Apr 29, 2011

Sekilas tentang “The Palestine Papers”

Dokumen ini mencatat ratusan pertemuan antara para pejabat, pemimpin, dan politisi Otorita Palestina, Israel, dan AS. Dokumen ini juga meliputi sejumlah besar email dan “proposal rahasia” berkaitan dengan “perundingan status akhir”.

Dokumen paling awal berasal dari tahun 1999 dan yang terakhir adalah memo pada September 2010. Sebagian besarnya fokus pada Konferensi Annapolis pada 2007.

Sebagian besar dokumen adalah catatan yang utamanya berasal dari “Negotiation Support Unit (NSU)”, yang secara penuh didanai oleh Pemerintah Inggris untuk membantu pihak Otoritas Palestina. Beberapa dokumen lain berasal dari aparat keamanan Otorita Palestina.

Semua dokumen ditulis dalam bahasa Inggris karena ini adalah bahasa resmi yang digunakan oleh pihak Israel dan Otoritas Palestina selama negosiasi berlangsung.

Isi “The Palestine Papers”


Dokumen ini mengungkapkan rincian negosiasi dan menawarkan wawasan yang unik mengenai negosiasi tersebut, proses perdamaian, dan pada akhirnya, kegagalan negosiasi itu hingga kini.

Dokumen ini mengungkapkan kesediaan pihak perunding Palestina untuk menerima pencaplokan Israel atas semua—kecuali satu pemukiman—wilayah Yerusalem Timur. Hal ini akan menciptakan kesepakatan “Yerusalem terbesar” dalam sejarah andai Israel tidak menolak tawaran itu.

Pihak perunding Palestina menawarkan konsesi besar terkait hak pulang pengungsi Palestina. Sebuah tawaran yang mencederai hak mutlak pengungsi Palestina dan mengingkari hukum internasional.

Dokumen ini juga mengungkapkan peran sentral dari Dinas Intelijen Rahasia Inggris (MI6) dalam rencana untuk menghancurkan Hamas di dalam Wilayah Pendudukan Palestina.

Dokumen ini juga mengungkapkan bahwa pihak Otorita Palestina di bawah pimpinan Mahmoud Abbas mengetahui rencana agresi Israel atas Jalur Gaza pada 2008-09 (Operation Cast Lead) yang membunuh lebih daripada 1400 warga Gaza.

Apa Makna dari “The Palestine Papers”?


Pihak Otoritas Palestina terungkap sebagai perunding yang lemah dan cepat putus asa. Ini dilihat dari konsesi-konsesi yang mereka tawarkan; konsesi-konsesi yang mencederai hak mutlak bangsa mereka sendiri dan mengingkari hukum internasional.

Dokumen ini menunjukkan bahwa pihak Otorita Palestina sama sekali tidak mewakili aspirasi mayoritas rakyat Palestina.

Dokumen ini mengungkap rencana Inggris untuk menghancurkan Hamas, yang pada gilirannya merusak hasil pemilu demokratis tahun 2006 yang mengantarkan Hamas kepada tapuk pemerintahan.

Dokumen ini mengungkapkan permintaan Israel agar pihak Palestina menawarkan berbagai konsesi, yang anehnya semua itu justru kemudian ditolak oleh Israel karena dipandang “tidak memadai”.

Posisi Israel dalam negosiasi didukung oleh pemerintah AS, yang menyarankan Israel untuk menolak sejumlah konsesi Palestina.

Dokumen ini memperlihatkan bahwa AS dan Inggris yang terlibat dalam negosiasi telah bersikap bias kepada Israel. Secara khusus, dokumen ini juga menunjukkan bahwa utusan Kuartet Timur Tengah Tony Blair sendiri bias kepada Israel.

Sumber: shvoong.com

Apr 26, 2011

I-Phone dan Android Memata-matai Anda

Berita-berita, di antaranya dari The Wall Street Journal, melaporkan bahwa I-Phone buatan Apple serta sistem operasi ponsel Android produksi Google telah melacak lokasi berikut aktivitas internet dari penggunanya secara tidak sah.

Menurut sejumlah analis keamanan teknologi informasi, semua data itu disimpan dalam sebuah file tersembunyi yang tidak terenkripsi pada perangkat ponsel. Apple dan Google juga secara rutin melacak menara selular dari perangkat ponsel berikut data GPS tanpa sepengetahuan pengguna. Yang lebih parah lagi, Apple dan Google sangat mungkin bisa melacak data lokasi secara langsung ke perangkat ponsel yang Anda gunakan.

Lalu, mengapa semua itu dilakukan, dan siapakah pengguna terakhir dari data-data tersebut. Yang pasti hanya Apple dan Google yang tahu? Sejauh ini komentar dari kedua perusahaan tersebut masih standar. Mereka menyatakan bahwa pengumpulan data itu dilakukan untuk meningkatkan pelayanan, dan disimpan secara anonim, atau tidak secara spesifik merujuk kepada individu tertentu.

Pengungkapan praktik tidak biasa ini mengundang Senator AS Al Franke (Minnesota) dan Jaksa Illinois Lisa Madigan untuk menuntut Apple dan Google memberikan informasi lebih rinci soal lokasi penyimpanan data dan pengguna terakhir dari data yang mereka kumpulkan.

Sementara itu, mantan analis informasi di Badan Keamanan Nasional AS NSA (National Security Agency), Wayne Madsen, mengungkapkan bahwa NSA sudah sejak lama menggunakan perangkat-perangkat buatan Apple dan Google sebagai perangkat "mata-mata" mereka. Madsen yakin bahwa penerima akhir dari data lokasi dan internet yang dikumpulkan Apple dan Google adalah NSA.

Madsen mencontohkan bagaimana pada era 1990-an Menteri Pertahanan Inggris menemukan delapan akses "pintu belakang" berbeda pada Windows 98, dan sekuel-sekuelnya, yang digunakan sebagai OS pada tank-tank dan sistem peperangan Inggris. NSA, menurut Madsen, memang selalu memiliki akses "belakang" kepada setiap produk TI buatan negara Paman Sam tersebut.

Sumber: shvoong.com