan musim gugur 2009. Kegagalan para calon presiden yang kalah, Mir Hossein Mousavi dan Mehdi Karroubi, untuk membuktikan pernyataan mereka tentang kecurangan pemilu dan peran penting Gerakan Hijau dalam demonisasi Barat terhadap Republik Islam sejak Juni 2009 tidaklah berfungsi positif bagi orang Iran di dalam Iran. Itu sebabnya, misalnya, mantan Presiden Mohammad Khatami diam-diam berupaya menjauhkan diri dari apa yang tersisa dari Gerakan Hijau—hal yang sama akan dilakukan setiap politikus reformis yang masih ingin memiliki masa depan politik di Republik Islam. Sebagai hasil dari salah perhitungan yang fatal oleh para pemimpin oposisi, mereka yang ingin mencoba lagi untuk mengorganisasi sebuah gerakan massa melawan Republik Islam memiliki peluang yang jauh lebih kecil daripada potensi yang mungkin bisa dimobilisasi. Ini jelas bukan potensi kemenangan, bahkan di era Facebook dan Twitter seperti sekarang ini.

Kedua, upaya untuk memulai kembali protes di Iran berlangsung pada saat kesempatan strategis terlihat nyata bagi Teheran di Timur Tengah. Keseimbangan regional bergeser, dengan cara yang berpotensi amat menentukan, dalam mendukung Republik Islam dan melawan Amerika. Dalam konteks ini, seruan Mousavi dan Karroubi kepada pendukung mereka untuk turun ke jalan pada 14 Februari—hanya tiga hari setelah pemerintahan Obama mengeluarkan desakan tersendiri bagi orang Iran untuk memberontak melawan pemerintah mereka dan ketika Obama dan tim keamanan nasionalnya terhuyung-huyung lantaran hilangnya Mubarak, sekutu lama Amerika di Mesir—adalah sebuah kesalahan luar biasa.

Rakyat Iran tidak akan mengakui orang-orang yang mereka anggap berkerja melawan kepentingan nasional sebagai kampiun politik. Dua dari rival paling menonjol kubu konservatif Ahmadinejad—mantan Presiden Ali Akbar Hashemi Rafsanjani dan mantan komandan Garda Revolusi dan kandidat presiden Mohsen Rezai—secara terbuka dan mengkritik Mousavi dan Karroubi atas tindakan dan pernyataan terbaru mereka. Ketua Parlemen Ali Larijani, rival lain Ahmadinejad, mengatakan bahwa Parlemen mengutuk aksi agitasi menyesatkan dari Zionis, Amerika, anti-revolusioner, dan anti-nasional, tuduhan yang mengarah kepada kedua pemimpin Gerakan Hijau yang menurutnya telah jatuh ke dalam perangkap yang dirancang Amerika.

Upaya-upaya AS untuk campur tangan dalam politik internal Republik Islam biasanya kurang bijaksana dan seringkali menjadi bumerang. Namun, kinerja pemerintahan Obama menetapkan standar baru dalam hal ini. Di antara konsekuensi lainnya, inisiatif pemerintah Obama terbaru untuk memprovokasi kerusuhan di Iran akan menempatkan apa yang tersisa dari kubu reformis dalam politik Iran pada kerugian yang lebih besar menjelang pemilihan parlemen tahun depan dan pemilu presiden berikutnya pada 2013. Kubu reformis sekarang dalam bahaya karena dikaitkan dengan gerakan oposisi yang semakin terpinggirkan dan terdiskreditkan karena secara efektif melakukan kehendak Amerika.

Pada tingkat yang lebih strategis, pendekatan pemerintahan Obama pasca-Ben Ali dan pasca-Mubarak bagi Iran telah menempatkan kepentingan AS dalam bahaya yang serius. Hal ini berisiko hilangnya kemungkinan berhubungan secara konstruktif dengan Republik Islam yang semakin berpengaruh. Lebih luas, pada saat dimana Amerika Serikat perlu mengetahui bagaimana berhubungan dengan tatanan politik dan gerakan-gerakan Islam yang benar-benar independen, yang merupakan pengganti paling mungkin bagi otokrasi “pro-Amerika” di Timur Tengah, pendekatan pemerintah Obama kepada Iran malah mengambil arah sebaliknya.

Amerika Serikat menghadapi tantangan serius di Timur Tengah. Posisi strategisnya di bagian penting dari dunia ini terus mengikis di depan mata kita. Terlibat dalam fantasi tentang perubahan rezim di Iran hanya akan membuat situasi menjadi lebih buruk.(www.foreignpolicy.com)

Flynt Leverett adalah peneliti senior di New America Foundation Washington, DC., dan seorang profesor di Pennsylvania State University School of International Affairs. Dari Maret 2002 hingga Maret 2003, dia menjabat sebagai direktur senior untuk urusan Timur Tengah pada Dewan Keamanan Nasional AS. Sebelumnya, ia adalah seorang ahli kontraterorisme di Departemen Luar Negeri AS Bagian Perencanaan Kebijakan, dan sebelum itu ia menjabat sebagai seorang analis senior CIA selama delapan tahun.

Hillary Mann Leverett adalah CEO Strategic Energy and Global Analysis (STRATEGA), sebuah konsultan risiko politik. Pada September 2010, dia menjabat sebagai dosen dan peneliti senior pada Yale University’s Jackson Institute for Global Affairs.